Catatan Oase Kehidupan #242: Kidung Indonesia

0
44
Foto ilustrasi diambil dari facebook

KLIKMU.CO

Oleh: M.Isa Anshori*

Indonesia tanah pusaka abadi nan jaya, Indonesia sejak dulu kala tetap dipuja puja bangsa. Kidung Indonesia tanah pusaka menjadi bait bait perangkai satu hati ke Indonesiaan. Tapi masih bisakah? Aksi damai 2 Desember sudah membuktikan, gelombang manusia seperti aliran air pelan tapi pasti mampu menerobos sekat sekat indonesia yang ditebarkan oleh mereka yang katanya paling Indonesia.

Aksi 2 Desember tak hanya menjadi kegiatan manusia berkumpul disebuah lapangan. Tapi ini menjadi penegas bahwa menjadi Indonesia dan menjiwai Indonesia itu tak perlu dengan mengatakan saya Indonesia, saya Pancasila. Menjadi Indonesia itu meletakkan satu hati dan merasakan gelombang Indonesia, sehingga menjadi Indonesia itu mengakui keberagaman serta melakukan penghormatan kepada sesama.

Aksi 2 Desember merupakan aksi peradaban. Aksi yang dilakukan oleh mereka yang menjiwai keadaban Indonesia. Mereka tertib, alam semesta dijaga tak ada sumpah serapa maupun dusta yang disemai diantara mereka. Bahwa aksi 2 Desember merupakan gerakan politik, ya memang, tapi gerakan yang dilakukan adalah gerakan yang meneguhkan sila ke 4 Pancasila. Politik santun diperagakan. Menjaga alam dari kerusakan, tak ada sampah tercecer dan bahkan rumputpun terjaga baik sehingga tak berteriak karena keinjak.

Kidung Indonesia adalah kidung kita orang Indonesia. Kidung membawa kerekatan antar anak bangsa. Kidung itupun saat ini menjadi kidung pilu tentang gairah ke Indonesiaan. Betapa tidak, di Jakarta masih ada segerombolan manusia yang tugasnya menyalak sebagaimana anjing menggonggonggong. Menjaga tuan dan bosnya. Berbaju akademisi, politisi bahkan birokrasi serta para juri dan wasit yang saat ini terlihat mulai ikut bermain.

Kidung Indonesia menumpahkan darah juang pemuda dan pemudi di belahan ujung timur bumi Indonesia. Papua tanah merdeka dan bagian dari pusaka Indonesia. Mereka mengaum marah karena janji keadilan yang mereka taburkan tak ada yang bisa rasakan.

Amarah dan kecewa semakin membuncah, tak ada saluran yang bisa mereka dapatkan. Jakarta tak bisa memahami bahasa isyarat mereka, bahwa bumi papua merupakan bagian dari hak nya, sehingga janji pengambil alihan perusahaan asing freeport untuk Indonesia dan rakyat Papua adalah isapan jempol belaka.

Kidung Indonesia itu kini menjadi parau, karena bersenandung tentang Indonesia terluka, Papua meradang, Jakarta menantang. Jakarta beretorika tentang melindungi warga, korban terus terhempas semakin tak jelas. Keluarga yang ditinggal memelas, ada perilaku culas yang membuat para keluarga itu harus tertindas.

Kidung Indonesia tak boleh lagi dengan irama melo bagi kelompok teror di Papua, Kidung Indonesia harus disenandungkan dengan irama menghentak, sehingga bisa bergerak rancak, menindak kaum pemberontak.

Tak bisa lagi berharap kepada mereka yang mengatakan paling Indonesia dan paling NKRI, nyatanya mereka adalah para penjajah yang mengeruk dan mengaduk ngaduk kekayaan negeri. mereka tak rela kidung itu menjadi energi, sehingga tak malu mereka mengingkari hati nurani untuk sang tuan yang membiayai.

Asalammualaikum wr wb..

Sidoarjo, Desember 2018

*Anggota Dewan Pendidikan  Jawa Timur dan Pengamat Sosial

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here