Catatan Oase Kehidupan #220: Kolonialisme di Ruang Publik

0
80
Foto kolonialisme diambil dari ahzanul ahyan

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Kolonialisme atau Penjajahan adalah suatu sistem di mana suatu negara menguasai rakyat dan sumber daya negara lain tetapi masih tetap berhubungan dengan negara asal, istilah ini juga menunjuk kepada suatu himpunan keyakinan yang digunakan untuk melegitimasikan atau mempromosikan sistem ini, terutama kepercayaan bahwa moral dari pengkoloni lebih hebat ketimbang yang dikolonikan.

Relasi yang dibangun dalam tatakelola sistem ini biasanya lebih banyak pada pola relasi kekuasaan. Ada yang kuat dan ada yang lemah. Sehingga dalam kolonialisme akan lahir sebuah perbudakan atas perilaku kolonial yang dipertontonkan.

Para pelaku kolonialisme ini biasanya mereka yang merasa memiliki kuasa untuk bisa mempengaruhi orang lain. Termasuk didalamnya bagaimana mereka merebut ruang publik untuk diisi dengan kepentingannya.

Kolonialsime ruang publik saat ini bisa kita rasakan ketika pihak yang merasa kuasa memaksa pihak lain yang dianggap lemah untuk menerima tanpa syarat definisi yang dibuat, meski definisi yang dibuat melawan logika publik dan ketentuan hukum yang berlaku.

Media dan penguasa merupakan contoh mudah bagaimana mereka mengkoloni ruang publik. Memaksakan pemahamannya meski nalar mengakui kecacatannya. Rakyat seolah menjadi budak tak berdaya yang harus menerima perlakuan para pengkoloni.

Saya ambil satu contoh bagaimana nalar kita dipaksa dijajah oleh logika hukum yang salah. Kasus pembakaran bendera tauhid dibangun logika kolonialis bahwa lambang tauhid adalah lambang HTI. Ketika terjadi pembakaran bendera tauhid, bukan pembakarnya yang disalahkan, tapi pembawa bendera yang disalahkan. Logika yang dibangun kalau tidak ada yang membawa bendera maka tidak mungkin akan terjadi pembakaran. Sehingga muncul hal lain terhadap logika seperti itu pada kasus korupsi. Korupsi tidak akan terjadi kalau tidak ada pemilu yang menjadikan mereka yang terpilih bisa melakukan korupsi. Sehingga yang patut disalahkan adalah KPU kenapa mengadakan pemilu untuk memilih wakil rakyat. Seandainya tidak ada pemilu mereka tidak akan menjadi wakil rakyat, dan itu artinya mereka tak akan berbuat korupsi.

Koloni ruang publik hari ini berlangsung secara massif dan sistematis. Dan anehnya madzab kolonialisme ini banyak diikuti oleh para pengikut yang sejatinya bisa memilah nalar baik dan buruknya. Tapi sayangnya kebutaan hati dan pikiran menjugkirbalikkan logikanya untuk menyentuh jalan terang kebenaran.

Apa yang bisa kita lakukan?

Menjadi manusia yang merdeka adalah sebuah keniscayaan. Merdeka yang berarti bahwa jiwa kita mampu mengikuti suara hati dan melogika dalam kebenaran sejati. Kebenaran sejati adalah kebenaran menjadikan jati diri sebenarnya.

Jatidiri yang sebenarnya adalah sebuah laku dimana terjadi proses dialogis dalam diri mengasah rasa dan hati. Sehinggaa manusia mampu menghadirkan ” Tuhan ” dalam lakunya. Manusia yang terbimbing dalam ucapan dan kata katanya.

Saya jadi teringat akan penjelasan Erry Berne dalam sebuah penjelasan tentang transaksional analysis berkomunikasi. beliau mengatakan bahwa komunikasi yang baik adalah komunikasi yang menyenangkan semua, bukan komunikasi yang menyebabkan adanya salah satu pihak yang terlemahkan. Freud menyebutnya sebagai bangkitnya superego dalam diri manusia.

Sejarah kolonialisme banyak diwarnai kerugian oleh pemburu kekuasaan. Maka ada baiknya kita menghindarkan diri dari para pemimpin yang berjiwa kolonialis, karena sangat mungkin apa yang dilakukan adalah bagian ambisi kekuasaan yang dimiliki untuk menempatkan kita pada genggaman kekuasaannya.

Sehingga menghindarkan diri dari politik sontoloyo dan para genderuwo adalah sebuah keniscayaan. Bijaklah dalam berpikir dan memilih calon pemimpin yang akan mengurusi nasib kita.

Sebagaimana dalam sejarah kenabian, bahwa pilihlah pemimpin yang memenuhi kriteria 4 hal, yaitu : Pemimpin yang Shiddiq, Amanah, Tabligh dan Fathonah.

Jadilah pahlawan dalam diri kalian masing masing, sehingga kita bisa melawan dominasi ruang publik yang dilakukan oleh para kolonialis pemburu kekuasaan culas.

Surabaya, 11 November 2018

*Penulis essay tinggal di Surabaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here