Catatan Oase Kehidupan #73 : Mengamputasi Empati

0
172

KLIKMU.CO Menurut anda apakah akan bisa manusia hidup tanpa bantuan orang lain? Jawabannya tentu bisa, banyak contoh klasik, misalnya Tarzan, dia bisa hidup di hutan tanpa bantuan orang lain. Tapi apakah perilaku Tarzan kemudian memgambarkan perilaku manusia yang utuh? Ternyata Tarzan kehilangan kemampuan untuk berkomunikasi dengan manusia, tapi Tarzan punya kelebihan mampu berkomunikasi dengan hewan yang ada dilingkungan hutan.

Ada dua hal yang bisa kita lihat dari cerita kalsik tersebut, yang pertama lingkungan sangat berpengaruh terhadap cara hidup kita, dan yang kedua, kesesuaian lingkungan menjadikan kita bisa menempatkan diri pada perilaku budaya lingkungan itu.

Biji yang baik akan tumbuh dengan baik dimanapun dia akan ditanam. Jangankan ditempat yang subur, ditempat yang keringpun dia akan tumbuh, meski butuh perjuangan yang lebih besar.

Nah kembali pada pertanyaan diatas, manusia akan bisa berkembang dan tumbuh dengan baik apabila dia hidup ditengah lungkungan manusia, pertumbuhan dengan baik itupun juga dipengaruhi oleh situasi lingkungan tersebut.

Peribahasa bijak mengatakan kalau ingin wangi maka bergaulah dengan penjual parfum, kalau ingin bau amis maka beegaullah dengan penjual ikan. Atau kata bijak lain, asahlah pisau dari sisi tajamnya, jangan asah pisau dari sisi tumpulnya.

Kemampuan Merasakan Apa Yang Dirasakan Oleh Orang Lain

Pernahkah anda bermain puzzle? Dalam permainan itu tentu anda masih ingat perubahan posisi puzzle akan berpengaruh pada posisi puzzle yang lain.

Hidup dalam sebuah lingkungan bersama orang lain, tentu bisa diibaratkan kita adalah puzzle dan sedang memainkan peran puzzle agar bisa tepat pada posisi yang benar. Kesalahan menempatkan diri pada posisi yang tepat, akan berdampak pada sulitnya posisi puzzle yang lain berada pada posisi yang tepat.

Sehingga dalam hidup tidak bisa kita berpikir kepentingan sendiri, karena disaat kita berpikir untuk kepentingan kita sendiri, saat itulah kita telah mengamputasi kepentingan orang lain.

Kemampuan merasakan dan memahami kepentingan orang lain itulah yang disebut dengan empathy. Didalam empathy dituntut kemampuan melubatkan perasaan orang lain. Sehingga empathy akan menjadi pengendali kita dalam bersikap dan bertutur. Empatilah yang bisa menjadi alarm bagi setiap apa yang akan kita kerjakan.

Empati mencakup respon tersendiri terhadap perasaan orang lain, seperti rasa kasihan, kesedihan, rasa sakit.

Empati memainkan peranan penting dalam berbagai bidang ilmu, kriminologi dari psikologi, fisiologi, pedagogi, filsafat, kedokteran dan psikiatri. Dalam empati terdapat rasa keterlibatan emosional seseorang dalam realitas yang mempengaruhi orang lain lain.

Seseorang bisa berempati dengan orang lain dengan cara memberikan kontribusi untuk memahami emosi orang lain dan berkomunikasi dengan sesama manusia.

Tanpa bicara empati pun bisa dipahami satu sama lain atau dengan ketidaksepakatan pun empati akan muncul. Empati bisa muncul dari pesan verbal dan non-verbal dalam ‘membaca’ atau pemahaman dari orang lain.

Membuka Diri Sebagai Upaya Menempatkan Diri

Self Disclosure merupakan upaya pengungkapan reaksi dan tanggapan orang lain tentang situasi yang dihadapi.

Dalam self-disclosure juga akan terjadi pemberian informasi yang relevan tentang peristiwa masa lalu untuk pemahaman masa depan.

Membuka diri ( Self Disclosure) berarti juga membagikan kepada orang lain tentang perasaan terhadap sesuatu yang telah dirasakan atau dilakukannya, atau pemberitahuan tentang perasaan seseorang terhadap kejadian kejadian yang baru disaksikan dan dirasakan.

Membuka diri sejatinya akan menempatkan diri kita pada posisi yang tepat ketika bersama orang lain.

Membuka diri juga berarti bahwa seseorang menaruh perhatian pada perasaan dan terhadap kata kata atau perbuatannya. Rela menerima pembukaan diri dan rela atau mau mendengarkan reaksi atau tanggapannya terhadap situasi yang dihadapinya sekarang maupun terhadap kata kata dan perilaku yang ditampilkannya.

Membuka diri bisa digambarkan sebagai sebuah proses menjadikan diri mampu berperan pada posisi yang tepat sehingga tidak mengamputasi perasaan kita dalam memahami orang lain.

Nah kawan.. Sejatinya dimanapun kita berada kemampuan kita memahami perasaan dan kepentingan orang lain merupakan kebutuhan dasar penting dalam membangun relasi. Apalagi kalau kita hidup dalam sebuah kelompok yang mempunyai tujuan kelompok.

Didalam hidup berkelompok atau orang sering menyebutnya sebagai sebuah organisasi, harus dipahami bahwa ada tujuan tujuan kelompok yang harus dicapai dengan cara cara pribadi yang kita lakukan.

Itu artinya dalam menyampaikan pesan pesan berkaitan dengan kepentingan kelompok, kita harus bisa menempatkan diri pada kepentingan diatas kepentingan ego, meski kita juga harus menyadari juga kadangkala saking bersemangatnya kita dalam memperjuangkan kelompok, kita lupa apa yang kita lakukan justru akan menghambat capaian kepentingan kelompok.

Membuka diri dan menumbuhkan kemampuan memahami orang lain akan mendorong kita lebih terjaga dalam bersikap dan bertutur, karena kita sanggup menahan diri dan menempatkan kepentingan kelompok diatas kepentingan diri.

Akhirnya dalam hidup kita tidak bisa selalu mengikuti kata hati kita, apalagi kalau kita berada ditengah banyak orang atau kita menempatkan diri pada kehidupan berkelompok.

Mengutamakan kepentingan kata hati tanpa mau peduli terhadap kepentingan dan perasaan orang lain yang juga akan memengganggu kepentingan yang lebih besar akan menjadikan kita sebagai orang mengamputasi perasaan empathy.

Keadaan empati, atau pemahaman empatik merupakan cara untuk memahami kerangka acuan internal lain dengan memaknai komponen emosional yang dikandungnya, seperti yang dirasakan orang lain, dengan kata lain, menempatkan diri di tempat lain, seperti “seolah-olah menjadi.” sehingga kita lebih bisa berhati hati dan menahan diri.

” Kalian adalah umat yang terbaik dikeluarkan untuk manusia, memerintahkan yang ma’ruf, mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah “. (QS. Ali ‘Imran: 110)

” Sesungguhnya yang terbaik di antara kamu adalah yang paling bagus qadha-nya “. (HR. Bukhari No. 2305, Muslim No. 1601, dari Abu Hurairah)

Maksud “qadha” adalah yang paling konsisten menepati kebenaran yang wajibkan kepadanya. (Ta’liq Mushthafa Al Bugha, 2/809)

.

Surabaya, 19 April 2018

M. Isa Ansori

Pegiat pendidikan yang memanusiakan, Anggota Dewan Pendidikan Jatim, Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak Jatim , Pengajar di STT Malang dan Untag 1945 Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here