Catatan Oase Kehidupan #255 : Ketika ” Lumpuh ” Memaknai Narasi Besar Indonesia

0
73
Foto obyek wisata diambil dari indahnya.indonesia.web.id

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Bangsa ini dihadirkan dengan tujuan mencerdasakan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang pada akhirnya akan menjadikannya sebagai bangsa merdeka, bersat berdaulat serta adil dan makmur. Pernik pernik tujuan dihadirkan negara itulah yang akan dirajut oleh sebuah gagasan besar bernama Pancasila.

Saya Pancasila dan Saya Indonesia lahir dari sebuah gagasan besar tentang rasa ke Indonesiaan. Gagasan tentang rasa ke Indonesiaan itu ditandai dengan kemampuan menghargai kebhinekaan, kemampuan menghormati perbedaan sehingga disana ada toleransi dan kemerdekaan memegang akal sehat tanpa ada pemaksaan.

Namun sayangnya, gagasan besar tentang rasa ke Indonesiaan itu kemudian lumpuh digenggaman orang orang yang tak mampu merawat akal sehat dan nalar kemerdekaan. Nah disaat seperti itulah, konsensus konsensus yang sudah disemai oleh para pendiri mengalami amputasi. Memaksakan kehendak dan mengintimidasi siapa saja yang dianggap berbeda.

Tahun 2018 banyak ditandai kelumpuhan akal sehat dalam memaknai narasi besar tentang rasa ke Indonesiaan. Penangkapan ulama dan pemenjaraan orang orang kritis dengan dalih radikalisme dan intoleran, adalah potret kelumpuhan akal sehat merawat rasa ke Indonesiaan. Pembubaran HTI dengan tuduhan akan mendirikan negara khilafah menunjukkan ada kecemasan yang menyebabkan terganggunya kesehatan akal. Hal lain yang juga menunjukkan gagalnya kita membangun rasa ke Indonesiaan adalah lahirnya perpu pembubaran ormas yang dianggap tidak sejalan dengan nalar kekuasaan, serta aksi kekerasan mengintimidasi para pengikut tagar ganti presiden mengindikasikan akal sehat ke Indonesiaan kita sedang terganggu, hal lain dilarangnya peredaran buku Bambang Tri, Jokowi Undercover dan yang terakhir dipenghujung tahun 2018, kita disuguhi dengan razia buku buku yang diindikasikan sebagai penyebaran PKI. Bagaimana mungkin sebuah gagasan diadili dan kemudian dijebloskan kedalam penjara hanya karena berbeda dengan nalar kekuasaan? Sudah sebegitu suramkah perjalanan demokrasi dinegeri yang dibangun gagasan besar dan suci ini? Mengapa bisa terjadi?

Menarik sejatinya gagalnya kekuasaan merawat akal sehat bila dikaitkan dengan gagasan postmodernisme Lyotard menyatakan bahwa postmodernisme bukanlah suatu epos sejarah baru tetapi merupakan fase sejarah yang berulang yang terdapat di dalam modernisme. Posmodernisme bukanlah akhir dari modernisme tetapi keadaan yang baru lahir dan keadaan ini terulang lagi.

Modernitas bagi Lyotard dikarakterisasikan dengan keunggulan narasi besar. Namun kebanyakan dari proyek narasi besar gagal, seperti komunisme misalnya. Lyotard merasa saat ini merupakan era yang tepat untuk menyatakan”perang” atas perspektif totalistik seperti itu.

Paradigma Lyotard tentang kegagalan ini berbaris lurus dengan pemikiran begitu pula seperti yang dinyatakan oleh Zygmunt Bauman dalam peristiwa Auschwitz, yaitu upaya pembinasaan orang Yahudi oleh Nazi yang menggunakan narasi besar modern (kemenangan akhir ras Arya).

Gagasan gagasan besar seharusnya dirawat dikendali mereka yang berjiwa besar. Para pendiri bangsa sudah pernah memberikan contohnya. Meski Soekrano berbeda dengan M. Natsir, mereka tetap bisa duduk menata negara. Tidak ada caci maki dan celaan antar mereka. Sense of humor mereka sangat tinggi dalam mengelola dan merawat Indonesia. Agus Salim yang penampilannya dengan berjenggot pernah diundang cerama disebuah acara yang dipenuhi oleh mereka yang berpaham berbeda, saat beliau bicara, tiba tiba dikerumunan massa ada teriakan ” embeeek, embeeek ” berkali kali. Marahkah Agus Salim? Tidak. Bahkan dengan kelakarnya Agus Salim bertanya kepada panitia, bukankah saya tadi diundang untuk berceramah dihadapan manusia, kenapa kok terdengar suara kambing? Begitu juga dengan dihapuskannya tujuh kata dalam piagam Jakarta, kewajiban menjakankan syariat Islam bagi pemeluknya. Lalu mereka berniat berpisah dari Indonesia? Tidak. Karena mereka para pendiri bangsa ini adalah orang orang yang berjiwa besar dan mampu merawat narasi besar rasa ke Indonesiaan.

Indonesia yang lahir dari gagasan besar seharusnya dirawat dengan akal yang sehat dan berjiwa besar, mereka yang menghargai kemerdekaan berpikir, mampu merawat perbedaan dan menghornati, bukan mereka yang suka marah dan mengintimidasi.

Resolusi 2019 menjadikan Indonesia yang baik harus dilakukan dengan keberanian melakukan perubahan, songsonglah perubahan menuju Indonesia yang bermartabat dan berkeadilan bukan Indonesia yang dipenuhi oleh keculasan.

Selamat menyongsong tahun 2019 dengan semangat yang optimis, selamat tinggal 2018 yang penuh kenangan dan dinamika mendewesakan

Assalamualaikum wr wb..

Surabaya, Januari 2019

*Anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here