Catatan Oase Kehidupan #245: Sang Juara

0
590
Foto anak anak selepas tampil dalam suatu event diambil dari facebook

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Sang juara adalah mereka yang diyakini akan menjadi juara. Meyakini orang akan menjadi juara biasanya ditandai dengan tanda tanda akan diraihnya kemenangan. Biasanya mereka yang diunggulkan menjadi juara, semangat memenangkan pertandingan akan semakin menguat. Mereka yang akan ditakdirkan menjadi juara, semakin terlihat percaya diri dan akan selalu fokus pada jalan kemenangan.

Sang juara biasanya berkaitan dengan mental juara. Mental juara adalah mental yang ditunjukkan dengan cara ksatria, selalu berusaha memenangkan segala sesuatu atas dirinya. Tidak mudah menyalahkan orang lain, tidak gampang melemahkan orang lain. Selalu mengevaluasi diri dan berdasarkan data data yang dimiliki.

Kisah sang juara sejati adalah mereka yang bisa memenangkan pertarungan dalam dirinya sendiri, tidak mudah terpengaruh oleh kepentingan lain yang menjerumuskan. Para juara itu adalah petarung sejati, mereka bertanding sekedar ambisi tapi mereka bertarung karena sebuah dedikasi, sehingga meski kalah dia tetap bangga karena bisa berdedikasi. Nah sang juara sejati ini terlihat pada sikap Sandiaga Uno ketika ditanya oleh Aiman Kompas TV tentang dana 500 M yang digunakan untuk kampanye pemenangannya. Sandi mengatakan bahwa uang itu bukan miliknya itu milik Allah, maka akan saya kembalikan dalam bentuk dedikasi saya mencalonkan diri sebagai wakil presiden, karena saya bertekad akan membangun bangsa ini agar lebih mandiri dan sejahtera. Begitu ucap Sandi.

Mental juara bukanlah sekedar ambisi tapi dia punya dedikasi dan tanggung jawab akan sebuah pertandingan yang dia jalani. Adalah kisah Perlombaan olahraga tidak semata menampilkan persaingan memperebutkan medali dan gelar juara. Ada nilai-nilai perjuangan dan kerja keras yang dapat diteladani dari sepak terjang para atlet sejati. Mereka berjuang mengharumkan nama bangsa dengan penuh dedikasi. Tak peduli apakah usahanya berbuah medali, ataukah hanya berujung pada keletihan diri.

Di sanalah letak perbedaan antara olahragawan sejati dan atlet yang tinggi hati. Bagi mereka yang terjun dalam sebuah kompetisi hanya untuk medali, tidak akan berjuang sepenuh hati. Upayanya optimal manakala peluang menang masih terbuka. Sebaliknya, saat kekalahan di depan mata, semangat juang dan mental bertandingnya akan hilang seketika.

Berbeda dengan atlet yang memaknai perlombaan sebagai ajang penyaluran dedikasi. Mereka akan bertanding, bersaing dan berlomba dengan penuh semangat. Hingga peluit akhir dibunyikan. Hingga garis finish berhasil dipijak. Itulah akhir dari perjuangan yang sesungguhnya. Tidak semata memacu diri untuk mengejar titel bergengsi. Lebih dari itu, atlet sejati berlomba untuk membuktikan komitmen dan menjunjung tinggi sportivitas olahraga.

Kita dapat meneladani kisah inspiratif seorang atlet sprinter dalam perhelatan Olimpiade Barcelona 1992 silam. Derek Redmond, pelari jarak pendek asal Inggris, mengajarkan kepada kita tentang makna sebuah totalitas. Turun di lintasan atletik nomor 400 meter, Derek merupakan salah satu atlet yang diunggulkan. Dan benar saja, ketika pelatuk pistol ditarik yang menandakan dimulainya perlombaan, Derek langsung berlari secepat kilat.

Meninggalkan beberapa atlet di belakangnya, Derek seketika langsung menjadi pemimpin lomba. Penonton bersorak, seolah seluruh orang yang ada di tribun stadion yakin bahwa Derek akan meraih emas. Namun sesuatu yang tak diinginkan terjadi di tengah perlombaan. Tepatnya di titik 225 meter, Derek melambat dan terlihat terpincang-pincang, hingga akhirnya merebahkan diri di tengah arena lintasan.

Kaki kanannya tiba-tiba terasa sakit luar biasa. Si ‘Manusia Peluru’ ini terkulai lemah, merintih kesakitan dan hanya bisa memandangi atlet-atlet lain berhasil mencapai garis finish. Tatapannya kosong, membayangkan impiannya untuk merengkuh emas Olimpiade, sirna begitu saja. Seketika tim ofisial dan panitia pertandingan menghampiri untuk memberikan pertolongan. Tak terkecuali ayahanda Derek, Jim Redmond, yang lari tunggang langgang dari tribun penonton.

Pemandangan haru seketika tampak dari dalam lintasan. Derek yang seharusnya ditandu ke ruang perawatan, memilih untuk melanjutkan misinya menyentuh garis finish. Baginya, perlombaan ini belum berakhir. Tugas seorang sprinter adalah berlari dari garis START hingga FINISH. Itulah komitmen seorang atlet sejati. Dipapah oleh sang ayah, Derek menyusuri lintasan dengan tertatih, hingga akhirnya berhasil sampai di garis Finish.

Hal ini disambut riuh gemuruh tepuk tangan para penonton. Sebagian di antaranya bahkan melakukan standing ovation sebagai bentuk apresiasi atas kegigihan dan semangat pantang menyerah yang ditunjukkan Derek. Derek tak memerlukan kalungan medali, bagi ayahnya, ia adalah seorang juara sejati.

Peristiwa serupa juga dialami oleh atlet asal negeri Cina, Liu Xiang. Menyandang predikat sebagai peraih emas lari gawang 110 meter putra, Liu harus mengalamii masa-masa sulit di dua pergelaran Olimpiade berikutnya. Tahun 2008, rakyat Cina berharap banyak agar atlet kebanggaannya ini kembali mendulang emas ketika berlomba di hadapan pendukungnya sendiri. Bagi Liu, kemenangan di hadapan publiknya sendiri, akan terasa sangat istimewa.

Namun, kenyataan berbicara sebaliknya. Di detik-detik akhir sebelum pistol dibunyikan, Liu mengalami cedera yang sangat serius. Cedera ini membuatnya harus mengundurkan diri, dan itu artinya mengecewakan jutaan pendukung di negerinya. Sebuah mimpi buruk yang tidak diinginkan oleh setiap atlet. Oleh karena itu, di Olimpiade berikutnya, Liu bertekad untuk menebus kegagalannya ini.

Empat tahun berselang, Liu kembali tampil mewakili Cina di Olimpiade London. Segala persiapan sudah dilakukan untuk mengantisipasi agar cedera tendon Achilles-nya tidak kambuh. Sayangnya, di babak penyisihan pertama, Liu harus tersungkur karena gagal melampaui halang rintang. Liu tampak merintih dan mengisyaratkan pergelangan kakinya mengalami cedera yang sangat serius.

Tanpa bantuan siapapun, Liu bangkit dan berjinjit menuju ruang ganti dengan bertumpu hanya pada satu kaki. Namun Liu mengurungkan niatnya, dan berbalik arah kembali menuju lintasan stadion. Sambil melompat-lompat menggunakan kaki kiri, Liu menyusuri sisi lintasan untuk menuntaskan perlombaannya menuju garis Finish. Sesaat sebelum sampai garis Finish, Liu sempat mencium gawang dengan raut muka penuh kesedihan dan kekecewaan. Ia disambut tepuk tangan meriah para penonton. Rekan-rekan sesama atlet membantunya untuk berjalan. Salah satu diantaranya bahkan mengangkat kepalan tangan Liu, seolah ingin menunjukkan bahwa ia adalah Sang juara sejati.

Surabaya, Desember 2018

*Anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here