Catatan Oase Kehidupan #217: Bertanding Tanpa Mau Bersanding, Selamat Tinggal Ujian Nasional

0
73
Foto wajah asli Nusantara diambil dari dokumen pribadi didin

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Dua hari ini dunia media sosial kita banyak diwarnai perdebatan pro kontra pidato Prabowo tentang ” tampang ndeso ” yang kemudian diikuti pidato utuh Prabowo yang dimaksudkan bahwa pembangunan yang dijalankan selama ini sangat dipenuhi dengan kesenjangan. Kita hanya bisa melihat tanpa bisa menikmati. Banyak gedung gedung dan hotel hotel dibangun, tapi itu milik siapa? Nah kita yang tampang ndeso ini gak akan mungkin bisa masuk kesana.

Secara substantif saya kira tidak ada yang salah, karena yang dibicarakan adalah adanya kesenjangan. Dan saya kira apa yang dibicarakan oleh Prabowo juga merupakan tugas Jokowi, Presiden untuk menciptakan kesejahteraan bagi rakyatnya. Namun sayangnya pidato Prabowo ditanggapi secara membabi buta tanpa mau memahami substansinya, sehingga yang diambil sepenggal kata yang tak berkait dengan pidato utuhnya.

Terjadilah demo dimana mana yang diduga didalangi oleh oknum oknum yang tak paham boyolali, dan bahkan pidato Bupati Boyolali, Seno disampaikan dengan lantang dengan mengumpat dan menistakan Prabowo, tak cukup dengan mengumpat dan menistakan dengan menyebut Prabowo ” a*u ” ( a***ng ), tapi juga disertai ajakan untuk tidak memilih Prabowo.

Saya cuma bertanya benarkah retorika itu fakta yang terjadi atau itu hanyalah hoax, mengingat saya hidup di Indonesia, dan setahu saya Boyolali adalah Jawa Tengah yang terkenal dengan kesantunannya, dan Boyolali itu adalah bagian dari Indonesia yang mengenal budaya andap asor. Sejatinya tak penting bagi kita semua bangsa Indonesia kalau hadirnya seorang pemimpin tak mampu memberi tauldan dan manfaat bagi kita semua sebagai rakyat. Tanpa mereka, kita masih tetap ada, tapi tanpa kita tak akan pernah ada mereka yang disebut dengan pemimpin.

Pemimpin lahir dari sebuah sistem yang dibangun dimasyarakat, sehingga tampilan seorang akan menjadi cermin sistem seperti apa yang menjadi kawah candra dimuka lahirnya pemimpin tersebut.

Saya jadi merenung adakah kontribusi sistem pendidikan teehadap lahirnya sebuah corak kepemimpinan? Saya kira pasti ada, tapi lingkungan masih memegang peran yang sangat dominan. Tapi setidaknya sistem pendidikan yang mengajarkan persaingan akan mewarnai perilaku kita, susah untuk bersanding, lebih suka bertanding. Dalam bertanding tentu harus ada yang menang dan kalah. Agar bisa menang dan bisa mengalahkan lawan diperlukan strategi mengetahui kelemhan lawan.

Nah ketika kegundahan itu semakin membuncah, maka terdengar kabar baik dari negeri Singa, adalah menteri pendidikan Singapura, yang mengatakan ” Education is not competition ” dengan diikuti kebijakan penghapusan ujian nasional. Nampaknya akar dari persoalan bangsa adalah terbangunnya sikap berkompetisi, sehingga tak sulit sesama anak bangsa kemudian saling melemahkan dan menjatuhkan. Nah Singapura menyadari itu, dan semoga bisa disusul oleh Indonesia.

Surabaya, 6 November 2018

*Arek Aseli Suroboyo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here