Catatan Oase Kehidupan #76: Olah Rasa Mengekalkan Raga

0
56
Ilustrasi tangan memegang alam semesta diambil dari medicinapsicodelica.word

KLIKMU.CO Pernahkah terbayangkan dalam benak kita 15 sampai 20 tahun lagi apa yang kita geluti saat ini masih ada? Sudah banyak contoh beberapa profesi yang dulunya ada, sekarang sudah tergantikan. Misalkan tukang pos, diera 80 an profesi masih ada, namun ditengah perkembangan tehnologi internet, pelahan profesi ini tergantikan dengan perubahan perilaku masyarakat dalam berkirim surat, tidak lagi menggunakan kertas dan jasa pos, tapi sudah menggunakan elektronik.

Nasib yang dialami tukang pos bukan tidak mungkin akan terjadi pada profesi profesi yang lainnya, mengingat tehnologi dengan segala daya upayanya, ternyata mampu memberi harapan bagi kehidupan manusia. Tehnologi memberi kemudahan dan ketepatan dalam pekerjaan yang dilakukan oleh manusia. Dunia menjelma menjelma menjadi cepat, karena dilayani oleh tehnologi berupa mesin mesin dan robot.

Profesi guru atau tenaga pendidikan bukan tidak mungkin kelak juga tidak diperlukan lagi, karena tehnologi ternyaya mampu menjawab ilmu pengetahuan yang diinginkan manusia. Lihat saja mesin pencari ” google “, apa saja bisa dicari disana, bergantung pada kebutuhan kita. Sehingga sejatinya kita semua seolah sedang menunggu ” kematian ” profesi.

Menghidupkan Rasa Mengekalkan Raga

Rasa adalah sebuah peristiwa tanggapan indra terhadap rangsangan saraf seperti manis, pahit, masam terhadap indra pengecap, atau panas, dingin, nyeri terhadap indra perasa.

Rasa adalah sebuah pekerjaan yang dilakukan oleh indera manusia. Sehingga rasa tidak bisa digantikan oleh tehnologi yang ada. Tehnologi tak menjangkau pekerjaan rasa, tehnologi hanya mampu menjangkau hal hal yang bisa diukur dan terukur. Tehnologi bersifat nyata dan bisa diraba.

Rasa adalah pekerjaan yang melekat kepada manusia, sehingga rasa akan tetap menjadikan manusia sebagai manusia, bukan manusia sebagai robot. Mengekalkan raga adalah mengolah rasa. Sehingga kalau manusia berharap raganya bisa kekal maka olah rasa menjadi sebuah keniscayaan.

Kalau anda guru, maka profesi anda kelak akan segera tergantikan dengan tehnologi, bila pendekatan anda dalam belajar menggunakan pendekatan ilmu pengetahuan. Anda hanya mengasah kemapuan pikir manusia nya, melupakan pembangunan olah rasa atau karakternya.

Sebagai pemimpin juga harus begitu, kalau anda kebijakannnya hanya berkaitan dengan hal hal yang bersifat fisik melupakan pembangunan kualitas manusia, maka anda tak lebih sebagai robot, bisa dibayangkan kalau sebuah bangsa hanya diisi oleh manusia manusia bermental robot? Bangsa akan saling menghilangkan, karena kebutuhan kebutuhan pragmatis yang mengikis.

Akhirnya manusia akan menjadi kekal dalam karya dan profesinya kalau manusia rela kembali menjadikan dirinya sebagai manusia yang utuh, manusia yang dalam karya karyanya tidak hanya melakukan pendekatan pikirannya saja, tapi juga mampu mendayagunakan olah rasanya.

Olah rasa akan membangun peradaban yang baik dan mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, olah rasa mengajarkan kepada kita mengaharmoni semua unsur kemanusiaan manusia, sehingga olah rasa akan menjaga dan mengekalkan kehidupan karya kemanusiaan.

” Sebaik baik manusia adalah mereka yang banyak kemanfaatannya bagi manusia yang lainnya ” ( Alhadits )

“Sesunghuhnya Aku ( Rasulullah SAW ) diutus untuk memperbaiki ahlak manusia”.

 

Surabaya, 23 April 2014

M. Isa Ansori

Pegiat pendidikan yang memanusiakan, Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak Jatim, Anggota Dewan Pendidikan Jatim , Pengajar di STT Malang dan Untag 1945 Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here