Catatan Oase Kehidupan #224: Menghadirkan Kembali Surabaya Kota Lama

0
66
Foto surabaya tempoe doelo diambil dari facebook

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Surabaya yang sudah tidak lagi muda, kini juga mulai berbena. Geliat pesoleknya semakin membuncah. Meski begitu Surabaya tak boleh lupa akan cikal bakal dimulainya sebuah kota.

Nah hari Jum’at yang lalu (16/1), Saya berkesampatan berdiskusi dan observasi lapangan tentang bagaimana memoles kota lama Surabaya bersama beberapa ahli dibidangnya, adalah Nanang Purwono dan Kuncarsono, dengan beberapa kepala bidang dan staff dari Bappeko Surabaya. Kami berdiskusi tentang menghidupkan kembali kawasan Surabaya Utara, Jalan Karet dan Jalan Panggung Surabaya.

Betapa terlihat beberapa bangunan peninggalan yang menggambarkan sebuah kebhinekaan dan toleransi. Memasuki jalan Karet dari arah selatan, kita disuguhi bangunan Masjid Kuno, yang konon berdasarkan penelusuran sejarah, bangunan itu merupakan asrama haji pada zaman Belanda ( 1838 ). Setelah itu beberapa jengkal dari bangunan masjid itu ada sebuah bangunan yang disebut dengan rumah sembayang dan rumah perabuan yang menunjukkan tradisi etnis Cina.

Lama berada disepanjang jalan Karet, kami dimanjakan dengan rentetetan bangunan bangunan peninggalan Belanda yang dikombinasikan dengan arsitektur Cina, Eropa dan Arab. Kawasan Jalan Karet, ibarat sebuah laboratorium arsitektur peninggalan kultur Eropa, Cina dan Arab. Siapapun yang lewat disana pasti akan teraduk aduk dengan merangkai kaitan bangunan satu dengan bangunan lainnya. Seolah kawasan itu menjadi ruang kelas besar belajar tentang peradaban .

Dari jalan Karet, kami menuju Jalan Panggung, Jalan membentang seolah sebuah lorong, sejatinya akan menjadi penunjang laboratorium arsitektur besar kawasan Karet dan sekitarnya. Sehingga dengan sentuhan yang tak terlalu besar, Kawasan itu akan menjadi ” ikon ” kota lama sebagai alternatif destinasi wisata di Surabaya.

Deretan rumah rumah lama yang masih berdiri kokoh dan meninggalkan kesan keindahannya, kini menjadi buram, tertutup aktivitas ekonomi yang hanya mengejar materi tanpa peduli sejarah sebagai bukti. Kemolekan Surabaya tenggelam dalam temaram pekerja eksepedisi dan pedagang yang bergelut dengan kaidah kaidah ekonomi.

Kemolekan Jalan Karet terdesak oleh tumpukan barang barang mulai dari ban bekas sampai dengan barang barang berkelas. Hiruk pikuk pekerja menaik turunkan barang sejatinya bisa menjadi paduan yang harmoni, tapi sayangnya karet menjadi terseok seok dan terseret. Tak ubahnya Jalan Karet, Jalan Panggung pun kemolekannya terhimpit dengan pedagang pasar dan kendaraan yang lalu lalang membentang. Lorong peradaban itu sedih merana menahan derita terjajah oleh para pekerja dan konsumen yang berbelanja. Deretan ikan ikan segar , kalau ditata dengan sentuhan seni dan wisata, sejatinya akan menjadi harmoni indah wajah peradaban kota. Kita bisa saksikan bagaimana para ibu memanggul ikan diatas kepalanya tanpa takut jatuh tercecer ditanah.

Nah mengembalikan keindahan kota lama dengan segala keaneka ragamannya, ternyata tak akan bisa kalau hanya dilakukan oleh pemerintah, masyarakat harus menjadi pelaku utama, sehingga masyarakat lah yang harus mendapatkan keuntungan yang utama. Sungai sebagai peradaban air Kota Surabaya, adalah rangkaian yang harus diperhatikan menghidupkan kembali kota lama. Maka sungai yang membentang dari Jalan Petekan sampai dengan Jembatan, mesti harus ditata.

Memasuki kawasan Jalan Karet sebagai kawasan kota lama, dibutuhkan gerbang selamat datang, sehingga pemasangan gerbang menjadi sebuah entitas yang wajib diadakan. Nah bagaimana dengan kendaraan kendaraan berat pengangkut barang barang ekspedisi? Kebijakan menertibkan tempat pemberhentian kendaraan besar mesti harus dilakukan.

Pemerintah mesti harus membangun tempat transit bongkar muat barang, sehingga arus barang masuk kekawasan karet hanya bisa dilalui oleh kendaraan kecil saja. Sehingga ini akan memberi rasa aman wisatawan ketika memasuki kota lama Surabaya.

Belajar dari pengalaman yang sudah pernah, sudah seharusnya tidak lagi menjadi superman yang menjalankan segalanya, parrisipasi semua pihak sangat dibutuhkan. Berangkat dari situlah ada baiknya pemerintah hanya bertindak sebagai fasilitator dan regulator, sedangkan pengelolaannya bisa diserahkan kepada swasta, baik itu swasta yang dilegalkan oleh pemerintah dan masayarakat pemilik bangunan yang terhampar disepanjang Jalan Karet dan Jalan Panggung.

Lalau apa yang bisa didapatkan oleh pemerintah Kota Surabaya? dengan hidupnya destinasi kota lama Surabaya, seridaknya akan meningkatkan jumlah kunjungan ke Surabaya, mereka pasti akan belanja dan makan di Surabaya. Mereka akan bayar pajak. Nah dari sinilah pemerintah akan mendapat manfaat.

Lalu bagaimana dengan masyarakat sekitar, mereka yang rumahnya didesain sebagai destinasi wisata, pemilik rumah mengorganisir masyarakat untuk menikmati layanan yang diberikan, tentu disana ada biaya? masayarakat pemilik deatinasi, bisa memungut biaya penggunaan ruang rumah untuk kebutuhan penikmat destinasi.

Menjadikan kawasan kota lama menjadi destinasi alternatif, dibutuhkan gaya berpikir dan birokrat yang tak hanya berteori, tapi berani mengeksekusi. beruntunglah gairah membangun destinasi Surabaya kota lama sudah terasa, dimulai dengan penataan pedagang dan parkir. Kendaraan berat yang tertib, serta pembersihan dan pengecatan sudah dimulai. Pemerintah bisa mendorong dana dana CSR untuk kepentingan itu. Saya kira itu sangat mudah bagi pemerintah, tinggal sekarang adalah kesiapan masyarakat dan akademisi serta para pemerhati sejarah, beranikah mereka menghentikan wacana dan saatnya mulai kerja ?

Semoga saja pemerintah bersama masyarakat segera bersinergi mewujudkannya.

Surabaya,  November 2018

*Pengamat Sosial dan Arek Suroboyo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here