Catatan Oase Kehidupan #206: Ketika Fir’aun Bertipu Daya

0
63
Foto ilustrasi fir'aun diambil blogger kan

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Nampaknya semakin menunjukkan kualitas keangkuhannya, demi mempertahankan kesalahn yang sudah dilakukannya, Fir’aun mencari dalih pembenar atas perbuatannya. Kekuasaan dan singgasana telah melupakan jati dirinya sebagai raja, Fir’aun tak hanya memperbudak rakyatnya, tapi juga memerintahkan rakyat untu bersimpuh tunduk menempatkannya sebagai ” tuhan ” penyelamat kehidupan rakyatnya.

Maka dia siapkanlah seluruh perangkat penutup kesalahannya, agar tak ada celah bagi siapapun mempersoalkan penempatan posisinya sebagai ” tuhan ” dan raja. Dia perintahkan semua balatentaranya untuk mengejar dan menangkap siapapun yang mengancam ” kedudukan ketuhanannya “. Tak ada lagi bagi Fir’aun logika sehatnya. Dia aduk aduk logika rakyatnya yang benar jadi salah dan sebaliknya yang salah menjadi benar. Bagi Fir’aun kebenaran itu adalah dirinya dan pengikutnya.

Demi memperkuat ambisinya, Fir’aun pun memerintahkan para pembantunya untuk berbohong tanpa merasa berbohong. Maka dia datangkanlah para tukang bohong kelas dunia untuk melatih para pembantunya yang terdiri dari para menteri dan aparat serta para pendukung loyalnya. Hasilnya memang luar biasa, Fir’aun mampu menciptkan pembohong yang luar biasa kehilangan urat malunya.

Ketika kebohongan Fir’aun dan para pembantunya semakin mengintimidasi masyarakatnya, Musa yang dibesarkan di iatana merasakan kegundahan yang sangat dalam. Setelah menjalani masa masa penempahan diri di bukit Thursina bersama Harun, Musa diperintahkan untuk mengingatkan Fir’aun agar tidak menyebarkan teror kebohongan dan intimidasi kepada rakyatnya. Apa yang dilakukan oleh Fir’aun beserta para pendukungnya sudah melewati ambang batas yang bisa mengundang bencana bagi rakyat dan bangsanya.

Bersama Harun, sampailah Musa ke istana Fir’aun dan mengingatkan bahwa diatas kekuasaan yang dia genggam masih ada Yang Maha Kuasa, yaitu Allah Tuhan semesta alam. Mendengar peringatan yang disampaikan Musa, maka Fir’aun yang memang ahli dalam tipu daya dan bohong membohongi, mulailah menebar logika kebohongan nya. Hal pertama yang dilakukan adalah membangkitkan memori Musa kembali saat dia bersamanya diistana. Hal yang ingin dibangun Fir’aun kepada Musa, agar Musa merasa “Sungkan ” atas kebaikan Fir’aun ketika merawatnya sejak kecil. Namun logika kebenaran dan nalar kebenaran hakiki yang dimiliki, menjadikan Musa mampu memisahkan antara balas budi dan tugas kebenaran dalam rangka menyelamatkan bangsanya dari kehancuran.

Ketika jurus pertama tak mampu mempengaruhi perasaan Musa agar ” sungkan ” terhadap kebaikan Fir’aun, maka dia tebarkan jurusan lanjutan dengan mempertanyakan dalil bukti apa yang bisa meyakinkan bahwa ada tuhan selain dirinya. Maka ditunjukkanlah Musa atas Tuhan yang sebenarnya yaitu Tuhan yang bisa menghidupkan dan mematikan. Berhentikah Fir’aun dari kebohongannya? Tidak, bahkan Fir’aun pun semakin menjadi jadi dengan ambisi kebohongan dan kekuasaannya.

Maka dia kumpulkan seluruh tukang sihir terbaik dinegerinya untuk membungkam kebenaran yang dibawah oleh Musa dan Harun. Dia perintahkan para tukang sihir untuk melemparkan jerat kebohongan agar menjadi ular ular pemangsa kebenaran yang dibawah oleh Musa dan Harun. Musapun membalasnya dengan dialektika yang digunakan oleh Fir’aun dan para penyihirnya, lalu dia lemparkan tongkatnya dan kemudian menjadilah seekor ular yang besar dan memangsa ular ular kebohongan Fir’aun dan para penyihirnya.

Fir’aunpun semakin marah akan kecerdasan Musa untuk mengancurkan logika palsu kebenaran yang dibangunnya. Demi mempertahankan marwah dirinya agar tidak kelihatan bohong, maka dia perintahkan aparatnya untuk memburu Musa dan para pengikutnya. Dia perintahkan pula kepada para pendukungnya untuk membakar apapaun atribut yang melambangkan ajaran ajaran yang dibawah oleh Musa , Fir’aunpun tak segan mencekoki masyarakatnya dengan informasi bohong dan logika sesat agar terlihat benar.

Ketika pada ambang batas yang memang sudah tak bisa ditolerir kebohongan dan logika sesat yang disebarkan, maka Tuhanpun memerintahkan kepada laut untuk menggulung Fir’aun dan bala tentaranya, dan konon disaat menjelang ajal kehancurannya, Fir’aunpun mengakui kalimat Tauhid yang pernah dibakar dan dicampakkannya.

Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan dan logika pikir yang salah. Serta menjadikan kita semua khusnul khotimah.

Surabaya, 25 Oktober 2018

*Pengamat Sosial

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here