Catatan Oase Kehidupan #85: Membentangkan Jalan Pendidikan, Menjemput Masa Depan

0
106
Foto top ten futuristik city diambil dari youtube.com

KLIKMU.CO- Setiap orang sejatinya pernah melalui proses pendadaran diri menjadi lebih matang dalam bersikap dan berpikir. Kematangan bersikap dan berpikir menunjukkan sebuah sikap yang Erric Berne menyebutnya sebagai karakter ” adult ” atau dewasa. Karakter seseorang tentu tidak selalu harus berkaitan dengan usia, meski kadang saling mengikuti. Kadang sering juga kita jumpai seseorang kelihatannya usianya sudah menunjukkan usia yang sudah dewasa tetapi perilakunya masih kekanak kanakan. Begitu juga sebaliknya, ada anak yang sejatinya masih berusia anak anak tetapi cara bersikap dan berpikirnya menunjukkan kematangan sebagaimana sikap seorang dewasa.

Dinamisasi cara berpikir dan bersikap tentu tidak serta merta bisa terjadi pada diri setiap orang, dinamisasi bukanlah sesuatu yang ” Given “, dinamisasi merupakan hasil dari sebuah proses interaksi dialektika seseorang dengan orang lain dan lingkungannya. Tentu juga berkaitan dengan bacaan yang dilakukan. Sehingga bisa dipahami perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya : lingkungan, dengan siapa mereka berinteraksi serta bacaan seperti apa yang dikonsumsi.

Proses interaksi dan dialektika yang dilakukan seseorang merupakan sebuah proses yang saya menyebutnya sebagai sebuah proses keterdidikan. Keterdidikan tidak selalu harus dikaitkan dengan sekolah, keterdidikan bisa terjadi disembarang tempat. Namun juga harus dipahami bahwa sebuah situasi dimana terjadi proses pematangan sikap dan perilaku, disitulah sedang terjadi sebuah pendidikan disekolah. Sekolah tidak harus dipahami hanya sebatas ruang yang digunakan untuk belajar, namun sekolah harus dimaknai sebagai sebuah ruang besar alam semesta yang disana setiap orang bisa memperoleh ilmu pengetahuan dan pembekalan sikap dalam menjemput takdir masa depannya.

Pendidikan adalah salah satu sarana untuk mengembangkan potensi seseorang, termasuk mengembangkan potensi anak anak. Harus disadari bahwa setiap anak mempunyai masa depannya sendiri. Begitu juga dengan potensi dan keunikan yang mereka miliki. Sehingga menyiapkan masa depan mereka tidak harus mencerabut mereka dari akar potensi dan keunikan yang dimiliki.

Asahlah pisau dari sisi tajamnya, begitulah kata bijak mengajarkan pada kita. Seringkali kita dalam mengembangkan potensi anak terjebak pada sisi lemahnya, tak jarang juga kita rela mengeluarkan energi yang besar hanya untuk menguatkan sisi lemah anak, ibarat mengasah pisau, kita mengasah dari sisi tumpulnya. Apa yang terjadi kalau sudah begitu ? Tentu bisa dibayangkan sisi yang tajam akan berpotensi menjadi tumpul, sementara pada sisi tumpulnya akan membutuhkan waktu yang lama dan energi yang besar untuk menjadikannya tajam.

Realitas yang sering kita jumpai misalnya kalau kita mendapati anak anak kita lemah dibidang matematika, sementara disisi pelajaran bahasa inggrisnya kuat dan lebih baik dari pelajaran matematikanya, apa yang kita lakukan ? Sebagian besar orangtua dan guru serta para pengambil kebijakan pendidikan baik itu kepala sekolah maupun kepala dinas pendidikannya akan mempunyai kecenderungan mengambil jalan pintas memperkuat matematikanya dibanding meningkatkan kualitas dan kemampuan bahasa inggris si anak. Kita berkecenderungan pragmatis dan sejatinya ini menunjukkan bahwa kita lemah dalam melihat masa depan dan menyiapkan anak anak menghadapi masa depannya.

Sangat miris dan menyedihkan membaca media yang memuat pernyataan Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Syaiful Rahman yang mengatakan bahwa dia akan meminta kepada dua perguruan tinggi membantu meningkatkan perolehan nilai matematika dan IPA setelah melihat prestasi anak anak secara akademis terpuruk didua mata pelajaran tersebut. Seolah kemudian menafikan peran LPTK yang memproduksi tenaga guru.

Pendidikan Itu Adalah Seni

” Education is art ” begitulah para filsuf mengkategorikannya. Rudolf Joseph Lorenz Steiner seorang filsuf Austria , reformis sosial , arsitek dan esoteris mengatakan bahwa pendidikan adalah proses artistik. Para guru itu sejatinya adalah para seniman. Mereka menyiapkan proses belajar dan mengajarkan mata pelajaran agar pesan moral dan pesan pengetahuannya bisa sampai kepada muridnya. sementara yang dihadapi adalah murid dengan ketrampilan dan keunikan yang berbeda satu sama lain.

menghadapi keragaman itulah maka seorang guru dituntut melakukan cara tepat mengkomunikasikan pesannya agar dipahami oleh muridnya. Guru lalu merancang tahapan belajar yang dilakukan, merumuskan tujuan belajarnya serta bagaimana cara mencapainya. Dalam hal pencapaian hasil belajar, guru juga dituntut untuk mempertimbangkan kompetensi masing masing muridnya. Sehingga dibutuhkan kemampuan guru mempraktekkan pendekatan pendekatan belajar yang tepat bagi seluruh murid yang dilayaninya.

Guru membutuhkan rasa artistik yang dapat digunakan untuk mendampingi anak-anak ketika mereka berkembang karena tidak ada penilaian sistematis yang dapat memperhitungkan perubahan dalam kemajuan individu.

Tanpa elemen artistik ini, pembalajaran yang dilakukan akan memburuk menjadi dogmatisme atau sektarianisme. Di setiap cela yang ada, guru harus dapat melihat apa yang telah terjadi sejauh ini dan apa yang dapat berpotensi terjadi di masa depan. Keahlian guru tergantung pada persepsi yang sensitif, kekayaan ide dan rasa untuk apa yang unik.

Penghormatan terhadap makhluk yang mencoba mengembangkan menuju kebebasan menyebabkan penolakan terhadap metode pendidikan yang diterima secara umum seperti penggunaan media teknis yang terlalu awal yang cenderung melumpuhkan kegiatan dan pengalaman anak-anak sendiri , dengan demikian guru dituntut untuk bisa merangsang rasa ingin tahu anak dengan kemampuan yang dimiliki.

Cara menyajikan pesan serta strategi penyampaian pembelajaran inilah sejatinya adalah sebuah kegiatan kreatif yang sering melekat pada kegiatan berkesenian dan kebudayaan.

Menyiapkan Pendidikan Masa Depan

Anak anak akan hidup pada zamannya, sehingga apa yang kita lakukan hari ini seharusnya dipersiapkan agar anak anak bisa menghadapi tantangan kehidupan pada zamannya nanti.

Menyiapkan pendidikan masa depan anak itu juga berarti bahwa kita sebagai orang tua dan guru juga harus menyadari bahwa kita tidak selalu benar dalam memberi bimbingan, karena hal yang kita dapatkan pada masa lalu dan menurut kita baik, belum tentu baik juga bagi bekal anak anak kita menghadapi zamannya nanti. Sehingga sikap benar sendiri, selalu ingin didengar sudah seharusnya kita kurangi dan kalau mungkin harus kita tinggalkan. Semangat bersinergi dan membuka diri melakukan dialog serta saling memahami merupakan sebuah keniscayaan.

Pendidikan masa depan sudah seharusnya tidak hanya membekali anak anak pada kemampuan ilmu pengetahuannya, pendidikan masa depan mesti harus disiapkan pada pengembangan ketrampilan yang dimiliki oleh anak anak.

Adapun kebutuhan ketrampilan yang harus dikembangkan dalam menyiapkan anak anak menjawab tantangan masa depannya adalah kecerdasan karakter dan moral, kecerdasan literasi diantaranya literasi budaya, literasi baca, literasi keuangan, literasi sosial serta Kecerdasan Komunikasi, kemampuan bersinergi dan kemampuan menempatkan diri dan memahami orang lain.

Dalam kecerdasan karakter, anak anak tidak hanya disiapkan untuk pandai tapi juga dipersiapkan agar jujur dan bertanggung jawab, baik terhadap diri dan orang lain. Didalam kecerdasan literasi anak anak diarahkan untuk membekali dirinya dengan pemahaman berkaitan dengan budaya seseorang atau kelompok, bagaimana mendayagunakan apa yang dimiliki untuk kemanfaatan orang lain dan dirinya. Kecerdasan komunikasi lebih diarahkan pada bagaimana anak anak kelak bisa menempatkan diri pada situasi apapun dengan kemampuannya bersinergi serta menempatkan diri pada kelompok lain.

Semoga manfaat !

Surabaya, 5 Mei 2018

M. Isa Ansori, Anggota Dewan Pendidikan Jatim dan Dosen

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here