Catatan Oase Kehidupan #249: Ibu Sebagai Sekolah Utama

0
287
Foto emak emak tangguh dari SMP Negeri 16 Surabaya diambil dari dokumen pribadi sekolah

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Besok kita akan merayakan hari ibu, hari yang diperingati sebagai penghormatan kepada kaum perempuan kaum ibu. Tentu penetapan tanggal 22 Desember sebagai hari Ibu tidak sekedar hanya ditetapkan, tetapi ada makna yang melatar belakanginya.

Hari Ibu sendiri ditetapkan oleh Presiden Soekarno. Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden Nomor 316 tahun 1959 menetapkan tanggal 22 Desember sebagai hari ibu. Hal ini karena pada tanggal tersebut pertama kalinya diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia yang dilangsungkan di Jogjakarta tahun 1928. Peristiwa ini dikenang sebagai awal mula perjuangan kaum perempuan di Indonesia.

Pada tanggal tersebut berbagai pemimpin dari organisasi perempuan di seluruh Indonesia berkumpul untuk bersatu dan berjuang untuk kemerdekaan serta perbaikan nasib kaum perempuan.

Perjuangan perempuan harus dimaknai tidak saja mereka berjuang di medan perang maupun medan sosial tapi ada perjuangan mereka ketika berjibaku dengan janin yang dikandungnya. 9 bulan 10 hari bukanlah sesuatu yang pendek bagi seorang ibu mengandung bayi. Mereka jaga dalam terminologi kerahimannya. Dalam wadah kasih sayang setulus tulusnya. Seluruh gerak gerik sang bunda tak bisa lagi semaunya. Mereka semua menyesuaikan dalam bentang kemauan sang jabang bayi yang dikandungnya. Ibu adalah kasih sayang. Sehingga mencampakkan ibu searti dan sebangun dengan mencampakkan kasih sayang.

Dalam proses perjalanan menemani sang bayi dalam kandungan sampai pada batas akhir kelahiran, seorang ibu selalu berhati hati dalam tutur dan tingkah laku, sehingga sang jabang bayi mendapatkan kasih sayang penuh sampai menuju kelahirannya. Proses kelahiran itu saya menggambarkannya dengan perumpamaan telur yang pecah dari dalam. Akan lahir sebuah kehidupan baru.

Ibu adalah potret proses pendidikan yang penuh kasih sayang. Potret pendidikan dimana anak terlibat dalam menentukan suatu proses dijalankan. Sehingga anak mendapatkan rasa aman ketika mengikuti proses. Perasaan aman bagi anak dalam mengikuti proses akan menumbuhkan semangat belajar yang kuat.

Tugas pendidikan sejatinya bukanlah menjadikan, tapi mengantarkan dan memfasilitasi untuk menjadi dirinya sendiri. Itulah yang disebut sebuah kehidupan.

Mengibukan pendidikan kita adalah sebuah tuntutan ditengah keringnya kasih sayang yang melanda. Sekolah harus hadir sebagai pengayom dan pelindung bagi anak. Sekolah mengerami mereka, memberi kemudahan dan kenyamanan bagi mereka.

Nah hari ini, Jum’at, 21 Desember 2018, usai sudah ditahun ini mengantarkan sekolah sekolah SMA di Jatim untuk menjadi sekolah ibu, sekolah yang ramah terhadap anak. Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada pemerintah Provinsi Jatim, Dinas Pendidikan Jatim dan Para sekolah mitra yang sudah dengan semangat tulus melakukan upaya menjadikan sekolahnya sebagai sekolah yang melayani, sekolah ramah anak.

Semoga saja upaya perlindungan anak Jatim semakin baik dan berkualitas.

Assalamualaikum wr wb…

Surabaya, Desember 2018

*Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak ( LPA) Jatim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here