Catatan Oase Kehidupan #81: Majikan, Jongos dan Pembiaran Negara

0
227
Foto terminologi budak, kuli dan babu diambil dari Tirto.ID

KLIKMU.CO- Saya hampir tiap hari bergelut dengan persiapan akhir tenaga kerja yang akan dikirim ke luar negeri. Saya selalu bertanya kepada mereka ketika berada didalam ruang pembekalan, apa yang mendorong kalian kerja ke luar negeri ? Jawaban mereka selalu beragam, diantaranya mencari modal usaha, untuk menyekolahkan anak, untuk bikin rumah, beli sawah dan banyak lagi yang mereka sampaikan, pada intinya bagaimana mereka bisa melakukan pemenuhan atas kebutuhan pemuasan dirinya.

Saya kagum dengan semangatnya, meski juga kadang kadan heran dengan pilihan yang dilakukan. Dengan apa anda semua bisa beli rumah, menyekolahkan anak, membuat usaha dan lain lain yang anda sebutkan tadi ? Serempak mereka menjawab dengan uang.

Uang ternyata merupakan tujuan akhir dari pekerjaan yang mereka lakukan, sehingga mereka akan bisa menyelesaikan apa yang menjadi persoalan tadi. Saya kemudain mencoba mengajak mengatur jalan berpikir mereka. Saya katakan kepada mereka kalau menurut anda uanglah yang bisa menyelesaikan persoalan anda, maka harus ditanamkan kedalam pikiran anda semuanya bahwabanda akan disebut berhasil dalam pekerjaan anda, kalau anda mendapatkan uang. Nah anda juga akan disebut berhasil kalau uang yang anda dapatkan digunakan untuk menyekolahkan putra putrinya dan lain alin yang anda sebutkan diatas.

Saya ajak mereka berpikir seperti itu, karena sudah banyak diantara mereka yang bekerja ke luar negeri sebagai tenaga kerja buruh kasar, kalau mereka sudah mendapatkan uang, mereka lupa akan tujuan awalnya, mereka berfoya foya, merubah gaya hidupnya menjadi glamour, padahal mereka sadar bahwa kerja ke luar negeri sebagai tenaga kasar bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Mereka lupa kalau kepergian mereka diiringi doa orang orang baik dan tulus, anak anak mereka, keluarga, istri, suami, ibu, bapak dan handai tolan . Saya mengingatkan mereka agar tidak sembrono dalam bekerja. Karena memang bekerja ke luar negeri sebagai buruh kasar tidak ada enaknya sama sekali. Mereka semua terpaksa.

Setiap tahun kita juga selalu saksikan para buruh melakukan aksi demo pada peringatan hari buruh. Apa sejatinya yang ingin dicapai demo setiap tahunya ini ? Selalu saja tuntutan mereka sama, perbaikan nasib dan peningkatan pendapatan mereka. Nah menurut anda semua, bisakah mereka menjadi sejahtera, kalau mereka tetap menjadi buruh, bisakah mereka sejahtera kalau peningkatan pendapatan mereka selalu diikuti dengan gaya hidup yang selalu tidak terkontrol yang cenderung bukan kebutuhan, tapi hanya keinginan, dan bidakah mereka berdaya selama mereka menjadi buruh ?

Saya sangat mengapresiasi apa yang menjadi perjuangan kaum buruh ini, tapi kaum buruh harua mulai diedukasi bahwa perjuangan mereka harus diikuti dengan merubah mentalitas mereka dari mental buruh menjadi mental majikan. Kalau mereka selalu bermental vurih, maka mereka akan menemukan titik klimaksnya, merwka akan menjadi pengangguran, karena suatu saat perusahaan yang bermental kapitalis akan mempailitkan diri dan menutup perusahaannya, setelahnitu mereka akan berganti dengantenaga kerja murah dan mesin.

Merubah mental buruh menjadi mental majikan cara agar kawan kawan buruh bisa memberdayakan dirinya. Mereka harus menyadari bahwa selama mereka menjadi burih, maka apa yang disebut dengan sejahtera tidak akan pernah mereka raih.

Negara dimana ?

Bukankah didalam undang undang dasar negara bahwa negara didirikan bertujuan mensejahterakan rakyatnya, lalu kenapa rakyat harus tiap tahun demo menuntut hak untuk mendapatkan kesejahteraan. Negara tak berdaya menghadapi arus modal dan para pemilik modal, negara bertekuk lutut tak kuasa dihadapan para pembeli kuasa, para pemilik modal. Sehingga kalau bicara Pancasila, pancasila yang dijalankan ? Pancasila kita bukan lagi Pancasila gorong royong yang dirumuskan pertama kali, Pancasila kita hari ini adalah Pancasila berkeuangan yang maha esa. Unag menajdi tuhan dan uang adalah segala galanya.

Negara tak lagi hadir dengan wajah aslinya, wajah gotong royong, negara menjelma menjadi antek kaoitalis dan para majikan.sehingga demo buruh tiap tahun tak lebih hanya sebuah ceremonial yang tak menghasikan apa apa, kecuali reuni akbar buruh dan orasi orasi.

Buruh Harus Merubah Cara Pandangnya

Pandangan Soekarno ketika merumuskan negara ini adalah mengangkat derajat dan martabat rakyatnya. menjadikan rakyatnya sebagai tuan rumah dinegerinya sendiri. Bukan menjadi bangsa jongos.

Memberdayakan diri bermental majikan merupakan keniscayaan. Sehingga mereka menyadari bahwa mereka harus menjadi majikan meski menjadi majikan terhadap dirinya sendiri. Para buruh itu harus memulai melepaskan diri dari ketergantungannya kepada majikan. Mereka harus memulai menjadi majikan dari hal hal kecil yang mereka bisa lakukan. Mereka harus menyadari bahwa suatu sat mereka tak akan dibutuhkan, yehnologi bisa menggantikan mereka

Akhirnya saya hanya mengingatkan kepada sahabat sahabat buruh, berpikirlah rasional bahwa suatu saat kita tak akan lagi berdaya menghadapi serbuan kapitalis, kalau kita tak merubah cara pandang kita kepada diri, maka kita akan tetap menjadi jongos dinegeri sendiri.

Bersatulah dan berdayalah, menjadi kekuatan majikan baru yang mengamalkan Pancasila gotong royong dan tak menghisap darah rakyatnya.

Selamat hari buruh !

Assalammualaikum wr wb..selamat pagi, selamat beraktifitas semoga berkah semuanya.

Surabaya, 1 Mei 2018

M. Isa Ansori Pegiat sosial dan dosen.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here