Catatan Oase Kehidupan #75: Mengimunisasi Kekuatan Komitmen

0
64
Foto menangkis virus diambil dari Caraobati.com

KLIKMU.CO Jumat (20/4) saya diajak untuk bertemu dengan kawan kawan di sebuah food court rakyat di Jalan Urip Sumoharjo. Tak kurang dari 15 orang hadir sore itu mulai pukul 15.00 – 19.00, Diskusi dimulai dengan ungkapan perasaan dinamisasi pergerakan.

Terasa sekali hampir semua yang hadir mengalami sebuah gangguan dari dalam. Mereka merasakan mulai ada yang membuat distruksi distruksi pemahaman sehingga akan berakibat melemahkan perjalanan.

Diskusi saling menyampaikan informasi dan kejadian silih berganti disuarakan, intinya sebagian besar dari mereka merasakan gangguan dari dalam dan dari luar yang memperlemah perjuangan. Berbagai olahan isu dibenturkan kesana kemari, dengan harapan sipenebar isu mendapatkan perhatian dan respon dari yang lain, tapi akhirnya semuanyapun bisa menyadari bahwa selalu ada gangguan dalam setiap perjalanan yang kita lakukan.

Sebagai bagian dari diskusi, saya hanya mendengarkan dan mencoba membuat catatan catatan kecil berkaitan dengan rangkaian gangguan yang terjadi, saya memilah milah kalimat yang dianggap distruktif itu macam apa saja, pola penyampaianya seperti apa dan siapa saja yang dijadikan sasaran penyampaian pesan destruktif nya.

Catatan catatan kecil itulah yang kemudian membantu saya untuk menggambarkan sebuah peristiwa menjadi sederhana dengan harapan agar mudah mengurainya.

Saya memulai tanggapan saya kepada teman teman dengan sebuah cerita: Suatu saat di zaman nabi Muhammad SAW, nabi melakukan sebuah perjalanan. Fitnah terhadap Aisyah Istri Rasulullah Fitnah ini sudah dilakukan oleh manusia sejak zaman Rasulullah masih hidup.

Siti Aisyah, istri Rasulullah pernah difitnah. Dalam suatu perjalanan, Siti Aisyah mengikuti rombongan Rasulullah dalam suatu peperangan. Setelah mendapat kemenangan dalam perang tersebut, saat pulang ke Madinah, rombongan Rasulullah istirahat di suatu tempat.

Saat itu Siti Aisyah yang diangkut dalam tandu tertutup diturunkan dari onta yang membawanya. Tanpa diketahui oleh para pengawal Aisyah turun karena mau buang air. Setelah itu Aisyah kembali ke tandunya, akan tetapi dia kemudian mendapati bahwa kalungnya tidak ada di lehernya. Lalu dia keluar kembali, dan mencari kalungnya yang hilang.

Saat itu, waktu istirahat sudah cukup, dan rombongan kembali melanjutkan perjalanan, tanpa disadari bahwa Aisyah tidak ada dalam tandu itu. Perlu diketahui bahwa tubuh Aisyah kecil, sehingga para pengangkat tandu tidak sadar bahwa tandu itu kosong. Singkat cerita, Aisyah tertinggal di hutan itu, lalu dia memutuskan untuk tetap menunggu di situ sampai tertidur. Kebetulan seorang sahabat, Sofwan bin Mutahol Assulami juga tertinggal di belakang rombongan, dan dia sangat kaget melihat Aisyah yang sedang teridur di jalan.

Dia mengucapkan: “Innalillahi wa inna ilaihi rojiu’n, sehingga Aisyah terbangun. Singkat cerita, Sofwan mempersilahkan Aisyah naik ke atas ontanya, dan dia menuntun onta itu. Peristiwa itu menimbulkan fitnah bahwa Aisyah istri Rasulullah Saw selingkuh, yang dikompori oleh Abdullah bin Ubay Sesampai di Madinah, Aisyah sakit sampai satu bulan tanpa mengetahui ada fitnah terhadap dirinya.

Yang dia herankan adalah Rasulullah tidak memperlihatkan kasih sayangnya seperti biasanya bila dia sakit. Setelah dia tahu fitnah itu, sakit Aisyah semakin parah. Dia mohon izin kepada Rasulullah untuk sementara akan tinggal di rumah orang-tuanya, Abu Bakar Siddieq. Yang dia lakukan hanya menangis dan menangis, karena dia merasa tidak pernah berbuat sesuatu yang difitnahkan kepadanya. Kondisi fitnah itu tentu menyebar hingga mencapai satu bulan lamanya.

Dan selama itu pula, tidak ada wahyu yang diterima Nabi Muhammad Saw. Sampai kemudian, Allah SWT mengabarkan berita gembira kepada Nabi Saw yang menyatakan bahwa Aisyah ra terbebas dari segala tuduhan perselingkuhan dan fitnah itu.

Setelah itu saya mencoba mengingatkan bahwa selalu ada upaya melemahkan apa yang kita lakukan baik itu dari kawan ataupun dari orang lain yang seringkali kurang sepaham atau bahkan mempunyai kepentingam lain.

Perilaku seperti ini kadang harus dipahami sebagai sebuah upaya mencari perhatian. Sebagaimana yang digambarkan oleh Berne bahwa karakter manusia itu ada tiga, satu karakter orang tua. Kedua, karakter orang dewasa dan yang ketiga, katakter anak anak.

Dalam karakter orang tua akan merujuk pada sikap orang tua, misalnya suka menasehati, minta selalu didengar, kadang menangnya sendiri dan lain lain.

Hal yang sama juga terjadi pada karakter anak, misalnya suka menangnya sendiri, mencari perhatian, egois dan lain lain yang menggabarkan perilaku anak kecil. Sedang yang ketiga adalah karakter dewasa, sebuah katakter yang rasional dan bijak, mampu memberi dan menerima dalam sebuah dialog, serta mampu menjalankan saran orang lain yang dirasa baik.

Nah karakter distruktif itu seringkali dilakukan oleh mereka yang berkarakter orang tua dan anak. Sehingga saran saya kepada teman teman adalah bersikap lah dewasa dalam menyikapi peristiwa yang cenderung merusak.

Sikap yang bijak adalah diam dan membuktikan pada hal hal yang menurut kita penting. Percayalah kebenaran pasti akan terlihat dan kebohongan dengan menyebarkan isu yang kurang membangun kebersamaan pasti akan terkuak.

Mendewasakan Diri

Apa itu mendewasakan diri? Mendewasakan diri merupakan sebuah upaya membangun karakter kita menjadi lebih dewasa. Karakter yang rasional, mau mendengar, bijak, menghormati serta cenderung menghindari hal hal yang merugikan.

Mendewasakan diri bisa dilakukan dengan cara berlatih memahami dan mendengar ucapan orang lain, sehingga kita bisa lebih cermat melihat persoalan yang diucapkan.

Dengan mendewasakan diri, maka kita akan bisa menempatkan diri pada posisi yang tepat ketika berhadapan dengan orang yang mempunyai kecenderungan disrtuktif.

Salah satu bentuk upaya mendewasakan diri adalah dengan sabar dan tekun kita mendengarkan apa yang disampaikan orang lain, lalu merespon dengan sikap dan bahasa yang bijak yang bisa menghargai perasaan orang lain.

Upaya seperti ini adalah bahagian dari komunikasi intrapersonal, dimana setiap orang dituntut untuk mampu merasakan perasaan orang lain sebelum bertindak. Diharapkan dari kemampuan interpersonalnya, orang lalu mempunyai kecerdasan intrapersonal. Kecerdasan menempatkan diri dihadapan orang lain.

Jadi saya berharapa kepada kawan kawan memaklumi selalu ada peristiwa destruktif yang mengikuti kita, dewasa adalah jalan pilihan untuk menghadapinya.

Kedewasaan adalah kunci kebersamaan dan memiliki daya ungkit menggerakkan energi kebersamaan, saling merasakan, saling percaya dan saling mengapresiasi dan mungkin juga saling melindungi. Sehingga kedewasaan bisa menjadi obat imunisasi kita mempertahankan dan meningkatkan daya tahan kita baik sebagai pribadi maupun sebagai kelompok.

 

Surabaya, 22 April 2018

M. Isa Ansori

Pegiat pendidikan yang memanusiakan, Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak Jatim, Anggota Dewan Pendidikan Jatim, Pengajar Psikologi Komunikasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here