Catatan Oase Kehidupan #257: Mempertanyakan Nasib Pemilik Kartu BPJS?

0
144
Foto antrian bpjs diambil dari facebook

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Saya adalah bagian dari jutaan masyarakat Indonesia pemegang kartu BPJS mandiri. Awal awal diberlakukannya BPJS saya sejatinya tidak tertarik, tapi karena saat itu ada “ancaman” kalau tidak menjadi klien BPJS dalam pengurusan administrasi kependudukan akan menjadi sulit, konon katanya akan ditanya keanggotaan sebabagi peserta BPJS persyaratan mengurus surat surat kependudukan.

Karena tak ingin hal hal lain menjadi semakin ribet akibat tak menjadi peserta BPJS, maka sayapun mengurus kepesertaan saya. Sebagai penjamin kesehatan, saya awalnya membayangkan kepesertaan ini bersifat sukarela, tapi kenyataannya memaksa. Karena tidak boleh kita mendaftarkan sebagian saja dari keluarga kita, semua harus didaftarkan. Maka jadilah semua harus didaftarkan.

Pada proses pendaftaran yang dilakukan di kantor BPJS itupun juga tak sederhana. Berjubel ratusan manusia mengantri untuk hanya mendaftar sebagai peserta BPJS. Butuh waktu dua hari saat itu untuk bisa tercatat menjadi peserta jaminan kesehatan BPJS. Selesaikah persoalan disitu? Ternyata belum, saya harus mengganti bank rujukan pembayaran, karena bank rujukan pembayaran harus bank konvensional bukan bank syariah. BPJS belum punya kerjasama dengan bank syariah. Akhirnya sayapun harus membuka rekening baru di bank konvensional.

Pada proses layanan kesehatannya seperti apa? Nah segera akan saya buat tulisan lanjutannya, insyaa Allah.

Surabaya,  Januari 2019

*Anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here