Catatan Oase Kehidupan #83: Orchestra dan Lukisan

0
167

KLIKMU.CO- Malam ini ( Rabu, 2 Mei 2018 ) saya berkesempatan dalam sebuah perigatan 100 hari wafatnya om Berty, seorang seniman serba bisa. Bagi saya, perjumpaan dengan om Berti merupakan sebuah anugrah, meski terjadi secara kebetulan. Saya dipertemukan dengan beliaunya almarhum sebagimana saya juga dipertemukan dengan sahabat saya almarhum Budi Londo. Om Berty dan Budi Londo, kini keduanya sudah sama sama beristirahat dengan damai, semoga keduanya khusnul khotimah.

Hal yang menarik malam ini dalam peringatan 100 hari, disajikan pameran lukis karya beliaunya dan diiringi dengan kelompok orchestra. Harmonisasi suara biola bas dan guitar disajikan secara apik sehingga membentuk bunyi bunyian yang indah. Terasa sekali sautan bunyi terangkai dalam ritme irama. Membentuk rangkaian nada yang indah nan mempesona.

Perpaduan rasa membingkai nada nada menjadi harmoni yang indah. Alam semestapun mendoa dalam alur selaksa kuasa semesta. Tautan rasa membingkai raga dalam Satu sukma mewarna. Harmonipun tercipta.

Alam Semesta Dalam Gerak Orchestra

Pusaran tautan malam dan siang, bergantinya hari dan bulan pertanda Tuhan sedang merangkai kuasanya, Tuhan membingkai perjalanan ciptanya dalam kuasa rangkaian nada nada orchestra. Berjalan indah tanpa ada suara fals dalam alunan putarnya. Terangkai indah tersirat bahwa dibalik itu semua pastilah ada yang maha indah.

Kemaha indahan Tuhan menyiratkan sebuah pesan bahwa Tuhan itu amat cinta dengan keteraturan, ketertiban serta kepatuhan terhadap sistem rangkaian yang indah. Begitulah sejatinya Tuhan mengajarkan tentang hidup yang terangkai menjadi nada nada yang indah.

Orchestra menyiratkan sebuah makna, bahwa perbedaan bila dikelola dengan rasa yang indah, rasa yang saling menghargai perbedaan dan penghormatan terhadap keberadaan akan menghasilkan sebuah warna kehidupan yang damai. Orchestra adalah nada kedamaian.

Hidup sejatinya merupakan rangkaian dari berbagai macam manusia, rangkaian dari berbagai macam kepentingan. Rangkaian rangkaian itu akan menjadi kuat dan terekat, bila rangkaian itu dibentuk oleh satu rasa dan satu makna.

Nah kawan….adalah sebuah kesedihan bila melihat rangkaian kehidupan kita berbangsa dan bernegara. Masyarakat seolah telah kehilangan rasa perekatnya, bangsa ini menjadi terbelah. Nada nada berbangsa membentuk suara sumbang, tak berirama, menistakan nada , dan berjalan dalam bingkai diri yang mematri. Kehilangan rasa berbudayanya, saling mencari celah, menebar fitnah dan prasangka, sehingga bangsa dirangkai dalam buaian laku nir etika.

Menjadikan Budaya Sebagai Bunyi Orchestra

Kita pernah punya pengalaman politik sebagai panglima, apa yang terjadi ? Segala sesuatunya dirangkai dalam bingkai berdasarkan kepentingan dan cara, sehingga mengaburkan nilai dan kebenaran yang sejatinya.

Begitu juga hukum sebagai panglima, pada prakteknya hukum menjadi alat kuasa untuk menista mereka yang berbeda dan memenjara yang tak sama. Hukumpun tak mampu memihak kepada yang berhak, hukum tajam kebawah dan tumpul keatas. Hukum menjadi rangkaian bunyi yang terasa parau dalam susunan kata kata.

Kebudayaan sebagai sebuah proses membangun nilai nila cipta dan rasa, kebudayaan sejatinya menjadi oase dipadang tandus etika, kebudayaan tak akan bicara menang dan kalah, kebudayaan hanya akan membingkai perilakunya pada makna kebersamaan, makna keteraturan dan makna ketertiban serta kepatuhan. Kebudayaan sebagai paglima, sejatinya membangun harapan baru bagi masyarakatnya.

Ditengah bangsa yang tersungkur dalam bersyukur, mengingkar terhadap apa yang disebut dengan perilaku sabar, tampilah gaya politik Ken Arok yang harus saling bunuh saling meniadakan satu sama lain. Pancasila tak lebih sebagai deretan sila sila tanpa makna. Semua mengaku paling Pancasila tapi tak mampu menjadi Garuda, Terbang tinggi gagah, memgayomi dan mengepak sayap melindungi raga bersama.

Ketika bangsa diwarna saling menista, tampilah wajah Pancasila berbentuk srigala, saling memangsa, mencengkeram , menerkam memuaskan hasrat yang akal budi yang sekarat. Tak akan ada lagi yang bisa diharap, hukum dan politik tak berdaya membendung angkara….Kebudayaan mesti harus dihadirkan.

Kebudayaan sebagai penghalus akal budi dan rasa kemanusiaan, menjadi oase ditengah keringnya nilai nilai, sehingga hadirnya para ” empu ” penjaga rasa berbangsa mutlak diharap takdir. Kebudayaan adalah orchesra, sehingga menjemput takdir akan hadirnya sang orchestra adalah sebuah takdir dalam melukis Indonesia yang beradab.

Keindahan orchestra merenda keadaban dan peradaban manusia yang saling menghargai dan menghormati dalam keteraturan laku dilkiskan oleh Allah dalam sebuah rangkaian ayat ayat suci yang indah dalam surat As Sajdah : 4 -7

” Allah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dalam enam masa. Kemudian Dia bersemayam diatas Arsy. Bagimu tidak ada seorangpun penolong maupun pemberi syafaat selain Dia, Maka apakah kamu tidak memperhatikan ” ( 4 )

” Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, kemudian urusan itu naik kepada Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu ” ( 5 )

” yang demikian itu, ialah Tuhan yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, yang Maha Perkasa , Maha Penyayang ” ( 6 )

” Yang memperindah segala sesuatu yang dia ciptakan dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah ” ( 7 )

Semoga kita hadir ditakdirkan Allah menjadi perangkai nada orchestra, memendarkan cahaya kebudayaan sebagai panglima bagi gugusan pulau nusantara yang adil dan beradab….aamien

Surabaya, 3 Mei 2018

M. Isa Ansori Anggota Dewan Pendidikan Jatim dan Pengajar Psikologi Komunikasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here