Catatan Oase Kehidupan #275: Ketika Kaum Intelektual di Persimpangan Jalan

0
256
Foto marka jalan diambil dari google

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Mengkategorikan seorang intelektual ke dalam kategori berada dipersimpangan jalan atau pun pada jalan yang benar bukanlah sesuatu yang mudah. Sistem nilai dan kondisi politiko-kultural dalam sebuah masyarakat perlu dipertimbangkan untuk menilai posisi seseorang dalam konteks sejarah tertentu. Pada umumnya ketersesatan jalan intelektual itu terjadi ketika terjadi kebersinggungan dengan kekuasaan. dibenarkan.

Julien Benda pernah menulis buku “La Trahision Des Clercs” dalam bahasa Perancis yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Pengkhianatan Kaum Cendekiawan”. menjelang invansi Nazi-Hitler diawal 1930-an, yang isinya tetap relevan hingga kini.

Saya lebih suka menyebutnya sebagai intelektual berada dipersimpangan jalan daripada pengkhianat dalam khasanah perdebatan intelektual. Karena pilihan yang dilakukan oleh seorang intelektual pasti ada alasan, nah pada substansi alasan inilah menjadi penting, alasan demi kepentingan yang berkaitan dengan orang banyak atau kepentingan diri sendiri.

Bagi saya intelektual itu dibaratkan sebagai penjaga pikir, tentu yang dimaksud adalah pikir yang berkaitan dengan nilai nilai universal kemanusiaan, kepentingan besarnya adalah menjaga nilai nilai kemanusiaan. . Meminjam istilah yang disebut oleh Ali Syariati, seorang sosiolog asal Iran, cendekiawan atau intelektual itu adalah “rauzan fikr” (manusia yang tercerahkan), sosok yang berpijak pada kebenaran, walau sebenarnya kebenaran itu juga sarat dengan nilai-nilai/perspektif dan norma yang diyakininya serta memiliki kadar (pencarian) kebenaran yang tinggi.

Dipersimpangan jalan yang saya maksud adalah ketika seorang intelektual memahami tentang nilai kebenaran, tapi pemahaman tentang nilai itu lalu direduksi dengan berbagai alasan yang sejatinya hanyalah untuk mengaburkan nilai yang sebenarnya. Sikap yang cenderung mengaburkan kebenaran dengan argumen argumen yang seolah akademis merupakan bentuk dari sikap dipersimpangan jalan kalau tidak boleh disebut sebagai pengkhianatan.

Benda menempatkan cendekiawan dalam posisi yang sangat tinggi, bahkan nyaris absolut. Tetapi, realitasnya tidak hitam putih seperti yang ditulisnya. Pencarian kebenaran yang menjadi obsesi oleh kaum cendekiawan sejatinya tidak berada di ruang hampa. Pengembangan ilmu pengetahuan membutuhkan campur tangan kekuasaan. Karena itu, sesungguhnya kekuasaan politik, dalam tingkatan tertentu, turut menentukan kebenaran itu sendiri.

Nah persoalannya ketika kebenaran yang disuarakan oleh intelektual sarat dengan kepentingan politik dan kekuasaan yang kental, saat itulah intelektual menempatkan dirinya pada posisi dipersimpangan jalan. Dapat dibayangkan, intelektual yang seharusnya menjaga pikir dan memberi pencerahan kepada masyarakat, namun yang diberikan adalah sesuatu yang menjadikan nalar masyarakat menjadi gelap, maka kegelapan pikir akan menjadi potret kehidupan masyarakat.

Assalammualaikum wr wb… Semoga Allah selalu memberkahi kita semua… Aamien

Surabaya,  Pebruari 2019

*Roemah Belajar Hotline Pendidikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here