Catatan Oase Kehidupan #251: Menuju Resolusi 2019 Perlindungan Anak Jatim

0
415
Ilustrasi diambil dari okezone.news

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Kawan.. Sebentar lagi 2018 akan kita tinggalkan, dan kita akan memasuki bahtera 2019. Tentu ada beberapa catatan penting dalam perjalanan yang kita lalui selama tahun 2018. Nah beberapa hal penting itu, saya hanya ingin membatasi pada dua persoalan yaitu tentang pendidikan dan perlindungan anak.

Berangkat dari data yang dipublikasikan oleh Lembaga Perlindungan Anak ( LPA ) Jatim yang dibuat sebagai catatan akhir tahun 2018 disebutkan bahwa data kekerasan anak tahun 2018 sebanyak 464 sedang tahun 2017 sebanyak 549. Terjadi penurunan sebesar 20 %. Meski kuantitasnya turun, namun kualitasnya justru semakin meningkat. Tahun 2017 tidak ada laporan penyimpangan perilaku penggunaan zat adictive seperti “ngelem”. Selain itu juga kekerasan seksual masih menduduki peringkat pertama penyimpangan perilaku. Nah yang mengejutkan adalah pelakunya juga ada yang anak anak sekitar 35 % dari 143 kasus yang ada.

Dari catatan LPA Jatim juga didapatkan potret tempat kejadian, rumah masih menjadi tempat yang aman dalam melakukan kekerasan dan penyimpangan perilaku. Tercatat 130 kali terjadi di rumah, jalan dan lahan kosong menduduki tempat kedua dan ketiga serta sekolah sebagai lokasi terjadinya kekerasan.

Nah dari laporan akhir tahun itu kita dapat gambaran ada persoalan tentang rumah dan keluarga. Mengapa rumah bisa menjadi tempat yang aman? Saya juga mendapatkan data hasil penelitian hotline pendidikan yang dipublikasikan tahun 2013, tentang jam efektif orang tua dengan anak dan guru dengan anak. Dalam penelitian itu disebutkan bahwa jam efektif orang tua dengan anak dalam satu tahun tidak lebih dari 120 jam. Itu artinya waktu efektif yang tersedia bagi komunikasi orang tua dan anak dalam satu hari tak lebih dari 20 menit, nah kadang yang 20 menit tidak digunakan secara baik. Orang tua seringkali mengambil posisi selalu menyalahkan anak. Sementara sekolah mempunyai waktu efektif bersama anak sekitar 750 jam setahun, sehari sekitar 2.5 Jam – 3 Jam. Tapi kadang sekolah juga hanya monoton berkutat tentang mata pelajaran, bukan dialog yang membangun kebersamaan dengan anak.

Apa akibatnya? Kalau melihat dari kaitan kaitan penelitian yang dilakukan, sepertinya ada benang merah keberjarakan antara orang tua dan anak. Nah ada baiknya merekatkan kembali hubungan antara anak dan orang tua ditengah derasnya arus informasi saat ini.

Merekatkan kembali hubungan itu berkaitan membangun kesadaran hak dan kewajiban masing masing. Dalam membangun kesadaran itu perlunya penguatan peran keluarga dalam pengasuhan terhadap anak. Apalagi anak anak zaman millenial. Orang tua harus memahami pola hubungan dan komunikasi yang egaliter, sehingga anak akan merasa aman bersama orang tuanya.

Nah bagi saya resolusi tahun 2019 bagi kepentingan terbaik anak adalah dengan meningkatkan kembali peran keluarga melalui penguatan pola asuh, sehingga keluarga menjadi pengasuhan kembali setelah itu sekolah dan lingkungan. Menjadikan sekolah kita menjadi sekolah yang ramah anak dengan menciptakan lingkungah terbaik bagi anak. Negara hadir sebagai fasilitator tidak selalu harus menjadi eksekutor. Negara menjadi penjahit atas berserakannya potensi masyarakat dalam perlindungan anak, sehingga menjadi energi besar perlindungan anak di Jawa Timur.

Surabaya, Desember 2018

*Sekretaris LPA Jawa Timur dan Anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here