Catatan Oase Kehidupan #221: Narasi Besar Kemanusiaan Membangun Bangsa

0
84
Foto Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo ( berkacamata) memberikan kepada perwakilan Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC) sebagai organisasi di bidang Penanggulangan Bencana diambil dari Instagram

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Suatu saat Nabi didatangi seorang yang dikenal sering berbuat maksiat. Orang tersebut menyampaikan kepada Nabi keinginannya untuk memeluk Islam. Lalu jawab Nabi silahkan hanya satu syaratnya yaitu agar tidak berbohong.

Hanya dengan syarat “Jangan Berbohong” seorang pemuda yg suka MAKSIAT diterima oleh Rasulullah saw untuk masuk Islam. Nauzubillah

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Luqman Hakim, menceritakan pada suatu hari ada seorang telah datang berjumpa dengan Rasulullah s.a.w. kerana hendak memeluk agama Islam. Sesudah mengucapkan dua kalimah syahadat, lelaki itu lalu berkata : “Ya Rasulullah. Sebenarnya hamba ini selalu sahaja berbuat dosa dan susah sekali kalau hendak meninggalkannya.” Maka Rasulullah s.a.w. menjawab : “maukah engkau berjanji bahawa engkau sanggup meninggalkan bicara bohong?” “Ya, saya berjanji” jawab lelaki itu singkat. Selepas itu, dia pun pulanglah ke rumahnya.

Kelihatnnya memang sangat mudah diucapkan untuk tidak berbohong, tapi akan menjadi sulit kalau itu dilaksanakan, bagi mereka yang tidak biasa berbohong maka akan merasa sulit untuk melakukan kebohongan. Sebaliknya bagi mereka yang gemar berbohong akan sangat mudah menjalankan kebohongannya. Bahkan untuk menutupi kebohongan yang satu maka akan ditutupi dengan kebohongan yang lainnya.

Narasi apa yang akan dijalankan oleh Nabi dalam membangun bangsa yang adil dan bermartabat ? Kalau semua orang yang bersamanya dalam barisan menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar harus memegang teguh kejujuran tak boleh ada kebohongan. Karena sumber hancurnya sebuah tatanan kemanusiaan adalah kebohongan yang dimanipulasi atas nama kemanusiaan.

Nabi ingin mengajarkan kepada semua yang mengikuti ajarannya agar menjauhkan dirinya dari kebohongan, karena dengan kebohongan itulah orang akan mudah melanggar hak orang lain dan memgambil hak yang bukan haknya.

Narasi besar itu tidak bisa lahir dari sesuatu yang bersifat rendah, remeh, narasi besar iti lahir dari sebuah kemampuan berpikir dalam dan jauh menerobos masa depan. Narasi besar itu lahir dari orang orang yang berjiwa besar dan berpikir besar.

Narasi besar itu juga akan hidup dan bertumbuh kembang dari lingkungan yang berpikir besar, berpikir jauh kedepan merobos relung zaman, sehingga hanya mereka yang cerdas melihat masa depan yang mampu membangun marasi besar bagi sebuah bangsa.

Narasi besar itu juga tidak bisa lahir dari mereka yang hanya mampu melihat yang nampak, yang artifisial, yang membangun bangsa dengan diksi yang remeh temeh dan terkesan gurauan, Narasi besar itu hanya bisa dijangkau oleh mereka yang berpikir ” beyond the line “, menangkap makna yang tersirat dari yang tersurat. Narasi besar itu hanya bisa dibangun oleh mereka yang mendaya gunakan akal pikirannya secara cerdas. Allah menyebutnya sebagai kaum ulul albab.

Semoga kita dikaruniai pemimpin yang mempunyai narasi besar…aamien.

Asalammualaikum wr wb

Surabaya, 12 November 2018

*Pengamat Sosial

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here