Catatan Oase Kehidupan #218: Selamat Datang Madzab Kedunguan

0
57
Foto anak kecil memperhatikan tingkah laku orang diambil dari dokumen pribadi lisyi'

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Dungu adalah sebuah gambaran ketika seseorang tak mampu menangkap maksud yang sesungguhnya dari apa yang tertangkap oleh panca indera. Lawan dari dungu adalah cerdas. Cerdas menggambarkan sebuah kompetensi seseorang untuk mampu memahami maksud sesuatu yang tersirat dari apa yang tersurat.

Karena itulah kecerdasan menangkap sesuatu yang tersurat maupun yang tersirat digambarkan oleh Allah sebagai ” ulul albab “. Yaitu mereka yang mampu memahami dan menangkap maksud dari penciptaan langit dan bumi. Mereka yang cerdas akan selalu melakukan dialektika dalam diri sehingga melahirkan sebuah sikap yang kritis dan bijak.

Dungu mengindikasikan ketakmampuan melakukan cara cara berpikir kritis dan bersikap beradab. Dungu menyebabkan orang akan berpikir pendek dan temperamental serta cenderung pragmatis. Bagi penganut ” madzab ” kedunguan ini kepentingan pragmatis akan menjadi pertimbangan untuk berbuat.

Saya sebut madzab, karena perilaku kedunguan tidak lagi dilakukan oleh oknum, tapi sudah menjadi trend perilaku sistem. Ada yang merasa diuntungkan dari perilaku dungu yang ditimbulkan. Menjadi semakin kelihatan dungu, ketika sebuah perbuatan yang jelas jelas salah lalu dicarikan dalil pembenar akan kedunguan yang dilakukan.

Dungu adalah kegelapan pikir dan hati. Dungu sebagai sebuah metafor digambarkan sebagai kerbau. Misalnya orang distigma sebagai otak kerbau, ini menunjukkan sikap dungu yang dilakukan oleh seseorang.

Karena sebagai sebuah kegelapan, maka kedunguan menunjukkan situasi yang tak mampu membedakan apa yang ada didepannya. Orang dungu cenderung melihat orang seperti perilakunya. Sehingga bagi dia kalau itu tidak ada masalah, maka akan dilakukan oleh kepada orang lain. Dungu biasanya tak mampu memahami situasi yang dirasakan oleh orang lain.

Penganut madzab kedunguan ini biasanya cenderung tak mampu biacara yang substantif, terbiasa membelokkan makna dari sesuatu yang subtantif kearah yang pragmatis. Sehingga perilakunya cenderung berbeda dengan apa yang dimaksud sebenarnya. Mereka kadang terlihat sebagai pembual dan suka berbohong. Rendah komitmen dan tak bisa dipegang apa yang diucapkan.

Dungu bukanlah penyakit keturunan, dungu merupakan kesediaan diri untuk menutup nalar dan akal budi. sehingga orang dungu sejatinya secara sadar mereka menyediakan dirinya untuk mudah diperbudak oleh kegelapan.

Ditengah maraknya penganut madzab dungu ini, ada baiknya kita memaknai kembali nasehat Allah, melatih diri untuk selalu mengasah pola pikir dan pola rasa, sehingga kita menjadi peka. Janganlah berdebat dengan orang dungu, karena sejatinya berdebat dengan mereka tidak akan menambah kecerdasan kita. So.. Tinggalkan mereka dan biarlah mereka berbuat dengan kedunguannya.

Kalau anda menginginkan bau harum maka bergaulah dengan penjual minyak wangi. Supaya tidak dungu, bergaulah dengan mereka yang selalu berada di majelis ilmu.

Assalamualaikum wr wb, semoga Allah menjauhkan kita dari kedunguan pikir dan kedunguan sikap.

Surabaya, 8 November 2018

*Pengamat Sosial

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here