Catatan Oase Kehidupan #65: Beragama Tanpa Tuhan

0
372
Ilustrasi agama di dunia diambil dari Patrick Immanuel Sinaga

KLIKMU.CO Suatu saat ada yang mengatakan bahwa itu loh si Fulan, meski setiap melakukan ibadah tapi sama tetangganya tidak peduli. Mending saya meski tidak menjalankan perintah, tapi saya masih peduli dan saya juga sering bantu tetangga yang kesusahan.

Situasi seperti ini sejatinya potret keseharian kita. Apalagi kalau kita baca media sosial dan tulisan serta informasi yang berseliweran, sesungguhnya kita bisa menangkap kesan yang ada dibalik itu semua.

Apakah Agama Itu?

Saya ingin memulai tulisan ini dengan pemahaman yang ringan saja tentang agama.

Dalam sebuah buku tentang ” The Elementary Forms Of The Relegious Life ” Sejarah tentang bentuk bentuk agama yang paling dasar, Emile Durkheim sebagaimana yang dirumuskan oleh Albert Renfile ( Paris, Fiscbacher, 1881 ) dengan ” idea of divinity “, Agama merupakan daya penentu kehidupan manusia, yaitu sebuah ikatan yang menyatukan pikiran manusia dan pikiran misterius yang menguasai dunia dan diri yang dia sadari, dan dengan hal hal yang menimbulkan ketentraman bila terikat dengan hal tersebut.

Pikiran yang misterius dan yang menguasai dunia dan diri serta menimbulkan ketenteraman bisa diartikan sebagai sesuatu yang spiritual ( spiritual being).

Apa yang bisa menguasai dunia dan diri secara sadar dan menimbulkan ketentraman dijelaskan oleh Taylor dalam bukunya ” Primitive Culture ” ( London, John Murray, 1873 ), Sesuatu yang spiritual itu harus dipahami sebagai subyek subyek berkesadaran ( Conscious Subject) yang memiliki kemampuan melebihi kemampuan manusai biasa.

Nah seringkali kita melihat ritus keagamaan seseorang tidak disadarkan kesadaran yang berasal dari sesuatu yang spritual, tetapi lebih sering menggunakan standar yang diukur dari kemampuan dan rasa yang dimiliki.

Sehingga ukurannya menjadi ukuran terstandar diri sebagai manusia, oleh Bernouf disebut sebagai “Moralitas tanpa Tuhan ” dan ” Atheisme tanpa hakekat “.

Makna yang tersirat dari uraian diatas adalah kebaikan dan keburukan yang dibuat tanpa melibatkan sesuatu yang dianggap spritual sebagaimana orang menyebutnya Tuhan, merupakan wujud dari moralitas tanpa Tuhan dan Atheisme tak berakkekat.

Mereka ini adalah yang menggunakan ukuran standar pikir yang dibuat sendiri dan dirumuskan sendiri dengan menggunakan kemampuan akal pikirannya sendiri.

Potret keseharian kita tidak jauh dari apa yang dijelaskan oleh Bernouf bahwa didalam masyarakat kita terpolarisasi menjadi dua kutub dalam membangun ikatan sosial kebangsaan, satu kutub berada dalam semangat spiritualisme dan satunya lagi dengan menggunakan moralitas tanpa Tuhan atau Atheisme tanpa hakekat.

Menuhankan akal pikirannya dan berati juga ketidak percayaan kepada nilai nilai ketuhanan, sebagaimana kelomopok masyarakat berpaham atheisme.

Potret Kebudayaan dan Masyarakat

Sila pertama Pancasila menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai pondasi dasar bernegara dalam melahirkan perikemanusiaan, persatuan, semangat musyawarah dan kegotong royongan, serta bagaimana mewujudkan tatanan yang berkeadilan sosial.

Ini harus dimaknai bahwa sejarah pembentukan Indonesai merupakan perpaduan moralitas ketuhanan dan didalamnya syarat dengan nilai nilai spiritualisme.

Maka tidak heranlah dalam rumusan sila sila pancasila pergumulan kelompok kebudayaan dan agamawan menyatu dan saling menjiwai bagi Indonesia masa depan.

Jadi sangat tidak mungkin dan melanggar nilai nilai pancasila bila dalam berkebudayaan ataupun dalam bersikap kita menjauhi nilai nilai Ketuhanan.

Penggunaan standar akal dan pikiran yang berlebihan dan menjauhi nilai nilai spiritual adalah bentuk lain dari makar terhadap nilai nilai Pancasila.

Memartabatkan Bangsa

Bangsa yang bermartabat adalah bangsa yang mampu menjadi jati dirinya sendiri. Jati diri bangsa Indonesia adalah bangsa yang menjadikan standar Ketuhanan sebagai dasar menentukan pijakan dalam mewujudkan tujuan kemerdekaan, yaitu mengantarkan rakyat Indonesia menjadi sejahtera.

Sehingga dalam melakukan apapapun tentang Indonesia sejatinya harus mempergunakan rasa keagamaan yang dianut.

Mempermainkan dan memperolok sebuah keyakinan yang dimiliki adalah merupakan perbuatan yang tercela dan nir adab. Melanggar etika dan moralitas ketuhanan yang kita anut.

Sehingga perbuatan kebudayaan atau ujaran yang bernada mengecilkan sebuah keyakinan merupakan produk moralitas tanpa agama dan atheisme tak berhakekat.

Dalam kacamat Islam Moralitas tanpa ketuhanan atau atheisme tanpa hakekat itu disebut perbuatan yang menjadikan hawa nafsu sebagai rujukan. Dan tentu segala sesuatunya akan berakhir rancu dan kegaduhan.

” Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jatsiyah: 23)

“Maka jika mereka tidak mau menyambutmu, ketahuilah sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang berbuat zhalim” (QS. Al-Qashash: 50)

“Dan seandainya kebenaran itu menuruti keinginan mereka, pasti binasalah langit dan bumi, dan semua yang ada di dalamnya.” (QS.Al-Mukminun:71)

Nah dalam membangun bangsa ini sebagai Ummat beragama gunakanlah nilai nilai kebaikan yang berstandar ketuhanan.

Sehingga bangsa ini akan menjadi bangsa yang pernah dicita citakan dalam buku tulisan Empu Prapanca sebagai Negarakertagama, negara yang menjadikan agama sebagai rujukan dalam berperilaku dan berbudaya.

Melecehkan syariat agama, mempermainkan nilai nilai agama dan mempertontonkan perilaku pengingkaran teehadap kehidupan sesudah mati sebagai keyakinan Ketuhanan, melemahkan Syariat dan membenturkan dengan budaya, serta mengganggu rasa aman kehidupan beragama adalah bentuk moralitas tanpa agama, nir adab dan nir etika serta wujud dari Atheisme tanpa hakekat.

Yang itu justru akan membawa bangsa dalam keterpurukan.

Semoga bangsa Indonesia selalu mendapatkan bimbingan dan hidayah Allah dalam membangun perilaku masyarakat dan kebudayaannya, sehingga mengantarkan pada peradaban bangsa yang beretika dan bermoral.

 

Surabaya, 9 April 2018

M. Isa Ansori

Pegiat pendidikan yang memanusiakan, sedang belajar kebudayaan dan etika, Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak Jatim, Anggota Dewan Pendidikan Jatim, Pengajar di STT Malang dan Untag 1945 Surabaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here