Catatan Oase Kehidupan #210: Ketika Barat Menebar Kebencian Kepada Sultan Sulaiman Al Qanuni

0
78
Ilustrasi diambil dari Hero Muslim

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Sejarah Kerajaan Turki Utsmani begitu mendapat perhatian dari banyak kalangan. Begitu banyak tersebar tulisan-tulisan sejarah yang mengisahkan tentang perjalanan kerajaan terbesar di abad pertengahan ini. Selain sejarawan Islam, orang-orang Barat dan sekuler pun tidak ketinggalan ikut serta menggoreskan pena mereka berkisah tentang kerajaan Islam ini. Bahkan karya sejarawan Barat tentang Turki Utsmani adalah yang terbanyak dibanding dengan tulisan mereka tentang fase sejarah Islam lainnya. Namun, trauma dan emosi tidak bisa mereka sembunyikan dari karya-karya tersebut. Seperti John Freely –sejarawan Barat yang banyak menulis tentang Turki-, ia mencitrakan Sultan Muhammad al-Fatih adalah seorang yang arogan, emosional, dan keras kepala dalam bukunya The Grand Turk. Demikian juga Roger Crowley dalam bukunya 1453 The Holy War for Constantinople and the Clash of Islam and the West, secara tersirat menampilkan penguasa-penguasa Turki adalah orang-orang yang haus kekuasaan dan kejam, dll. Dominasi karya tulis ini diharapkan agar sejarah Turki Utsmani berjalan di atas manhaj (metode dan sudut pandang) mereka.

Di antara raja Turki Utsmani yang menjadi perhatian orang-orang Barat dan sekuler adalah Sultan Sulaiman al-Qonuni. Selain al-Fatih, Sultan Sulaiman adalah salah seorang khalifah Utsmani yang mampu menampilkan kewibawaan Islam di tengah dunia Barat. Sultan Sulaiman berhasil membawa Turki Utsmani mencapai masa keemasan dan kekuatan. Menjadi pusat peradaban dan ilmu pengetahuan. Negara yang memiliki kekuatan ekonomi, militer, dan pengaruh. Dan menyebarkan Islam di tanah Eropa. Sehingga orang-orang Barat dan sekuler tidak akan membiarkan sejarah keberhasilannya langgeng di tengah umat Islam. Perlu dicari celah untuk menampilkan sisi negatifnya agar kewibawaannya tercederai. Dan harus dibuat tandingan agar image-nya jatuh.

Lalu apa yang dilakukan oleh barat?

Syarif Abdul Aziz az-Zuhri mengisahkan:

Pada tahun 1923 M, dunia Islam berduka dengan runtuhnya kekhalifahan Islam Turki Utsmani. Orang-orang Nasrani Eropa bersuka cita dan berpesta atas kemenangan mereka. Salah satu bentuk pesta dan perayaan yang mereka gelar adalah mengadakan kontes kecantikan wanita di Kota Ankara, ibu kota kekhilafahan Turki Utsmani. Seorang wanita dari kalangan sekuler Turki yang bernama Keriman Halis turut serta dalam kontes ini. Dalam kontes tersebut, Keriman diharuskan mengenakan bikini saat melenggak-lenggok di atas panggung acara. Dan itu adalah untuk pertama kalinya dalam sejarah Turki, putri bangsa mereka turut serta dalam kontes pamer aurat wanita ini.

Saat melihat Keriman berjalan di catwalk, pimpinan dewan juri melontarkan kata-kata yang menunjukkan ekspresi kepuasan sekaligus kebencian agama yang begitu mendalam dalam jiwa orang-orang Eropa terhadap kekhilafahan Utsmani. Ia berkata, “Tuan-tuan anggota dewan juri, sungguh seluruh daratan Eropa hari ini tengah bersuka cita atas kemenangan orang-orang Nasrani. Kekuasaan Islam yang telah berlangsung sejak tahun 1400 M, berakhir sudah. Keriman Halis, ratu kecantikan Turki, telah berdiri di hadapan kita sebagai perwakilan wanita muslimah. Inilah dia, anak keturunan dari wanita muslimah yang (dulunya) terjaga, menampakkan diri di hadapan kita. Harus kita akui, dialah mahkota kemenangan kita”.

Sang ketua juri kembali melanjutkan ekspresi kepuasannya dengan mengatakan, “Suatu hari, Sultan Sulaiman al-Qonuni pernah merasa terusik dengan munculnya tarian dansa di Prancis yang bertetangga dengan kerajaannya. Ia pun mengambil sikap untuk menghentikan hal itu. Karena ia khawatir budaya itu masuk ke wilayahnya (memberi pengaruh kepada rakyatnya pen.). Inilah dia, Keriman Halis, cucu dari sang sultan yang muslim itu berdiri di hadapan kita dengan mengenakan bikininya. Ia ingin agar kita takjub dengan dirinya. Kita katakana kepadanya, ‘Ya, kita takjub akan dirinya’, dengan harapan di masa mendatang remaja-remaja muslimah berjalan di atas hal yang kita inginkan. Mari bersulang atas kemenangan bangsa Eropa”. (selesai kutipan dari makalahnya Limadza Sulaiman al-Qonuni? Wa Limadza al-Harim?)

Nah apa yang terjadi didunia barat dalam memperlakukan Islam, mencerminkan sikap kolonialis yang menganggap Islam itu rendah dan perlu dicarikan upaya untuk merendahkan. Relasi antara barat dan Islam yang merendahkan pun kemudian menjalar pada bangsa Indonesia yang mayoritas muslim dan dianggap sebagai sebuah ancaman. Maka melalui berbagai upaya agar mampu menjadikan Islam sebagai sebuah parodi kerendahan selalu diciptakan.

Gagasan sekularis dan persamaan hak serta kebebasan mulai disuarakan, dan itu mendapat sambutan yang luar biasa dari para pemuja kebebasan dan para phobia terhadap Islam. Upaya mereduksi Islam menjadi sesuatu yang sepit tak segan dilakukan, mulai menstigma gerakan ketaatan sebagai benih terorisme, penggunaan lambang tauhid sebagai HTI bahkan mengadu domba antara Islam dan tradisi tak segan dilakukan.

Pada akhirnya Islam akan semakin ditekan, kehidupan beragama semakin tak nyaman, karena kebenaran mereka dipaksakan. Indonesia adalah negara yang menghargai kebhibekaan, maka sudah saatnya memulai kembali Indonesia yang beragam ini dengan upaya postkolonialis yang seimbang.Memberi ruang yang adil dalam bernegara kepada semua secara proporsional adalah sebuah keniscayaan.

Ditengah Sumpah Persatuan yang didengungkan, 90 tahun yang lalu Indonesia diikatkan. satu Tanah air, Satu bangsa dan satu bahasa yaitu bahasa Indonesia. Maka jadilah Indonesia yang sejati menyatu dengan ke Indonesiaan yang menghargai dan menghormati, bukan Indonesia yang menjajah rakyatnya dengan kebohongan dan ketidak adilan.

Sumber : diolah dari kisahmuslim.com

Sampang, 29 Oktober 2018

*Essays dan tinggal di Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here