Catatan Oase Kehidupan #248: Berusaha Menjadi Bagian Yang Bermanfaat

0
455
Foto suasana rapat ormas Islam di Pusat Dakwah Muhammadiyah ( pusdam) Surabaya bahas masalah keummatan diambil oleh bob novi

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Hari Selasa (18/12) bagi saya merupakan perjalanan hari yang banyak memberi pelajaran. Sesaat saya memasuki kelas pertama persiapan calon tenaga kerja Indonesia di BNP2TKI Surabaya, saya jumpai beberapa calon tenaga kerja yang akan berangkat ke luar negeri. Mereka rata rata bekerja di sektor non formal, misalkan menjadi sopir, kuli dan asisten rumah tangga. Ada yang menjaga orang tua dan ada juga yang menjaga anak anak.

Sebagaiamana biasanya, saya selalu bertanya kepada kawan kawan calon TKI ke luar negeri. Mengapa anda semua harus bekerja ke luar negeri? Ada banyak ragam jawaban yang mereka lontarkan, ada yang bertujuan memperbaiki ekonomi, ada yang bertujuan membahagiakan keluarga, menyekolahkan anak, modal usaha dan lain lain. Tak jarang juga diantara mereka yang sambil bergurau menyampaikan menyampaikan akan membeli tanah, membeli mobil dan lain sebagainya.

Mendapati banyaknya ragam jawaban itu, saya lalu melanjutkan pertanyaan kepada mereka, apa bedanya kebutuhan dan keinginan. Saya mengingatkan kepada mereka, jangan jangan persoalan yang kita hadapi saat ini, bukanlah persoalan kita, tapi persoalan yang kita buat buat. Lalu saya menggali jawaban dari mereka. Salah satu peserta ada yang menyampaikan bahwa kebutuhan adalah sesuatu yang harus, sedang keinginan adalah sesuatu yang bisa ditunda. Saya melanjutkan pertanyaan apa bedanya sesuatu itu bersifat harus dan sesuatu yang bersifat bisa ditunda.

Sesuatu yang harus maka tidak boleh ditunda, kalau ditunda maka akan jadi masalah, begitu juga dengan sesuatu yang bisa ditunda. Sesuatu yang bisa ditunda kalau kita tunda maka tidak akan menjadi masalah. sehingga saya mengajak kepada mereka untuk sementara melupakan keinginan, kita fokus pada kebutuhan. Lalu mereka saya ajak memotret apa saja yang tadi sudah disebutkan sebagai keinginan dan apa yang menjadi kebutuhan. Kalau diuangkan maka sesungguhnya apa yang menjadi keinginan, mewarnai sepertiga atau bahkan separoh dari persoalan yang kita hadapi. Saya lalu mengingatkan kepada mereka, jangan jangan kita ini menghadapi masalah bukan karena menyangkut kebutuhan, tetapi lebih menyangkut keinginan. Itulah yang kata Allah dalam Al Qur’an sebagai hawa nafsu yang menjerumuskam pada perbuatan yang jahat, yang akan menjerumuskan kita pada jurang kesulitan. Sikap syukur merupakan sebuah keniscayaan dalam menghadapi mumculnya kesulitan. Bagi saya makna syukur itu adalah cerdas dalam menyikapi dan cerdas dalam menyusun jalan keluar dari masalah.

Sikap syukur adalah sikap yang mampu menerjemahkan langkah langkah penyelesaian dalam bentuk aktivitas aktivitas kecil yang bisa dilaksanakan. Sehingga segala sesuatunya menjadi terasa mudah dan bisa dilakukan.

Kejadian kedua adalah ketika saya memasuki ruang kelas mahasiswa saya. Kebetulan saat itu saya harus menjelaskan tentang makna penulisan agar bisa membangun respek dari orang lain. Mata kuliah saya adalah psikologi komunikasi. Dalam setiap kesempatan, saua selalu menekankan kepada adik adik mahasiswa bahwa sebuah tulisan akan berdampak positif, bila sebuah tulisan dikemas dengan pola ” I am ok, you are ok “. Kalau setiap tulisan mampu membangun sebuah kenyamanan, meski isinya adalah sebuah kritikan, maka orang tidak akan merasa sedang dikritik, tapi justru akan merasa senang karena merasa ada yang menyempurnakan gagasan. Nah kali ini saya akan mengajak kepada adik adik mahasiswa bagaimana mengkonstruksi sebuah tulisan yang ” I am ok, you are ok “.

Nah sayapun mengajak salah satu mahasiswa untuk maju dan mengucapkan sebuah peristiwa yang dia alami. Lalu yang lain mengeksplorasi dengan pertanyaan pertanyaan yang bisa dijawab dari kalimat yang diucapkan oleh salah satu mahasiswa tadi. Karena harapannya agar bisa menjadi sebuah laporan yang bisa dipertanggungjawabkan dalam penulisannya, maka sayapun mengajak kepada mahasiswa untuk menggunakan kaidah kaidah penulisan jurnalistik.engalirlah banyak pertanyaan dari mahasiswa, dan jawaban bisa diambil dari pernyataan yang ada.

Setelah dirasa cukup eksplorasi pertanyaannya, maka sayapun mulai menjabarkan menjadi langkah langkah muda dalam menyusun tulisannya. melalui slide power point, saya meminta mahasiswa untuk merangkai semua jawaban yang sudah didapatkan menjadi sebuah tulisan satu paragraph. Tekanan saya pada mereka adalah menulis itu tak hanya melibatkan nalar, tapi juga harus bisa melibatkan rasa, sehingga kita bisa memilIh kata yang bermakna tepat dan punya pengaruh.

Saya dampingi satu persatu, lalu saya coba minta kembali mereka merasakan apa yang sudah dituliskan. Hasilnya luar biasa, banyak tulisan mereka yang berjiwa, mampu memilih kata yang punya energi dalam penulisan. Dan hasilnya saya kira cukup luar biasa, dari tulisan sederahana tentang sebuah fakta yang ada, mereka dapat merangkainya menjadi sebuah berita dan merangkai kata menjadi judul yang unik.

Bagi saya, dua peristiwa hari ini yang saya alami, merupakan sebuah kejadian yang bukan sebuah kebetulan, tapi inilah langkah takdir bagaimana Allah memberi kesempatan untuk bisa berbagi dengan siapapun.

Sebaik baik manusia adalah mereka yang bisa memberi manfaat bagi yang lainnya. ( Al Ha dits)

Nah kawan kalau kita tak bisa berbuat baik sama orang, setidaknya janganlah kalian menjelekkan dia, begitu juga kalau kita tak bisa membantu orang lain berbuat baik, maka setidaknya jangan mengganggu dan mencela.

Semoga Allah menjadikan orang yang baik dan sabar serta bersyukur.

Assalammualaikum wr wb..

Surabaya,  Desember 2018

*Dewan Anggota Pendidikan Jawa Timur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here