Catatan Oase Kehidupan #203: Kotak Pandora Itu Bernama Meikarta

0
75
Foto proyek meikarta diambil dari pikiran rakyat

KLIKMU.CO

Oleh: M isa Anshori*

Antara Bekasi dan Surabaya, Meikarta bercerita. Begitu digdayanya Meikarta, meski ijin diduga belum ada, tapi Meikarta begitu perkasa, tak hirau akan suara yang ada, Meikartapun semakin menggurita menyandera pemilik kuasa. Meikarta adalah pesona fatamorgana, ” Aku suka tinggal di Meikarta “, begitulah Meikarta menjual pesonanya. Tak pelak syahwat kuasa pun meronta, merebahkan diri dalam pijakan sang pemilik pesona.

Meikartapun menjadi ladang menanam dan memanen pundi pundi harta pusaka. Meikarta adalah ladang ” Qarun ” yang terhampar memaksa nalar mengais liar. Lupa akan senyapnya doa dan janji pusaka mengapa harus membenam orba membuncah semangat reformasi yang kini semakin basi.

Tak jelas jenisnya, aktifis dan reformis bermertamorfose dengan kekuatan jaringan feodal penunggang reformasi. Membual dalam kosakata perubahan, mengukir aksara kepalsuan dengan gaya dan retorika seolah pemilik orde pengganti. Orde baru dilabel menjadi musuh , sementara jiwa penebar ditaburi dengan buliran buliran perangai durjana yang dimusuhi. Ya … orde baru yang dituduh kini menjelma menjadi orde yang melawan orde reformasi yang mengusung kebusukan yang pernah bersemayam dipelataran nafsu orde baru.

Reformasipun diragukan seiring dengan semangat bermertamorfosenya aktifis menjadi kekuatan pragmatis. Bersama birokrasi mereka mengais ngais timbunan angka angka uang yang mendiami kantong sang pemilik birokrasi dan aktifis.

Bekasi dan Surabaya, Bupati bekasi dan kawan yang dulunya aktifis merasakan manisnya menyusu pada tirani hitam penghayal masa depan. Meikartapun mengalami antiklimaksnya, sebagaimana reklamasi di Jakarta. Ketika KPK menyasarnya, ternyata ibu bupati yang begitu digdayanya, tersungkur tak berdaya. Padahal kitapun mahfum dan tahu, betapa kuasanya ibu bupati ketika menghadapi rakyatnya yang bernama pegawai honorer, ” Kalau saya nggak mau tanda tangan, anda mau apa? Begitulah ucap Ibu Bupati kepada rakyatnya pencari kerja.

Layu sudah Meikarta dalam dekapan KPK. Surabaya menjadi saksi betapa dahsyatnya hamparan Meikarta menyasar relung relung pemburu khayalan Meikarta. Kawan yang saya kenal memiliki prinsip dan terlabelkan sebagai aktifispun rapuh ketika berdiri dihadapan sang pemilik meikarta penggoda.

KPK pun mulai merangsek. Menghujam menembus relung relung para pemilik ijin kuasa. Kini semua bisa menjadi kunci pembuka kotak pandora. Ataukah demi menjaga hamparan benih yang ditabur, mereka diam seribu bahasa.

Meikarta tak lagi sebagai hamparan tanah pesolek penjaga ruang tanah pemilik kuasa. Meikartapun pupus menjelang hempasannya. Hamparan nan hijau itu kini terlihat buram mendekam dalam suasana hati yang geram.

Meikarta bangkitlah, bukankah engkau dulu begitu digdaya, saya yakin, kalian adalah pemilik fakta dan kuasa. Tebarkan fakta sehingga rakyat tahu siapa yang mengais harta dalam keheningan sang pencari kerja. Meikarta keluarkan kunci kedigdayaanmu dalam situasi merengkuh sirna massa.

Kawan aktifis terjebak, ungkapkanlah fakta, jangan kau tutupi nokta pembuka hamparan merah kolusi, korupsi dan nepotisme. Zaman telah berbalik arah, bukankah kalian ini asalnya adalah berjiwa merdeka. Nah kawan ditengah kegundahan hati atas namamu, kami berharap bisa mengalunkan lagu dendang perlawanan reformasi yang sama sama pernah kita perjuangkan. Maka saya yakin diatas semangat juangmu, kalian tak surut nyali membuka kotak pandora kenaifan Meikarta.

Nah kawan… Kali ini Kamu hanyalah tak beruntung saja, mereka yang tak terjamah oleh KPK, akan semakin mengorbankan anda, maka tak ada pilihan bagi kalian kecuali hidup atau mati dalam kebinasaan. Maka sayapun menunggu lantang suaramu sebagaimana kalian ketika membakar semangat reformasi 1998.

Semoga nyalimu masih ada ataukah kini engkau menjelma sebagai anjing penjaga.

Surabaya, 22 Oktober 2018

*Pengamat Sosial

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here