Catatan Oase Kehidupan #229: Masihkah Guru “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa?”

0
93
Foto guru SMP Negeri 16 Surabaya saat menghadiri acara Hari Guru di Stadion Tambaksari diambil dari dokumen pribadi denpeyi

KLIKMU.CO

Oleh: M. Isa Ansori*

Hari ini, 25 November 2018 dilaksanakan upacara peringatan hari guru. Setiap tahun peringatan dilakukan, namun persoalan guru yang muncul dari tahun ke tahun hampir sama, persoalan kesejahteraan guru. Apakah guru tak boleh sejahtera? Tentu bukan saja boleh tapi guru harus sejahtera, sebagaimana manusia yang lain yang berprofesi sebagai guru. Karena kesejahteraan pada dasarnya adalah hak semua, namun juga harus disadari hak kita dibatasi oleh hak orang lain dan kewajiban orang lain.

Menuntut bahwa guru harus sejahtera saya kira adalah sebuah keniscayaan, yang tidak boleh adalah menuntut dengan memaksa serta meninggalkan kewajiban yang semestinya menjadi hak orang lain. Misalnya ketika menuntut kesekahteraan ternyata guru harus meninggalkan tanggung jawabnya sebagai pengajar. Kita semua harus mendorong, agar negara hadir untuk mensejahterakan rakyatnya termasuk didalamnya adalah guru.

Sudah sejahterakah guru kita? Tentu jawabannya tidak bisa digeneralisir, karena kasus setiap guru berbeda satu sama lainnya. Bagi guru yang sudah berstatus PNS dan tersertifikasi tentu dengan ukuran standar upah yang ada bisa dibilang sudah lebih dari cukup, karena sekarang ini kalau kita lihat dibeberapa sekolah perkotaan, bukan lagi motor yang ada tempat parkir guru, tapi sudah jajaran mobil. Itu kalau mobil menjadi salah satu indikator kesejahteraan. Jadi masih layakkah mereka yang seperti itu disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa?

Berbeda lagi dengan mereka para guru yang hidup dibeberapa daerah pedesaan dan masih menjadi guru honorer atau guru tidak tetap, masih dijumpai mereka berhonor dibawah dua ratus ribu tiap bulan, mereka tetap ikhlas jalankan profesi itu tanpa terdengar ada keluhan, bahkan yang terucap adalah rasa syukur yang dalam ketika mampu mengajarkan sesuatu yang bermanfaat kepada muridnya.

Bagi saya guru seperti ini, masih layak disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka tak pernah mengeluh dan menuntut sebagaimana sahabat yang lainnya, yang ada dibenak mereka adalah pengabdian yang tinggi untuk mendidik anak anak calon pewaris bangsa.

Saya merasakan sebagai guru swasta tentu mengalami banyak dilema menyikapi situasi. Posisi sebagai guru swasta sangat lemah dan tak berdaya dihadapan kepala sekolah apalagi yayasan. Sehingga bagi guru guru seperti ini, hadirnya negara memberi perlindungan sangat dibutuhkan.

Bagaimana negara hadir?

Negara bisa hadir dalam bentuk regulasi atau memberi kewenangan kepada induk organisasi guru untuk menjadi kepanjangan tangan pemerintah sebagai wadah perlindungan. Kalau tidak bisa, maka bisa dipastikan para guru ini akan bernasib malang.

Saya pernah menjadi saksi ” kekejaman ” kepala sekolah dan kawan guru bagaimana mereka berkonspirasi menjegal kawannya yang mestinya secara kompetensi lebih layak dan berhak akan sebuah promosi. Mereka berupaya menjatuhkan kawannya dan menebar jaring fitnah akan sebuah kekhawatiran tak berdasar bila kawannya itu mendapatkan promosi. Nah mereka yang seperti ini, masih layakkah disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa?

Maka itulah yang saya jaga sampai saat ini, meski saya diamanahi untuk merawat sebuah lembaga pendidikan, saya bertekad jangan sampai merugikan hak guru saya, karena mereka yang dilanggar haknya akan merasakan kekecewaan, dan tentu tak akan nyaman mendidik anak didiknya.

Ditengah riuhnya semangat menuntut akan kesejahteraan, saya mencoba membuat catatan bahwa sejahtera itu adalah sebuah akibat dari sebab. kalau penyebab sejahtera tidak kita jalankan, maka mustahil kita akan sejahtera. Karena kesejahteraan itu akibat, maka penyebabnya adalah bagaimana kerja kita agar dianggap berkualitas. Begitu juga yang ada pada profesi guru, kalau kita ingin sejahtera, maka kualitas kita dalam mengajar harus juga baik.

Nah apakah kita sudah termasuk berkualitas dalam mengajar? kalau belum tentu anda tak akan sejahtera, dan menuntut sejahtera tanpa disertai perbuatan yang menyebabkan orang lain sejahtera adalah sikap egois.

Saya juga seorang guru seperti panjenengan semua, yang membedakan adalah saya tidak pernah menggunakan ijasah saya untuk mengikuti tes tes penerimaan pegawai negeri terutama menjadi guru. Saya hanya berpikir bagaimana ilmu saya bermanfaat, tanpa pernah berhitung berapa yang saya terima. Saya meyakini apapun yang saya lakukan kalau itu bisa memudahkan orang lain dan mereka merasa senang maka itulah kebahagiaan saya.dan saya yakin Tuhan pasti akan memudahkan jalan hidup saya. Sampai hari ini saya adalah saya dan saya masih menjadi guru swasta yang tak jelas nasibnya.

Tapi apakah saya tidak sejahtera? kalau ukuran materi tentu orang mengatakan saya belum sejahtera. Sehingga sayapun sampai saat ini belum pernah menjadikan indikator materi sebagai indikator kesejahteraan saya. Maka untuk menghibur agar saya tidak dianggap orang yang tidak sejahtera, maka saya membuat indikator sendiri untuk saya apa yang disebut dengan kesejahteraan?. Dari indikator indikator yang saya buat untuk saya sendiri itulah yang kemudian memacu saya untuk tetap berkarya dan berbuat kebaikan bersama murid dan mahasiswa saya.

Nah kawan kawan saya guru, ada baiknya sebelum kita terbebani dengan indikator yang dibuat oleh orang lain, maka kita mesti harus membuat sendiri indikator kesejahteraan berdasar kemampuan kita, agar tak ada ruang orang lain mengatakan kita belum sejahtera.

Ulet dan berdedikasi adalah kata kunci, sehingga kita bisa berkreasi dan selalu bisa menjaga kualitas diri. Pada posisi itulah saya sampai saat ini bisa menjalani, meski saya seorang guru, tapi saya masih bisa menjalankan aktifitas lain yang justru bisa memberikan imbalan sehingga anak anak saya bisa menjalani masa masa pendidikannya. Apakah saya tidak pernah berkeinginan menjadi guru yang pegawai negeri? Tentu ada, namun sayangnya jalan kesitu saya tutup sendiri ketika saya pernah membantu pemerintah bekerja sama dalam penanganan siswa miskin melalui jaring pengaman sosial, tawaran menjadi PNS yang saat itu sangat mudah dan terbuka tak pernah saya ambil, karena memang bukan itu yang saya cari.

Saya hanya ingin menunjukkan kepada semua bahwa sejahtera itu tidak harus menjadi PNS, apalagi ditengah kesulitan pemerintah saat ini, berkaryalah yang baik Tuhan pasti memberikan kebaikan kepada kita.

” Kalau kalian memudahkan urusan orang, maka Allah akan memudahkan urusan kalian ”

Semoga kita termasuk orang yang bisa memudahkan urusan orang lain, kalau kita guru, marilah kita mudahkan kesulitan murid murid kita, saya yakin doa murid kita akan menjadi doa yang bisa menggetarkan singgasan Tuhan yang maha pengasih dan penyayang

Surabaya,  November 2018

*Masih Tetap Guru, Meski menjalani profesi guru tidak tetap sampai saat ini

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here