Catatan Oase Kehidupan #70: Politisi Belajarlah dari Aksi Solidaritas Kemanusiaan Supporter Bola

0
166
Visualisasi bonek timnas Indonesia diambil dari Fandom.Id

KLIKMU.CO Setiap manusia sejatinya mempunyai naluri dasar menjadi pemimpin dan menjadi mahluk sosial. Inilah sejatinya yang menjadi pembeda manusia dengan mahluk yang lainnya. Kemampuan memimpin dan bersosial manusia selalu dikendalikan oleh akal sebagai penentu.

Kemampuan memimpin sejatinya berkaitan dengan kecenderungan manusia untuk bersosial dan berhubungan dengan manusia yang lainnya. Sebuah ikatan sosial akan terbentuk bila diantara mereka mampu membangun rasa saling memiliki dan saling menghormati serta ditunjang oleh kedekatan.

Dengan rasa mereka bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, sehingga setiap orang yang berada didalam satu kelompok atau kumpulan orang bisa saling memahami kelebihan dan kekurangannya, yang pada akhirnya mereka akan bisa saling menghormati. Tentu saja faktor kedekatan dalam artian kedekatan lingkungan kedekatan perasaan akan menjadi penentu lahirnya sebuah ikatan sosial.

Aksi Solidaritas

Aksi solidaritas adalah sebuah bentuk kepedulian antar orang yang satu dengan orang lainnya. Aksi solidaritas adalah sebuah bentuk perilaku positif.

Karena didalam aksi solidaritas kita bisa melihat adanya perasaan yang sama, serta kedekatan rasa diantara mereka, jarak bukan lagi menjadi penghalang.

Tesis Huntington berkaitan dengan pertarungan sosial dan peradaban merupakan bagian dari kita membaca kemunculan aksi solidaritas. Dunia menjadi terbelah karena terprofokasi dengan kata ” Solidaritas “.

Nalar tidak lagi menjadi sesuatu yang penting sebagai sebuah standar aksi solidaritas, yang ada adalah perasaan bersama dan kepentingan bersama. Sehingga terjadi pergeseran makna yang semula dilakukan oleh sekelompok orang, dengan tujuan yang baik, tapi kemudian cenderung berubah menjadi aksi gerombolan dan aksi mafia.

Aksi Solidaritas Supporter

Siang kemarin, ( Ahad, 15/4/2018 ) saya menyaksikan betapa kuatnya ikatan sahabat sahabat dan adik adik saya supporter Bonek melakukan aksi solidaritas, mereka menggalang dana sebagai bentuk kepedulian terhadap sahabat bonek yang lainnya yang mengalami musibah.

Saya yakin diantara mereka dengan bonek yang menjadi korban tidak saling mengenal, tapi ikatan supporter mampu menepis rasa ego mereka, sehingga mereka melebur menjadi sebuah keluarga bonek Surabaya. Apa yang menggerakkan mereka?

Sebagai mahluk sosial, manusia memiliki kecendrungan melakukan sesuatu untuk manusia yang lainnya, kepdulian yang sama disertai dengan naluri memimpin itulah yang menggerakkan mereka melakukan aksi solidaritas membantu ” saudaranya ” .

Dalam kaitan aksi solidritas bonek yang mengalami musibah, tentu tidak terjadi secara spintanitas, pasti dimulai dari sebuah gagasan baik membantu meringankan beban, lalu ada yang menggerakkan dan ada yang berposisi membantu jalannya aksi solidaritas.

Mereka terbimbing oleh kemampuan memimpinnya masing masing. Aksi solidaritas sebagai aksi kemanusiaan yang dilakukan oleh adik adik saya Bonek Mania adalah sebuah respon atas sebuah situasi yang dialami oleh keluarga besar bonek, dan mereka berupaya untuk meringankan beban yang dihadapi.

Aksi seperti ini digambarkan oleh Freud sebagai aksi yang terbimbing oleh ego dan superego. Apa yang dilakukan oleh sahabat sahabat bonek, saya yakin juga dilakukan oleh mereka yang tergabung dalam keluarga besar supporter bola ditempat lain.

Merawat Energi Positif Solidaritas

Harus diakui saat ini situasi solidaritas kita terasa semakin bias. Aksi solidaritas yang teebangun akhir akhir ini tidak lebih sebagai sebuah aksi kepedulian yang didasari oleh rasa dan kepentingan , terjauhkan dari nalar, Jauh dari ego dan superego.

Lihat saja aksi aksi tawuran yang ada, tak banyak diantara mereka yang memahami apa yang sebenarnya menjadi pemicu, mereka tak mau tahu, yang terpenting mereka merasakan satu perasaan yang sama diantara mereka dan mereka melakukan aksi yang sama sebagaimana dilakukan oleh keluarga besarnya.

Nalar tak lagi berujar, akal tak lagi disoal.

Merawat energi solidaritas tidak bisa hanya dengan rasa dan kepentingan, tapi diperlukan juga nalar sebagai pengarah aksi kejalan yang benar.

Sehingga pendidikan bersolidaritas, pendidikan bersosial, serta pendidikan memahami perbedaan sehingga tumbuh akal budi untuk saling menjaga, menghormati dan mengapresiasi layak dilakukan.

Nah dalam merawatnya, diperlukan keterlibatan semua pihak yang mampu membangun kohesitas antar semua komunitas supporter. Rasa kemanusiaan dan rasa kebangsaan serta rasa persatuan sebagai penduduk bumi layak disemai dalam akal budi mereka.

Sehingga yang muncul rasa spiritualisme supporter dan kedekatan budaya dan rasa akal budi.

Aksi aksi kepedulian adalah upaya merawat energi positif solidaritas antar sesama manusia khusunya antar supporter dan kelak akan menjadi sebuah aksi solidaritas kemanusiaan tanpa batas dan tanpa sekat.

Kepada mereka yang ditasbihkan sebagai pemimpin supporter, saya kira menjadi penting memahami pola hubungan intrapersonal dan interpersonal. Pola hubungan yang dibangun atas dasar rasa tidak ingin memperlakukan orang lain tidak baik, karena kitapun tak ingin diperlakukan tidak baik.

Kita juga menyadari ketika akan berbuat sesuatu kita memahami apakah layak sesuatu itu kita lakukan kepada orang lain.

Alangkah indahnya bila para pemimpin politik kita mampu merawat energi positif solidaritas anggota dan simpatisannya, sehingga nalar mereka bisa terasa dan peka serta mampu membedakan aksi solidaritas yang benar maupun yang salah.

Sebagaimana kepekaan yang dibangun didalam aksi kemanusiaan supporter. Kali ini rasanya perlu para elit politik, pemerintah, parpol dan simpatisannya belajar kepada para supporter bonek yang saat ini sedang menggalang aksi solidaritas kemanusiaan atas wafatnya dua supporter bonek.

Semoga aksi solidaritas kemanusiaan ini menjadi aksi nalar sehat yang selalu dirawat, sehingga aksi supporter terhindar dari hal hal yang menyesatkan akal budi dan nalar sehat.

“ Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. ” [al-Ma’idah/5 : 2]

” Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar ” [at-Taubah/9 : 71]

Surabaya, 16 April 2018

M. Isa Ansori

Pegiat pendidikan yang memanusiakan, Sekertaris Lembaga Perlindungan Anak Jatim, Anghota Dewan Pendidikan Jatim, Pengajar Psikologi Komunikasi di STT Malang dan Untag 1945 Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here