Catatan Oase Kehidupan #72: Ketika Bipolar Memendar

0
210
Foto ilustrasi dua wajah diambil dari Asverny.Devianart

KLIKMU.CO Pernahkah anda merasakan sebuah suasana dimana anda merasa tertekan dan ketakutan terhadap situasi yang anda bayangkan akan menimpa diri anda? Anda merasa cemas berlebihan, sehingga anda merasakan sebagai inilah masa yang sulit bagi anda.

Kalau anda pernah merasakan itu maka anda pernah mengalami sebuah gangguan bipolar.

Gangguan bipolar adalah gangguan mental yang menyerang kondisi psikis seseorang yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang sangat ekstrem berupa mania dan depresi, karena itu istilah medis sebelumnya disebut dengan manic depressive.

Manusia dengan gangguan bipolar mengalami mania. Mania digambarkan sebagai periode dimana seseorang mengalami perubahan suasana hati yang terus meningkat selama paling tidak satu minggu.

Pada tahap ini, ia akan merasakan paling tidak tiga gejala, yaitu perasaan yang melebih-lebihkan, lebih sering berbicara, bersemangat, tidak dapat berfokus pada satu ide, hanya memerlukan sedikit tidur, perhatiannya mudah teralihkan, dan melakukan kegiatan-kegiatan beresiko tinggi seperti melanggar norma dan aturan yang ada.

Masyarakat Bipolar

Masyarakat bipolar, kalau merujuk pada pengertian bipolar diatas, adalah masyarakat yang sejatinya mempunyai energi besar, namun sayangnya energi besarnya itu digunakan untuk hal hal yang kecenderungannya melanggar norma dan etika.

Masyarakat seperti ini mempunyai kecenderungan melebih lebihkan suatu peristiwa yang mereka lihat. Mereka akan cenderung mengukur orang lain dari apa yang pernah dilakukan. Sehingga dirinya menjadi standar menilai orang lain.

Mengapa Bisa Terjadi?

Penyebab spesifik gangguan bipolar dan gejalanya masih belum diketahui secara pasti. Namun, sepertinya faktor keturunan ikut berperan di dalamnya.

Keturunan memainkan peranan yang cukup dominan, dengan sejumlah gen termasuk di dalamnya. Seseorang anggota keluarga tingkat pertama yang menderita gangguan bipolar sepuluh kali lebih beresiko untuk terkena kondisi ini.

Penelitian terhadap anak kembar menunjukkan bahwa 40% dari mereka menderita gangguan ini, sehingga semakin memperkuat dugaan bahwa faktor genetis memegang peranan penting pada kondisi ini.

Faktor lingkungan juga dipercaya ikut berperan dalam kondisi ini. Tekanan dan hubungan yang bermasalah seringkali ditemukan pada para pasien gangguan bilopar; sekitar 30-50% pasien dengan gangguan ini pernah mengalami tindakan penyiksaan atau kejadian pada masa kanak-kanak yang membuat mereka cedera emosional (trauma).

Bagaimana Menyikapi Masyarakat Seperti Ini?

Setiap manusia, didalam teori kebutuhan, mempunyai kebutuhan rasa aman, kebutuhan dihargai, kebutuhan diapresiasi dan kebutuhan aktualisasi. Kebutuhan kebutuhan itu sejatinya adalah kebutuhan manusiawi.

Sehingga cara melihat kita adalah bahwa yang dibutuhkan itu bagian dari alat memuaskan diri.

Bagi mereka pengidap bipolar, bagian dari aktualisasi yang dilakukan adalah dengan melakukan upaya upaya melanggar etika, norma dan melemahkan apa yang dilakukan orang lain.

Mereka cenderung offensif. Sedang bagi mereka yang terbiasa hidup dengan hal hal yang bersifat positif, maka penilaian positif selalu melekat terhadap orang lain, sehingga kecenderungannya melakukan hal hal yang saling mengisi dan melengkapi, sebagai bentuk hidup menghargai dan menghormati.

Begitulah cara pemenuhan kepuasannya.

Nah dalam menghadapi perilaku mereka yang bipolar, ada baiknya bagi mereka yang mempunyai aktifitas positif membangun masyarakat yang baik dan sehat, untuk selalu bersikap fokus dan konsisten terhadap sesuatu yang dilakukan.

Sikap seperti akan membentuk komitmen yang kuat dan pada gilirannya akan bertanggung jawab.

Fokus bisa juga diartikan pada kemampuan bertanggung jawab terhadap sebuah persoalan untuk dijalani dengan tuntas, sehingga akan terbangun kesan bahwa mereka yang fokus itu sebagai ahli dalam kecerdasan emosinya.

Mereka diharapkan mampu mengelola persoalan persoalan yang ada berubah menjadi persoalan yang bernilai positif.

Kalau semua masyarakat bisa menahan diri dari perilaku yang berlebihan, nir etika dan nir norma, maka kita tidak akan mendengar lagi orang bahagia melihat kesedihan orang lain, tidak ada ucapan ” Alhamdulillah ” atas sebuah peristiwa sedih yang dialami orang lain.

Mereka akan mampu melakukan dialog dengan dirinya dengan kesimpulan ” kalau saya tidak ingin diperlakukan yang tidak baik sama orang, maka saya tidak boleh memperlakukan orang lain dengan cara tidak baik “.

Kemampuan merasakan dialog diri sehingga bisa menghargai orang lain disebut sebagai komunikasi intrapersonal.

Menjadi diri sendiri dan percaya teehadap yang kita lakukan sebagai sebuah kebenaran, merupakan cara membentengi diri dari pengaruh para bipolar yang berkecenderungan merusak dan melemahkan.

Akhirnya dengan berharap kepada Allah, Maka sikap komitmen dan konsisten terhadap sebuah aktifitas, merupakan benteng menguatkan diri dari pengaruh ucapan dan sangkaan orang lain yang melemahkan.

“ Dan orang-orang yang mengganggu dan menyakiti orang-orang mukmin lelaki dan perempuan yang beriman, dengan perkataan atau perbuatan yang tidak tepat atau sesuatu kesalahan yang tidak dilakukannya, maka sesungguhnya mereka telah memikul kesalahan menuduh secara dusta dan berbuat dosa yang amat nyata .” (Surah Al-Ahzab, 33; Ayat 58)

“ Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah dari banyak berprasangka; Sesungguhnya sebahagian dari sangkaan itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan dan keaiban orang, dan janganlah setengah kamu mengumpat setengahnya yang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang mengumpat sebahagian yang lain. Adakah di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. (Oleh itu, patuhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertaqwalah kamu kepada Allah; Sesungguhnya Allah Penerima taubat, lagi Maha Mengasihani.” ( Surah Al-Hujurat, 49; Ayat 12 )

 

Surabaya, 18 April 2018

M. Isa Ansori

Pegiat pendidikan yang memanusiakan, Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak Jatim, Anggota Dewan Pendidikan Jatim, Pengajar di STT Malang dan Untag 1945 Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here