Catatan Oase Kehidupan #212 : Sekolah Hebat, Desa Hebat

0
63
Foto cover buku desa kuat Indonesia henat diambil dari tokopedia

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Saya merasa bersyukur bisa menjadi bagian dari sebuah kegiatan pendampingan sekolah melalui kegiatan visitasi. Adalah BAN S/M Jatim yang memberikan tugas pendampingan itu. Dengan begitu saya bisa tahu seperti apa penyelenggaraan pendidikan dibeberapa tempat.

Sampang adalah daerah tujuan yang menantang, disana saya banyak menjumpai kehebatan masyarakat desa dalam menyelenggarakan pendidikan. Ada 6 sekolah yang mesti harus saya kunjungi untuk memetakan keadaan sekolah. Saya membayangkan jarak sekolah satu dengan sekolah yang lainnya sebagai jarak yang mudah ditempuh dan relatif dekat. Jalan mulus dengan gedung gedung layak adalah bayangan yang menghiasi benak saya.

Bayangan saya tiba tiba sirna ketika hanya ingin menjangkau sekolah sasaran saya harus menempuh jalan berjarak antara 50 – 70 Km dari desa satu ke desa yang lainnya untuk menuju sekolah sasaran. Lokasi sekolah berada disebuah dusun yang berkelok kelok dibalik hutan dan gunung berkapur. Jalan terlihat kering dan tandus, seperti hamparan salju yang membentang. Jalan berwarna putih, karena terbuat dari hamparan bebatuan gunung kapur. Saya tak mampu membayangkan betapa sulitnya medan ditempuh bila musim hujan.

Adalah Pak Syaiful, anak muda yang menjadi kepala sekolah Hidayatul Ihsan. Sebuah sekolah terletak didesa Bappele, Robbatal, Kabupaten Sampang. Sekolah satu satunya yang ada didesa tersebut, sebelum menuju sekolah lainnya yang berjarak cukup terjal. Sekolah dengan tiga ruang kelas dan ruang guru serta kepala sekolah yang menempati salah satu ruangan rumah, dengan jumlah murid sekitar 42 siswa mulai dari kelas 7 sampai dengan kelas 9.

Kondisi ruang kelas yang hampir roboh dan lantai yang sudah mengelupas, mungkin jauh dari layak, namun disanalah saya belajar tentang sebuah pengabdian tulus membangun anak anak bangsa. Pak Syaiful adalah guru sukwan, dengan jarak rumah sejauh 40 Km dari tempat mengajarnya, dia harus jalani setiap harinya sebagai sebuah pengabdian.

Beliau lewati jalanan dengan hamparan bukit kapur yang gersang, tak ada keluh dalam pengabdian. Saya mencoba bertanya kepada beliaunya, apa sejatinya yang dicari dari medan pengabdian seperti ini? ” Kalau uang, mungkin tak akan mencukupi, tapi ada satu hal yang membuat saya bangga menjalani profesi ini adalah saya dan kawan kawan guru serta yayasan menyediakan akses mudah demi terjangkaunya pendidikan bagi anak anak didesa ini.” Kata beliaunya. ” Kemana lagi mereka akan belajar ? Kalau tidak ada tempat belajar ini? Akan seperti apakah mereka kalau mereka tidak mempunyai kesempatan belajar? Tanya beliaunya.

Ada sedikit kebanggaan bahwa saya menemukan orang orang hebat yang sedang berjibaku menyiapkan masa depan anak anak melalui proses belajar. Cukup banyak saya jumpai Syaiful Syaiful lain, yang melakukan medan pengabdian ditempat terpencil dan kurang layak. Saya menjadi sangat malu terhadap apa yang saya lakukan selama ini. Dibanding mereka diladang pengabdiannya, saya bukan apa apa dan bukan siapa siapa. Maka tak elok kalau kemudian kedatangan saya lalu membuat penilaian terhadap upaya kerja yang mereka lakukan selama bertahun tahun.

Pemerintah belum hadir secara fisik kesana, terbukti ruang kelas mereka dan gedung belajar mereka, tak pernah mendapatkan sentuhan bantuan dan subsidi. Dengan situasi seperti ini, akankah lahir generasi hebat dari sini? Tentu agak sulit diharapkan. Namun saya yakin kesungguhan mereka akan mampu mengalahkan keterbatasan yang ada.

Saya jadi teringat kisah Ismail yang dibesarkan dalam suasana yang serba terbatas. Namun dengan kesungguhan Siti Hajar Sang Ibu, ternyata Ismail tumbuh menjadi anak yang cerdas dan jujur. Dalam kerendahan hati yang saya miliki, sayapun berkata kepada anak anak tentang arti sebuah keterbatasan. Saya sampaikan kepada anak anak, hari ini memang kita semua sedang menghadapi masa perjuangan menuju masa depan yang baik. Bukankah kalian semua punya cita cita? Cita cita kita akan dengan mudah bisa tercapai bila tiga hal kita pegangi, ketiga hal itu adalah ridho orang tua, ridho guru dan ridho teman.

Belajar akan menjadi sukses bila kita semua diridhoi orang tua, diridhoi guru dan diridhoi teman. Sebagai penutup perjumpaan saya dengan Pak Syaiful dan anak – anak, kelak saya ingin menyaksikan yang akan menjadi bupati Sampang ada yang berasal dari kalian semua…

Desa Babelle, Kec Rohbatal, Sampang,
31 Oktober 2018

*Essays, tinggal di Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here