Catatan Oase Kehidupan #83: Miras dan UNBK

0
106
Foto razia pelajar diambil dari madiun pos

KLIKMU.CO- Beberapa hari ini publik dikagetkan dengan dua peristiwa yang mencederai pembangunan moralitas bangsa. Yang pertama adalah miras. Miras sejatinya minuman yang sudah bercampur dengan bahan bahan yang membahayakan tubuh. Dinegeri asalnya miras ditangani oleh ahli yang sudah teruji, sehingga miras dan oplosannya dinegeri asalnya tidak hanya sekedar minuman, tapi juga seni menggabungkan unsur unsur yang ada didalam minuman dengan kadar alkohol yang ditolerir tidak membahayakan bagi berjalannya fungsi fungsi organ tubuh. Meski harus disadari bahwa semua minuman keras akan lebih banyaj mudharatnya dibanding manfaatnya. Nah kalau disini ….apakah mengoplos miras dengan ilmu ? Rasanya tidak, dari informasi yang ada, kadar alkohol yang dioplos dengan air, berkadar 95 %.

Yang kedua adalah kebocoran UNBK ditingkat SMP di Surabaya. Disinyalir di salah satu SMPN di Surabaya terjadi kebocoran soal. Sehingga pelaksanaan UNBK yang sudah diniatkan sebagai ukuran kejujuran ternyata ternodai, dan lebih menyedihkan dilakukan oleh sekolah yang dikelola oleh pemerintah sendiri.

Polisi akhirnya harus sibuk dengan berbagai argumentasi. Pada kasus miras, polisi kemudian mereaksi dengan operasi, selesaikah ? Ah ternyata tidak, bahkan korbannya juga menyebar dan bertambah. Surabaya, konon kabarnya sudah sekitar tujuh orang tewas karena memang berniat membunuh dirinya dengan oplosan miras. Sementara pada kasus kebocoran UNBK, Dinas Pendidikan Surabaya dengan sigap mencuci tangan dengan melaporkan dugaan kebocoran UNBK ke kepolisian.

Ternyata miras dan UNBK mempunyai beberapa persamaan, diantaranya dua duanya bisa memabukkan, bahkan membahayakan kesehatan jiwa, bila cara mengoplosnya tidak berdasarkan ilmu yang tepat dan benar, yang kedua adalah dua duanya lebih banyak mudaratnya dibanding manfaatnya.

Mengapa Bisa Terjadi ?

Miras dan UNBK merupakan dua hal yang sejatinya sudah ditetapkan oleh undang undang dan peraturan yang ada, bahwa keduanya merupakan sesuatu yang dilarang peredarannya. Miras diatur bahwa diijinkan beredar ditempat tempat tertentu, namun faktanya negara melakukan pembiaran. Begitu juga yang terjadi pada UN. Berdasarkan keputusan Mahkamah Agung setelah dilakukan gugatan atas keabsahan pelaksanaan UN, diputuskan bahwa UN harus dikembalikan kewenangannya pada sekolah dan guru, namun negara ternyata melakukan pelanggaran pelaksanaan, negara melakukan pelaksanaan dengan pola terpusat. Sehingga dalam kenyataannya kemudian miras dan UN menjadi barang yang membahayakan.

Miras dan UNBK bila diibaratkan sebuah asupan, maka dua duanya kalau tidak dilarang mengatakan bahwa tidak ditangani oleh ahli yang tepat, maka setidaknya dua duanya dikerjakan dengan cara yang sembrono dan ugal ugalan. Bisa dibayangkan betapa ” sembrononya ” ketika tukang oplos miras melakukan racikan alkohol 95 % denga air, tentu mereka sudah tahu bahwa ini membahayakan, karena jelas jelas alkohol dengan kadar 95 % pasti sangat membahayakan bagi siapapun yang mengkonsumsinya. Namun toh tetap dilakukan, tentu tujuannya adalah kepuasan dan keuntungan.

Hal yang sama terjadi pada UN yang kemudian dalam pelaksanaan yang sekarang berubah menjadi UNBK, ketika dianggap bahwa UN menjadi penentu kelulusan, maka yang terjadi adalah bagaimana mereka semua bisa lulus dan mendapatkan nilai yang baik. Saat itulah terjadi intimidasi terstruktur dan massif kepada siswa dan guru serta sekolah. Karena tuntutan lulus dan nilai baik itulah yang kemudian terjadi malpraktek dalam pelaksanaan dilapangan. UNBK yang katanya bisa menekan kecurangan dan bahkan pernah dikatakan oleh walikota Surabaya bahwa ada korelasi antara penggunaan UNBK dengan kejujuran, semakin besar prosentase pelaksanaan UN memggunakan komputer, maka tingkat kejujuran juga semakin tinggi. Nah faktanya hari ini pernyataan walikota Surabaya akibat bisikan ” sesat ” kepala dinas pendidikannya terbantahkan semua, bahkan pelaku kecurangan adalah sekolah dibawah manajemen pengelolaannya.

Miras dan UNBK ternyata didalamnya ada persoalan mental, dua duanya prakteknya dilakukan secara ugal ugalan, semaunya sendiri tak mau berubah dalam menyikapi persoalan. Sebagai contoh ketika siswa mengeluh betapa sulitnya soal soal yang diujikan, jawaban pak menteri bahwa soal soal UNBK sudah sesuai dengan standar yang ada, standar soal penalaran yang disebut dengan soal kategori HOTS, soal yang membutuhka High Order Thinking System berupa analisa dan proses sebelum mendapatkan hasilnya. Namun fakta dilapangan ternyata jauh berbeda, para guru kita masih belum mau berubah dalam menyikapinya, sehingga munculah kalimat bahwa soal soalnya sulit. Padahal sejatinya adalah dosis penyikapan guru merupakan penyebab kegagalan siswa menjawab soal.

Kegagalan guru tentu juga tidak terlepas dari kegagalan dinas pendidikan menerapkan peningkatan kualitas guru, program peningkatan kualitas guru dari tahun ketahun polanya sama dan cenderung tak berubah, kalau toh ada perubahan, perubahan hanya terjadi pada tahun pelaksanaan anggaran dan besaran angka yang dibutuhkan.

Lalu Apa Yang Harus Dilakukan ?

Bagi saya sebaik apapun sistem, kalau persoalan mental tak disentuh, maka problem akan selalu muncul. Membangun kesadaran mental akan sebuah pengabdian merupakan sebuah keniscayaan.

Pembangunan mental masyarakat bisa dilakukan denga memulainya dari hal hal sederhana, semisal membangun program kegiatan yang berdampak pada mental jujur dan bertanggung jawab. Kerja bakti dan membuang sampah pada tempatnya adalah contoh kecil dan sederhana, kalau dilakukan secara terstruktur, bukan tidak mungkin akan membangun sikap respek, jujur dan peduli.

Nah sekolah, dinas pendidikan sudah saatnya untuk lebih terbuka dalam membuat program program peningkatan kualitas guru, agar pendidikan kita lebih baik ditangan orang orang baik dan berkualitas…..semoga !

” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (BUKHARI – 6015)

” Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”(QS Al-Ahzab 72)

 

Surabaya, 4 Mei 2018

M. Isa Ansori Anggota Dewan Pendidikan Jatim dan Dosen

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here