Catatan Oase Kehidupan #205: Ironi Indonesia

0
58
Foto berdoa untuk Indonesia diambil dari Inspirasi Indonesia

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Setiap manusia tentu dibekali dengan kemampuan berpikir dan bertindak yang baik, karena pada dasarnya kebaikan itu merupakan takdir yang menyertai penciptaan manusia. Namun sayangnya manusia kadang tak sabar menjalani sebuah proses, sehingga seringkali melakukan sesuatu yang justru mengganggu perjalanan baik yang dirintisnya.

Manusia memang sangat tergesa gesa dalam bertindak dan ketergasahan itulah yang justru akan membinasakan sebuah proses baik yang dirintis. ” Sesungguhnya manusia itu sering tergesa gesa “, begitulah Allah mengingatkan kita semua. Bijak dan berpikir jernih adalah keniscayaan yang diharapkan kalau kita menginginkan situasi yang ” mawaddah wa rahmah “, situasi yang diibaratkan sebagai sebuah situasi yang damai dan diberkahi.

” Mawaddah wa rahmah ” yang dituliskan oleh Allah dalam kitab suci Al Qur’an merupakan sebuah perjanjian agung membangun sebuah peradaban bahwa kita adalah satu, kita adalah sama, kita bisa saling melengkapi ditengah kekurangan dan kelebihan yang dimiliki, sehingga menimbulkan sikap saling percaya, sikap saling menasehati. Ada sikap kerendahan hati dan sikap memberi ruang untuk menerima meski ada perbedaan. Sikap inilah yang kemudian dipertegas lagi dalam Al Qur’an, bahwa pengikatan diri dalam sebuah ” keluarga ” apapun namanya, keluarga organisasi, keluarga berbangsa dan keluarga bernegara maka janganlah kalian saling melemahkan dan memfitnah serta mengembangkan dugaan dugaan yang tak jelas berdasar cara berpikir yang tak sesuai dengan maksud sebenarnya, sehingga cenderung memfitnah, ” Sukakah kalian memakan daging bangkai? Sesungguhnya mengembangkan dugaan salah kepada saudaramu itu adalah dosa, setiap muslim itu bersaudara.

Terjadi ironi perilaku kita sebagai bangsa dalam menerapkan apa yang menjadi syarat kuatnya ” mawaddah wa rahmah “. Ternyata perilaku kita seringkali melakukan hal hal paradoks. Hal yang berbanding terbalik dengan yang diucapkan. Kita sering angkuh dengan pendapat sendiri, dan cenderung menjadikan orang lain tertuduh dari kesesatan berpikir kita. Kesesatan cara berpikir itulah yang saya sebut sebagai ironi membangun keluarga Indonesia.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia ironi dimaknai sebagai iro┬Ěni:

Pertama. kejadian atau situasi yang bertentangan dengan yang diharapkan atau yang seharusnya terjadi, tetapi sudah menjadi suratan takdir, peristiwa pembunuhan Mahatma Gandhi adalah suatu ironi karena ia adalah seorang pejuang tanpa kekerasan yang paling gigih;

Kedua. Majas yang menyatakan makna yang bertentangan dengan makna sesungguhnya, misalnya dengan mengemukakan makna yang berlawanan dengan makna yang sebe-narnya dan ketidaksesuaian antara suasana yang diketengahkan dan kenyataan yang mendasarinya.

Nah bukankah kita semua seringkali melakukan perilaku ironi hasil dari kesesatan berpikir kita? bukankah kesesatan berpikir itu dipengaruhi oleh sebuah pengalaman masa lalu yang menyertai perjalanan hidup kita? Maka berhentilah bersesat pikir kalau kita membutuhkan sebuah organisasi dan bangsa yang mawaddah wa rahmah.

Memusuhi orang hanya berdasar cara berpikir kita yang sesat adalah kesesatan. Memperlakukan orang lain hanya berdasar pengalaman kita merupakan lubang kubur yang akan membenam kebersamaan.

Nah kawan apa yang terjadi pada sahabat sahabat banser dengan menyamakan lambang Tauhid dengan kebenciannya terhadap HTI dan kemudian membakarnya lambang Tauhid, bagi saya merupakan kecelakaan berpikir dan kehilangan akar berbangsa dan bernegara Indonesia, bukankah kita sebagai bangsa sudah bersepakat dengan Bhineka Tunggal Ika? Tidak boleh kita saling melemahkan apalagi saling memfitnah dan menindasnya. Tak bisa membangun Indonesia dengan kekuatan kelompok sendiri, membangun Indonesia harusnya bersama sama, begitulah Soekarno menjelaskan bahwa inti sari dari Pancasila adalah Gotong Royong.

Berpikir bijak, jernih dan menghargai perbedaan adalah langkah membangun bangsa yang mawaddah wa rahmah.

Surabaya, 24 Oktober 2018

*Pengamat Sosial

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here