Catatan Oase Kehidupan #261: BPJS Kesehatan Wajahmu Dulu dan Kini

0
251

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Tulisan yang pernah saya tulis beberapa waktu tentang yang lalu, mempertanyakan nasib pemilik kartu BPJS mendapatkan respon yang cukup beragam dari sahabat sahabat saya. Respon bisa diduga berkaitan dengan manfaat yang pernah didapatkan oleh si pemegang kartu BPJS. Saya memahami betapa diawal layanan BPJS kesehatan menjadi oase bagi kalangan menengah kebawah, ataupun kalangan atas yang akan bergeser ketengah atau bahkan kebawah, karena mahalnya biaya kesehatan. Sampai sampai kita mendengar sebuah jargon yang mengatakan orang miskin dilarang sakit.

Pernyataan orang miskin dilarang sakit pelahan menjadi tidak relevan lagi dengan hadirnya BPJS kesehatan, karena memang hadirnya BPJS sangat membantu. Rumah sakit menjadi sangat kewalahan, setiap orang yang sakit tidak mau lagi berobat ke puskesmas atau ke dokter, mereka langsung ke rumah sakit. Hampir semua penyakit yang terkategori berat dan butuh biaya mahal, bisa dicover oleh pembiayaan BPJS kesehatan. BPJS Kesehatan menjadi oase bagi semua. Bahkan respon dari senior saya Bapak Djoko Oetomo yang mengatakan bahwa putranya yang mengalami gangguan ginjal dapat dibiayai oleh BPJS sampai dengan angka 80 juta rupiah. Nah saya kira itu dulu diawal awal pemberlakuan BPJS Kesehatan.

Lain lagi yang dialami oleh sahabat saya bunda Nur Tsuroyah yang menuliskan betapa rumitnya prosedur untuk mendapatkan layanan rumah sakit karena harus memulaidari awal akibat kebijakan yang terbaru. Bahkan sekarang BPJS tidak lagi mengcover gangguan penyakit berat sebagaimana layanan yang pernah dialami oleh senior saya diatas tadi. Rumah sakit tak mau lagi menerima pasien tanpa rujukan dari faskel tingkat pertama yaitu puskesmas.

Sebagai masyarakat tentu mau tidak mau harus mengikuti prosedur itu, karena itu menjadi kewajiban yang harus dijalani. Namun sayangnya kewajiban pemerintah sebagai pemberi layanan tidak berjalan seiring dengan kewajiban warga pembayar BPJS Kesehatan. Hak warganegara adalah mendapatkan layanan yang baik dan berkualitas. Namun sayangnya hak warganegara tidak diberikan secara baik seiring dengan kebaikan kewajiban yang dilakukan. Mereka membayar tak pernah terlambat, kalau terlambat akan didenda, kalau pada saat sakit dan belum membayarkan kewajibannya, maka tidak akan mendapatkan klaim dari BPJS kesehatan. Nah pada posisi ini negara mau menangnya sendiri, bertindak sewenang wenang terhadap rakyatnya. Bahkan yang lebih mengerikan saat ini banyak rumah sakit yang menolak pasien berkategori BPJS kesehatan yang dikelola oleh pemerintah. Ada apa ini? Alasannya pemerintah banyak melakukan tunggakan terhadap rumah sakit, nah lagi lagi rakyat menjadi korban kebijakan. Mengapa pemerintah menunggak, mengapa rumah sakit tega menolak pasien, dan uang rakyat dalam bentuk pembayaran BPJS kesehatan dikemanakan? Cukup banyak hal yang menjadi pertanyaan, meski sampai sekarangpun pemerintah belum mampu memberi jawaban.

Lalu bagaimana dengan layanan di Puskesmas? Saya pernah menghitung lamanya layanan di Puskesmas Tanah Kali Kedinding, dimana tempat itu menjadi puskesmas rujukan pertama. Waktu itu saya mengalami gangguan kesehatan yang saya kuatir akan menjadi penyakit typus. Karena saya hampir mempunyai siklus enam bulanan mengalami gejala seperti panas, mual dan terasa lemas. Nah karena saya kuatir ini adalah gejala penyakit typus, maka saya menggunakan fasilitas kartu BPJS Kesehatan yang saya miliki. Saya pengguna kartu BPJS kelas satu, tentu saja kewajiban pembayaran berbeda dengan kelas dua dan kelas tiga. Nah yang saya alami tentu sangat jauh berbeda dengan harapan yang saya bangun. Hanya ingin diperiksa oleh dokter dan mengetahui penyakit apa sesungguhnya dan mendapatkan obat, saya butuh waktu tidak kurang dari 5 jam, mulai dari pendaftaran, lalu mengantri dan mendapatkan kesempatan konsultasi dengan dokter serta mengambil obat. Bisa dibayangkan waktu 5 jam saya habis di puskesmas, dan saya harus meninggalkan pekerjaan. Apa artinya gambaran yang saya berikan itu? Kalau saya bekerja sebagai buruh lepas harian, dan saya sakit, maka saya pasti tidak akan bisa bekerja, itu artinya rezeki saya akan hilang, karena waktu saya habis di puskesmas. Kembali berlaku bahwa orang miskin dilarang sakit.

BPJS sendiri sekarangpun enggan membiayai pengobatan sakit kita, peraturan yang ada BPJS hanya membiayai pengobatan penyakit penyakit ringan, tak lagi penyakit penyakit berat, padahal kita semua juga tak berharap untuk sakit. Namun kalau kita diuji dengan penyakit berat, maka pilihannya hanya dua mati atau hidup, meski mati dan hidup itu adalah takdir Tuhan.

Berita mengejutkan yang terbaru semakin banyak rumah sakit yang menolak pasien yang berkategori dibiayai BPJS, nah kalau sudah begini rakyat harus bagaimana? jagalah kesehatan saja, agar kita bisa banyak menyumbang negara cuma cuma melalui BPJS kesehatan. Biarlah iuran kita digunakan untuk menggaji para direksi yang konon kabarnya gajinya ratusan juta. Tetaplah sabar anda, meski kita sadar kita telah terzdolimi layanan BPJS Kesehatan.

Allah Maha Besar, semoga Allah selalu memberi kesehatan dan kesabaran, sehat badan kita dan sehat keuangan kita, sehingga kita tetap sabar membayar iuran BPJS kesehatan meski BPJS tidak sehat dalam melayani kita.

Surabaya, Januari 2018

*Dewan Pendidikan Jawa Timur dan Pengamat Sosial

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here