Catatan Oase Kehidupan #243: Angkutan Massal

0
475
Foto oplet tua si doel diambil dari Youtube

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Seperti biasanya setiap kamis, saya harus berbagi pengetahuan dan pengalamana dengan beberapa kawan mahasiswa. Saya lebih suka menyebutnya sebagai belajar bersama dibanding saya harus memberi kuliah. Belajar bersama lebih bermakna sebagai menempatkan diri dalam posisi yang saling membutuhkan. Sehingga posisi saya dengan mahasiswa adalah linier dan setara. Yang membedakan hanya bunyi SK nya saja, saya mendapatkan SK sebagai guru dan mereka medapatkan SK sebagai mahasiswa.

Saya tak akan membahas bagaimana proses belajar yang kami lakukan, saya ingin membahas kebiasaan menggunakan angkutan massal bis saat saya harus ke Malang. Bis merupakan kendaraan yang sudah lama digunakan, sebagai angkutan massal tentu bis bisa diharapkan untuk mengurangi hilir mudik lalu lintas dijalan. Bisa dibayangkan satu kali angkut, bis bisa membawah sebanyak 50 penumpang. Dibanding kereta api bis mungkin infrastruktur jalan yang dibutuhkan lebih mudah. Sehingga menyediakan bis sebagai angkutan massal akan lebih mudah dibanding menyediakan kereta api atau trem.

Saat ini kalau kita berada dijalanan pada jam jam tertentu, sangat banyak antrian kendaraan yang menunggu kesempatan untuk bisa jalan, dan rata rata banyak didominasi oleh sepeda motor maupun kendaraan pribadi. Seolah percuma, jalan dilebarkan, angkutan pribadi semakin banyak sehingga kemacetan selalu terjadi.

Saya bayangkan kota kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, kemacetan sudah menjadi hal biasa, justru kalau tidak macet akan terasa ada sesuatu yang luar biasa. Saya ambil contoh Surabaya, Surabaya hampir tiap hari bisa kita jumpai kemacetan dimana, jam macet Surabaya berkorelasi lurus dengan jam kerja masyarakat. Mengapa, hampir semua masyarakat kita ketika melakukan aktifitasnya mereka menggunakan kendaraan pribadinya, baik itu motor roda dua maupun roda 4. Masyarakat menggunakan kendaraan pribadinya karena merasa nyaman dan mendapatkan kepastian tentang waktu perjalanan.

Potret Angkutan Massal Kita

Potret angkutan massal kita adalah potret angkutan yang konvensional dan tertinggal. Jauh dari semangat melayani. Coba anda sesekali naik bis kota dari bungur asih dengan menggunakan bis bis kota yang ada disana. Bis bis sudah tua, reyot dan atapnya juga bocor, jangan tanya kursi dan aromanya, pastilah anda semua bisa menebaknya. Tak layak sebagai angkutan manusia. Belum lagi tarifnya, melebihi bis kota yang dikelola oleh pemerintah. Padahal kita tahu semua, bahwa para penumpang itu adalah masyarakat yang kebanyakan kelas menengah ke bawah. Sehingga muncul adagium kasta rakyat yang dilayani seadanya. Jadi semakin anda miskin anda semakin tak terlayani, dan itu bisa dilihat disemua lembaga layanan publik. Rakyat kecil terkucil dan teraingkir dari layanan yang sejatinya. Belum lagi kalau kita naik angkot dalam kota, lebih tak ada kepastian, sang sopir harus menunggu penumpang dan itu tak ada batas waktunya, suka suka sang sopir. Kita tak boleh memprotesnya, karena itu hak sang sopir untuk menekan kerugian akibat minimnya penumpang.

Bis sebagai potret layanan publik, sudah saatnya memperhatikan dirinya kalau ingin menjadi pilihan masyarakat. Pemerintah sebagai pihak yang sangat berkepentingan terhadap berkurangnya kemacetan tentu diharapkan bisa memperhatikan keberadaan mereka para sopir bis dan sopir angkot beserta fasilitasnya. Sebagai wujud perlindungan terhadap masyarakatnya, negara perlu hadir menjamin kenyamanan rakyatnya ketika menggunakan angkutan publik.

Nah apa yang bisa dilakukan?

Negara harus membuktikan bahwa angkutan publik bisa dipercaya oleh masyarakat. Lalu caranya seperti apa? Tentu pemerintah dalam dinas perhubungan harus mampu membangun kesadaran sopir bahwa apa yang dilakukan akan berdampak pada penumpang yang juga punya kepentingan. Kesadaran sopir tentu bergantung dengan jaminan kesejahteraan yang dia dapatkan. Sehingga menurut saya pemerintah mesti harus bisa memberi jaminan kepada angkot kalau mereka baik maka hasilnya juga baik.

Hadirnya bis bis yang dikelola oleh pemerintah setidaknya sangat membantu menekan kemacetan lalu lintas didalam kota. Tapi sayangnya akses masyarakat sangat terbatas, sehingga pilihannya masih pada kendaraan pribadi.

Nah sudah saatnya tidak lagi menjadi eksekutor angkutan publik, pemerintah culup menjadi fasilitator dalam penyediaan dan pengelolaan serta regulasinya. Kalau seperti ini rakyat akan ada jaminan kenyamanan dan ketepatan waktu ketika menggunakan angkutan massal.

Semoga Surabaya bisa menjadi pelopor angkutan massal yang nyaman dan bertanggung jawab.

Malang, Desember 2018

*Anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here