Catatan Oase Kehidupan #233: Ketika Perasaan Kasih Sayang Dicabut

0
95
Foto Ibu Ibu berswa foto diambil dari facebook

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Jum’at ( 30/11/2018 ) saya kebetulan bisa malaksanakan sholat Jum’at di masjid Alfalah. Dalam kesempatan itu khotib menyampaikan khotbahnya dengan tema ” berpikir dengan hati “. Beliau menjelaskan biasanya orang berpikir itu dengan akal, karena berpikir dengan akal akan dapat kejelasan, tentu saja kejelasan itu diukur dari otak manusia.

Nah saya ingin mengilustrasikan bahwa dalam diri manusia ada struktur jiwa yang terbagi menjadi tiga, yaitu ” id “, ” ego ” dan ” superego “. Id adalah nalar manusia yang kerjanya hanya butuh pemuasan. Sehingga ukuran sesuatu bisa dianggap benar bila menurut ” id ” adalah sesuatu yang bisa memuaskan keinginannya. Disis lain didalam diri manusia ada yang disebut ” ego ” yang bertugas merasionalkan keinginan pemuasan “id “. Ada juga ” superego ” yang bertugas sebagai polisi moral bagi sebuah perbuatan yang dilakukan.

Superego bertugas untuk mengingatkan manusia dengan cara membangkitkan nilai nilai moralitas, kita menyebutnya sebagai suara hati nurani. Antara “id ” dan ” superego “seringkali bisa tidak berjalan, bila ego manusia menuruti kemauan id. Apa artinya? Ketika manusai melakukan sesuatu dengan pertimbangan nalarnya, maka manusia akan berkecenderungan mengabaikan perasaan hatinya. Saat itulah kita akan kehilangan rasa kasih sayang didalam qalbu .

Bukankah dalam kehidupan kita sering kita lihat manusia lebih banyak berpikir dengan akal tanpa bimbingan hati, sehingga apa yang keluar dari pikirannya lebih banyak berisi pemuasan tentang keinginannya. Mereka kehilangan rasa kasih sayangnya. Bisa kita bayangkan kalau orang tua dalam berbicara kepada keluarganya hanya dengan pertimbangan akalnya, maka yang terjadi keluarga itu akan kehilangan kasih sayangnya.

Seorang kepala keluarga tentu tidak hanya menggunakan pertimbangan akal, tapi pendekatan hati jauh lebih penting agar keluarga yang dipimpin merasakan ada kenyamanan. Pendekatan pendekatan yang dilakukan pasti akan menyentuh perasaan keluarganya. Hal itu akan berdampak pada cara melakukan pendekatan, bahasa yang digunakan serta sikap yang ditampilkan.

Hal yang sama bila cara seorang memimimpin rakyatnya dengan pendekatan akal dan meninggalkan pendekatan hati, maka yang akan dilakukan adalah ukuran rasionalitas yang cenderung mengeringkan rasa. Ucapannya terasa sekali akan menebar permusuhan, jauh dari perasaan kasih sayang.

Nah ucapan ucapan yang menebar kebencian dan jauh dari rada kasih sayang
Itulah yang disinyalir oleh Allah sebagai hati yang berkarat. Hati yang tak mampu merasakan perasaan orang lain, hati yang tak mampu menaruh empati pada apa yang dilakukan oleh orang lain.

Nah kita bisa rasakan pada situasi yang terjadi sekarang ini, betapa para pemimpin menyikapi rakyatnya yang sedang beesilaturahmi dan melaksanakan dzikir, sikap yang ditampilkan menebar kalimat kalimat yang justru menambah suasana semakin keruh, alangkah baiknya sebagai pemimpin bisa lebih mendengarkan suara hatinya, sehingga bisa bersikap bijak dan menebarkan rasa kasih sayangnya. Beruntunglah kita juga masih mendapatkan suara hati, ketika kemudian panitia dengan suara hatinya ingin mengajak semua berdzikir, panitia mengatakan akan mengundang presiden dan wakil presiden dan seluruh jajaran istana untuk bersama sama melakukan dzikir dan pertaubatan untuk keselamatan bangsa.

hanya mereka yang masih mempunyai nurani yang bisa diajak berbicara dengan bahasa hati, mereka hatinya yang berkarat tentu akan selalu berusaha memisahkan kebenaran dan menebarkan kesalahan dan kebencian.

Akhirnya marilah kita semua sebagai bangsa yang bermoral dan mempunyai hati nurani berjabat tangan dan merangkul erat, karena musuh kita bukanlah mereka yang mempunyai nurani, musuh kita adalah orang orang yang selalu menghembuskan kebencian kepada orang lain.

Surabaya,  Desember 2018

*Pengamat Sosial dan Anggota  Dewan  Pendidikan Jawa Timur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here