Catatan Oase Kehidupan #213 : Ketika Pasukan Panah di Bukit Uhud Terbelah

0
83
Foto ilustrasi perang uhud diambil dari SKI FK UNRAM

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Perang Uhud merupakan perjalanan perang yang memilukan, betapa tidak disaat kemenangan sudah didepan mata, tiba tiba sebagian pasukan panah Rasulullah tergiur dengan harta yang ditinggalkan oleh kaum Quraisy. Maka turunlah mereka dari bukit dan meninggalkan pos pertahanan.

Menyaksikan pasukan panah meninggalkan pos pertahanannya dan berlomba berebut harta rampasan perang, Khalid Ibnu Walid yang kalah itu belum masuk Islam, memerintahkan pasukannya untuk merebut pos pertahanan bukit, maka naiklah mereka dan merebutnya. Situasi berbalik, dari bukit uhud itulah kemudian memukul balik pasukan Islam, sehingga menimbulkan korban yang begitu besar dan kekalahan pada pasukan muslim. Konon Nabipun juga terluka bahkan disebutkan sampai giginya ada yang tertanggal akibat serangan pasukan Quraysi.

Kisah heroisme perang uhud dan kemenangan yang hampir diraihnya sejatinya sebuah pelajaran yang bisa diambil sebagai teladan. Namun sayangnya kita tidak selalu bisa menjadikannya sebagai sebuah pelajaran. Kita masih mudah dipecah belah kekuatan musuh dengan imbalan imbalan yang menggiurkan.

Nah apa yang terjadi pada aksi bela tauhid setidaknya menyiratkan pesan bahwa heroisme pembelaan tauhid yang sejatinya menggetarkan pertahanan ” lawan “, namun sayangnya masih ada sebagian yang lain justru melawan dan merendahkan aksi bela tauhid. Bahkan ada juga yang mencoba menggembosi dengan pernyataan pernyataan yang justru menyiratkan kepentingan lawan.

Aksi bela tauhid yang terjadi di Jakarta dan dibeberapa daerah lainnya, sayangnya tidak terjadi di Surabaya. Saya menyaksikan sendiri semangat ummat yang luar biasa pembelaannya terhadap bendera Tauhid di Surabaya, tiba tiba tak ada gaungnya. Para mujahid yang sudah berkumpul dihalaman Masjid Al Akbar Surabaya, dengan peralatan bendera tauhidnya, tak ada kejelasan kapan akan dikomando bersama sama melantunkan sholawat dan pekik takbir sebagai pengagungan terhadap keyakinan tauhidnya.

Rencana bersholawat dan menyuarakan pekik takbir dan mengibarkan bendera tauhidnya berubah menjadi aktivitas ” reuni ” para aktivis keislaman dan dakwah. Mereka hanya berdiskusi dan saling bercanda, sambil menikmati bekal yang sejatinya dipersiapkan untuk logistik peserta aksi. Konon kabarnya ada diantara tokoh mereka keberatan bertanggung jawab bila terjadi hal yang tidak diinginkan. Rasanya ini adalah hal yang tidak biasa terjadi, seorang tokoh ummat berkeberatan bertanggung jawab atas akibat aksi. Tapi biarlah itu terjadi, bukankah sejarah akan selalu berulang dan yang membedakan adalah pelakunya.

Saya jadi teringat akan kisah heroik semangat bertanggung jawab dan melindungi antar sahabat Nabi dalam perang Uhud, meski pada akhirnya mereka harus mendapatkan sahidnya.

Perang uhud telah berakhir. Tapi belum semua korban yang jatuh ditemukan jenazahnya. Sehingga petang itu Sahabat Umar bin Khatthab sengaja pergi ke Bukit Uhud untuk mencari mereka, barangkali masih ada yang bisa diselamatkan.
<>
Ketika itu tiba-tiba Umar mendengar ada suara memanggil-manggil nama Allah sambil minta seteguk air. Buru-buru Umar melangkah mendatangi tempat suara itu. Dijumpainya seorang prajurit Muslim yang masih muda umurnya dengan luka parah yang mengerikan. Pemuda itu minta minum.

Umar segera berjongkok dan mengangkat kepala pemuda itu. Ia sudah mendekatkan buli-buli airnya ke mulut prajurit tersebut. Sekonyong-konyong dari arah yang lain terdengar suara seorang menyebut-nyebut nama Allah, yang juga minta minum karena kehausan. Pemuda tadi memberi isyarat kepada Umar bahwa ia mengurungkan permintaanya untuk minum dan menyuruh agar Umar memberikan airnya kepadaorang yang memanggil-manggil barusan, barangkali ia lebih membutuhkan air daripadanya.

Maka pemuda tersebut dibaringkannya kembali, dan Umar bergegas menuju suara yang kedua. Tiba di sana, dilihatnya seorang pejuang setengah tua, dengan kedua tangannya telah terkutung, memohon agar Umar bersedia memberinya minum. Bibirnya pecah-pecah, dan wajahnya penuh darah.

Dengan penuh rasa iba Umar mengangkat kepala orang itu. Ia segera menyodorkan tempat air ke mulutnya. Namun menjelang air itu menetes ke bibir korban perang yang kesakitan tadi, di seberang mereka terdengar suara memilukan berseru-seru:

“Allah… Allah…. Haus… Haus….”

Rupanya pejuang yang kedua ini juga mendengar suara tersebut. Maka ia menggelengkan kepala, menampik air yang hendak diberikan kepadanya. Dengan suara yang lirih hampir tidak tertangkap oleh telinga Umar, pejuang itu berujar, “Berikan air ini kepada saudaraku itu. Mungkin ia lebih menderita daripada aku.”

Jadi Umar pun bangkit dan meninggalkan tempat itu menuju ke seberang. Di sana seorang tentara Islam yang usianya sudah lanjut tergolek tanpa daya. Pada waktu Umar berjongkok cepat-cepat untuk menolong orang ini, ternyata prajurit tua tersebut sudah keburu menghembuskan napas penghabisan.

Umar sangat sedih. Ia segera meninggalkan prajurit tadi dan tergopoh-gopoh berlari ke tempat prajurit yang termuda tadi memanggil-manggil Allah dan minta air.Sampai di sana, pemuda itu pun baru saja melepas nyawanya.

Umar kian sedih. Tapi ia tak membuang waktu. Ia bergegas kembali ke tempat prajurit kedua yang meminta pertolongan sesudah anak muda itu. Di sana pun pejuang yang menderita akibat keganasan perang tidak mampu lagi meneguk setetes air pun karena ia sudah meninggal dunia.

Umar bin Khatthab terpaku di tempatnya berdiri. Begitulah kecintaan sesama Muslim terhadap saudaranya, hingga ketiga-tiganya tidak ada yang sempat minum lantaran lebih mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri.

Surabaya, 3 November 2018

Disadur dari KH Aburrahman Arroisi, 30 Kisah Teladan, Bandung: Remaja Rosdaka, 1990

*Pengamat Sosial

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here