Catatan Oase Kehidupan #267: Antara BPJS, Tiket Pesawat dan Jalan Toll

0
155
Foto Jalan Tol yang Menakjubkan diambil dari Yukepo.com

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Mungkin anda bertanya apa hubungannya BPJS yang bergerak dalam bidang kesehatan dengan tiket pesawat yang berhubungan dengan penerbangan penumpang serta keberadaan infrastruktur jalan toll. Ya memang tidak ada hubungannya, tetapi ketiga tiganya berkaitan dengan daya beli masyarakat dan rasa keadilan masyarakat.

Nah gonjang ganjing layanan kesehatan rumah sakit yang menolak pasien BPJS serta mahalnya harga tiket pesawat dimulai dari dicabutnya tarif gratis bagasi beberapa maskapai dalam negeri sampai 10 Kg, membuat tarif pesawat semakin mahal. Tentu disini akan berlaku hukum ada uang abang disayang, tak ada uang abang ditendang. Orang miskin dilarang sakit dan orang miskin tidak boleh naik pesawat.

Mengapa bisa terjadi?

Mencari untung sejatinya merupakan hal yang biasa dalam sebuah industri, tapi dalam berbisnis tidak cukup hanya mencari untung saja, tapi membangun relasi dan layanan yang baik dan bermutu juga merupakan sebuah keharusan. Apa yang terjadi pada layanan rumah sakit pasien BPJS dan tiket pesawat domestik yang terlihat adalah mereka hanya mencari untung, tak peduli dengan model layanan yang diberikan.

Layanan pesawat domestik LA yang banyak dikeluhkan karena aturan keselamatan penerbangannya yang lemah dan berkali kali terjadi insiden, dan sering terlambat, justru sekarang mempelopori pencabutan biaya gratis bagasi penumpang, dan ini akan menyebabkan harga tiket pesawat yang menguasai seluruh jalur akan semakin mahal. Masyarakat yang duit tetapi tidak punya pilihan tentu akan dengan terpaksa menerimanya. Bagi masyarakat yang punya pilihan tetapi duitnya terbatas maka mereka akan memggunakan jalur lain. Hal yang sama terjadi pada pasien rumah sakit BPJS. Kalau mereka punya pilihan maka mereka akan membayar lebih mahal demi mendapatkan layanan kesehatan dari rumah sakit. Bagi mereka yang tak punya pilihan, maka mereka harus rela berdesak desakan dan antri berjam berjam hanya demi mendapatkan layanan kesehatan yang menjadi haknya.

Apa artinya itu semua?

Dalam hidup itu berlaku hak dan kewajiban. Namun meski anda telah menjalankan kewajiban ternyata belum tentu kita bisa mendapatkan hak kita dengan baik. Bukankah sebagaian mereka pemegang kartu BPJS itu sudah menjalankan kewajibannya membayar iuran kesehatannya, bahkan mereka harus bayarkan semua tanggungan keluarganya, tapi ternyata kalau ada salah seorang dari anggota keluarganya yang terganggu kesehatannya, belum tentu haknya mendapatkan layanan kesehatan bisa didapatkan.

Tentu ini menjadi hal yang aneh, bukankah negara ada untuk memberi jaminan kepada mereka. Mereka adalah warganegara yang baik, mereka tidak hanya membayar iuran BPJS, mereka juga para pembayar pajak. Sehingga seharusnya tanpa diminta negara harus hadir melayani.

Ada rasa keadilan yang terabaikan, tidak semua warganegara pembayar pajak ini bisa menikmati wajib pajaknya yang dikelola oleh negara. Rakyat seolah menjadi ” sapi perah ” kerakusan dan ambisi negara untuk melaksanakan pembangunan. Mereka membayar pajak dan uang hasil keringatnya, tapi ketika mereka membutuhkan negara angkuh untuk memberikan.

Hal yang sama juga terjadi pada pembangunan jalan toll yang dibangga banggakan. Siapakah yang menikmati pembangunan jalan toll yang dibangun dari uang pajak rakyat? Kalangan tertentu yang menikmati, anda pemilik motor, anda pasti wajib membayar pajak setiap tahun, namun adakah anda bisa menikmati jalan yang bebas hambatan meski bukan jalan toll.

Sepertinya ada yang terlupakan dalam berkewarganegaraan kiat, masyarakat Indonesia itu teridiri dari banyak latar belakang dan ” kasta “, namun sayangnya ditengah keberagaman yang ada negara hanya hadir lebih banyak untuk kalangan tertentu, kalau boleh disebut negara hanya hadir untuk kasta brahma dan satria, yang didalamnya adalah tokoh dan pejabat yang mempunyai pengaruh dan uang. Kasta yang lain kalau boleh tidak boleh mengalami gangguan agar tidak menuntut pelayanan.

Tentu kita semua merindukan hadirnya negara yang kuat yang melindungi rakyatnya, sepertinya kerinduan itu akan terobati bila bangsa ini kembali kepada UUD 1945 tanpa amandemen dan Pancasila.

Semoga saja kita semua rakyat Indonesia kebanyakan selalu diberi kesabaran dan kesehatan serta kekuatan, agar kita menjadi warga yang tangguh dan tak mudah mengeluh. Semoga juga ditahun 2019 ini ada harapan baru dan layanan keadilan yang berpihak kepada masyarakat semua.

Surabaya,  Januari 2018

*Pegiat sosial kemasyarakatan, tinggal di Surabaya & Anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here