Catatan Oase Kehidupan #216: Mental Inferior dan Inlander

0
59
Foto ilustrasi diambilkan dari kaskus

KLIKMU.CO

Oleh:M Isa Anshori*

Inferior adalah sebuah perasaan tidak lengkap dan tidak sempurna, dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti sebuah perasaan rendah diri akibat merasa tidak sempurna. Perasaan inferior sejatinya akan membawa seseorang pada posisi inlander, posisi terjajah. Tidak mempunyai kebanggan atas dirinya, mudah tersinggung.

Perasaan rendah diri dan mudah tersinggung seringkali memang terjadi pada mental seseorang yang rendah diri dan terjajah serta lemah. Perilaku yang ditampilkan cenderung resistant terhadap apa yang dilakukan oleh orang lain. Mengembangkan curiga dan prasangka tidak baik terhadap apa yang dilakukan oleh orang lain, sehingga cara berpikirnya cenderung menghakimi, padahal apa yang dilakukan orang lain tidak bermaksud menyinggung atau menyakiti dia.

Kebalikan dari sikap mental inferior adalah superior. Superior adalah sikap merasa bangga terhadap apa yang dimiliki. Superior cenderung memiliki dan menguasai. Sehingga dalam setiap perilaku mental yang diberikan cenderung mendorong orang lain untuk bangkit dari keterpurukan. Superior dalam perilakunya cenderung menampilkan prestasi atas sesuatu yang dimiliki. Lebih terbuka dalam bersikap. Tidak mudah tersinggung atas apa yang dilakukan oleh orang lain, karena dia cenderung bisa melakukan apa yang dilakukan oleh orang lain.

Nah saya akan ilustrasikan seperti apa inferior dan superior. Setiap orang sepanjang hidupnya pasti akan memiliki kedua hal ini.. Bagaimana bisa begitu?

Supaya lebih jelas, saya akan berbagi sedikit tentang pengalaman saya..

Dulu saya adalah orang yang sangat sulit bergaul dan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Ditambah lagi saya merasa tidak percaya diri dan sulit menerima kekurangan diri sendiri. Pernah dengar istilah “kesepian di tengah keramaian”? Perasaan itulah yang sangat sering saya rasakan.

Hal-hal itulah yang membuat saya jadi sulit bersosialisasi. Perasaan-perasaan itulah yang disebut dengan inferioritas.

Pada akhir masa SMA saya baru sadar bahwa saya tidak bisa jadi seperti ini terus. Saya harus berubah karena hidup ini hanya sekali dan harus dinikmati sebaik mungkin. Pada saat itulah saya punya keinginan besar untuk berubah menjadi lebih baik. Keinginan inilah yang disebut dengan superior.

Saya yakin bahwa setiap orang pasti merasa memiliki kekurangan tertentu yang ingin diubah atau dihilangkan. Tapi rasa inferior tidak boleh terus dinikmati. Justru, rasa “tidak sempurna” itulah yang menjadi cambuk dan motifasi bagi diri kita untuk dapat menjadi superior dan menjadi sarana untuk dapat mencapai kualitas diri yang semakin baik.

kawan, perasaan inferior adalah sebuah sikap menutup diri dari kemajuan, yang pada akhirnya kita akan merasa terjajah. Saya akan beri contoh perasaan Superior supporter bola karena bangga terhadap kesebelasan kebanggaannya. Jargon ini saya kira selalu dimiliki oleh para supporter bola dimana saja, ada kebanggan terhadap kesebelasannya, karena merasa besar dan berjaya. Misalnya jargon supporter Persebaya, Bonek. ” nek aku bonek, koen ate lapo? “, saya kira ini contoh baik kebanggan dan mental superior.

Mental superior akan selalu membawa diri pada sikap ” going easy “, mental santai dalam menyikapi segala persoalan yang terjadi diluar. Mereka akan cenderung rasional bersikap, karena mereka bisa melakukan apa yang orang lain lakukan. Sebaliknya inferior akan menjadikan. Diri kita serba sulit, karena akan selalu menyikapi apa yang dilakukan oleh orang lain. Yang pada akhirnya kita jadi minim prestasi dan kaya akan sensasi.

Superior adalah perasaan bisa bersaing dan berprestasi, karena merasa diri bisa melakukan apa yang dilakukan orang. Ada kemerdekaan jiwa didalamnya. Saya teringat ketika bergaul dengan teman teman yang mempunyai kepercayaan diri yang kuat dan bermental egaliter meski superior. Suatu saat bergurau dengan gaya surabaya, ” koen iku ancene jancukan”, dijawablah dengan santai koen yo jancukan ngono “. Akhirnya diambil kesimpulan bersama ” nek ngono awak dewe podo jancukane “. Tak ada marah dan tak ada sumpah serapah, apalagi menista.

Bangsa Indonesia yang sudah merdeka selama 73 tahun, seharusnya bisa menjadikan jiwa kita merdeka dan bangga akan diri sebagai bangsa dan warga Indonesia. kita sadari Indonesia ini tersebar menjadi berpulau pulau, berkota kota dan berdesa desa, sehingga seharusnya kita bangga menjadi warga kota dan warga desa. Tak ada kehinaan kita menjadi warga desa ” wong ndeso “. Maka sudah sepantasnyalah kita bangga menjadi orang desa. Kebanggan itulah yang akan menjadikan kita tak merasa rendah ketika ada orang mengatakan ” wong ndeso “.

Kalau anda masih merasa terhina dengan perkataan wong ndeso, ada baiknya kita menata kembali kebanggan kita sebagai manusia dan warga negara Indonesia.

Kebanggan kita sebagai orang desa justru akan memotivasi kita menunjukkan bahwa orang desa patut berbangga. Hanya mereka yang kehilangan akar sosial kemasyarakatannya saja, yang tak mampu menerima kenyataan atas kebanggan yang seharusnya dimilikinya.

Surabaya, 5 November 2018

*Arek Kampung Wonorejo, Suroboyo Asli, tapi gak kampungan, Bangga jadi anak Kampung Wonorejo, Suroboyo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here