Catatan Oase Kehidupan #259: Belajar dari Revolusi Sosial Tunisia

0
93
Foto bouzizi pahlawan perlawanan kemiskinan dari tunisia ( terbaring) diambil dari Beranda-Ku

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Pada 17 Desember 2010 di Tunisia, Mohammed Bouazizi, pemuda penjual buah dan sayuran kaki lima di kota Sidi Bouzid terjaring razia. Pemuda yang biasa nrimo ini kena razia bukanlah yang pertama, tetapi ini akan menjadi yang terakhir bagi Rezim Tunisia Ben Ali.

Polisi yang melakukan razia tak terima dengan Bouazizi yang tak mampu membayar denda sebesar 7 dinar dari denda sebesar 10 dinar.

Plak! Pemuda itu ditempeleng dan dinista oleh polisi didepan umum. Bagi Bouazizi, tamparan itu dimaknai sebagai penghinaan terhadap ayah dan ibunya yang telah melahirkan dan merawatnya dengan kasih sayang. Ia pun protes. Ia mendatangi balai kota untuk berbicara. Namun pejabat disana tak ada yang mau menemui.

Merasa frustasi atas ketidak adilan yang menimpanya, Bouazizi pergi kesebuah taman besar di pusat keramaian kota. Ia mengambil jirigen berisi bensin dan kemudian menyirami seluruh tubuhnya dengan bensin hingga basah kuyup. Ia pun lalu membakar dirinya sambil berteriak teriak menuntut keadilan atas perlakuan tidak adil yang diterimanya dari polisi. Dalam sekejap api menghanguskan dirinya dan Bouzizi rebah jasadnya diatas tanah perjuangan. Disaksikan orang banyak, jasad Bouzizi yang berteriak tentang keadilan membangun gelombang magnetik warga Tunisia yang merasakan perlakuan yang sama. Bouzizi berpikir hanya dengan cara itulah seseorang akan didengar.

Foto dirinya yang terbakar di balai kota sekejap menjadi viral dan menjadi cerita perlawanan terhadap rezim yang sewenang wenang. Ini adalah kesedihan rakyat, bukan hanya sekedar persoalan Bouzizi dan rakyat Tunisia, tapi ini adalah persoalan rakyat Tunisia, apalagi mereka yang tahu ceritanya dan mempunyai pengalaman yang sama tentang perlakuan sewenang wenang rezim. Foto dan berita yang viral itu seolah menjadi sebuah ajakan untuk bergerak.

Presiden Tunisia, Zine Abedine Ben Ali sempat mengunjugi Bouzizi pada tanggal 28 Desember 2010 untuk meredam kemarahan rakyat. Namun tragis presiden Ben Ali meninggal pada 4 Januari 2011. Rakyat Tunisia pun berduka, sekaligus marah. Bagi mereka kesewenang wenangan polisi adalah cermin kesewenangan rezim berkuasa presiden Ben Ali yang memerintah dengan cara cara semaunya sendiri dan melanggar hukum.

Massa yang bersimpati berubah menjadi gerakan massal untuk melawan penguasa. Hanya 10 hari setelah meninggalnya Bouzizi, Rezim Ben Ali yang sudah berkuasa hampir 25 tahun pun tumbang.

Surabaya, Januari 2019

*Anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here