Catatan Oase Kehidupan #86: Merindu Prabu Kertanegara

0
144
Foto film kubilai khan diambil dari pinterest

KLIKMU.CO- Raja Kertanegara adalah raja terakhir dan terkenal yang memerintah Kerajaan Singhasari. Kertanagara naik takhta Singhasari tahun 1268 menggantikan ayahnya, Wisnuwardhana. Prabu Kertanegara dipandang sebagai penguasa Jawa pertama yang berambisi ingin menyatukan wilayah Nusantara.

Untuk mewujudkan ambisinya, maka Raja Kertanegara mengirimkan pasukannya dalam ekspedisi Pamalayu, yaitu ekspedisi yang bertujuan untuk menaklukkan raja raja disemananjung Melayu. Tujuannya tidak lain adalah untuk memperkuat pengaruhnya disemananjung Sumtra dan Selat Malaka, karena dipandang Selat Malaka merupakan jalur penting ekonomi dan politik.

Pada akhirnya ketika ekspansi kerajaan Mongol, Ku Bi Lai Khan yang menugaskan kaisar Meng Chi meminta Kertanegara tunduk dan menyerahkan upeti sebanyak 60.000 tahil emas setiap tahunnya.

Jawaban Sang Prabu Kertanegara adalah Singosari tidak akan pernah tunduk kepada bangsa mana pun! Tidak akan kubiarkan sejengkal pun tanah di Nusantara ini dikuasai bangsa lain. Kembalilah bersama mimpimu menguasai Nusantara! Dan ini adalah jalan kematian bagi Kubilai Khan!” Demikian kata Kertanegara, murka.

Lalu dilemparkannya surat ultimatum itu ke wajah utusan Mongol. Utusan dari seberang itu pun dipotong daun telinganya, dan kemudian diusir kembali ke negerinya.

Ketegasan Kartanegara terhadap dominasi bangsa asing adalah sebuah potret bahwa Nusantara punya harga diri, dan ketegasan merupakan bentuk dari mempertahankan harga diri bangsa.

Ketika Bangsa Terbelah dan Lemah

Sejak Indonesia merdeka, konflik tidak serta merta bisa meredah. Pertempuran melawan penjajah tidak serta merta berhenti, sejak diproklamasikan kemerdekaan, para founding father negara berkumpul dalam sebuah lembaga yang bernama BPUPKI, tugasnya merumuskan tali perekat kebhinekaan bangsa. Maka lahirlah kemudian rumusan Pancasila setelah melalui perdebatan yang panjang dan melahirkan UUD 1945 yang merumuskan salah satu tujuan bernegara yaitu mencerdaskan dan mensejahterakan. Serta lahirlah lima sila yang disebut dengan Pancasila.

Ketidak siapan kita sebagai bangsa yang merdeka inilah yang kemudian melahirkan konflik berkepanjangan sebagai warga bangsa, sehingga bangsa menjadi sangat lemah dan terbela. Peristiwa pemberontakan terhadap negara Indonesia dibawah kepemimpinan Soekarno – Hatta terus berlangsung.

Mengapa bisa terjadi ?

Ruang dialog yang sudah dibangun melalui BPUPKI mulai memudar. Masing – masing mulai memaksakan kehendaknya. Dan inilah kemudian menimbulkan perpecahan anak bangsa sampai saat ini.

Apa yang terjadi kemudian ? Perpecahan inilah yang kemudian lembaga lembaga asing dengan segala kepentingannya mencabik – cabik rasa ke Indonesiaan kita, diarahkan menjadi Indonesia dalam kepentingan mereka.

Hadirnya lembaga lembaga asing di masa orde baru untuk mendanai kelompok kritis terhadap orde baru, memberikan warna bagi cita rasa ke Indonesiaan kita sebagai Indonesia dengan segala nilai nilainya. Rasa ke Indonesiaan kita menjadi bias dan mewadahi apa yang menjadi kepentingan mereka. Nah saat itulah harua diakui kita sebagai bangsa mulau kehilangan jati diri.

Asing kita beri karpet merah, bahkan asingpun kita persilahkan untuk memotong bukan hanta telinga tapi juga kepala dan hati kita. Kita menjadi tak berdaya.

Sumpah serapah antar anak bangsa menjadi asupan sehari hari kita. Saling menista, saling mencela, seolah kita sudah kehilangan rasa ke Indonesiaan. Negara justru menjadi aktor keterbelahan. Ketidak adilan ditampakkan, kecongkaan layanan hukum dipertontonkan, negara sudah kehilangan malunya, sehingga tak risih memperlihatkan ” aurat ” kenegaraannya.

Hukum dipermainkan, rasa keadilan di abaikan, rakyat disuguhkan ketidak percayaan, sehingga negara semakin kehilangan kewibawaanya. Negara dalam keadaan nir etika dan nir percaya.

Apa Yang Bisa Dilakukan ?

Negara tanpa rakyat bukanlah disebut sebagai negara, pemerintah tanpa rakyat juga bukanlah disebut sebagai pemerintahan. Tapi sebaliknya rakyat tanpa negara, rakyat tetap ada. Begitu juga rakyat tanpa pemerintah, rakyat tetap akan ada, sehingga agar negara dan pemerintah tetap ada, maka negara dan pemerintah harus bersama rakyat. Pemerintah harus melayani rakyatnya dengan baik.

Perilaku negara beserta aparatnya yang melayani rakyat dengan baik dan adil tanpa membedakan adalah bagian dari etika dan cara mengembalikan kepercayaan rakyatnya.

Kertanegara adalah contoh baik bagaimana pemimpin melayani dan melindungi rakyatnya. Tak tunduk pada kepentingan asing, baginya kesejahteraan rakyat dan kedaulatan negara menjadi hal penting dibanding tunduk kepada kemauan asing. Tak akan perna ada makan siang yang gratis, begitu juga bantuan asing.

Jadi tetaplah tegar sambil berkomitmen menghayati syair

Padamu negeri kami berjanji
Padamu negeri kami berbakti
Padamu negeri kami mengabdi
Bagimu negeri jiwa raga kami

Surabaya, 7 Mei 2018

M. Isa Ansori

Pengajar Psikologi Komunikasi dan Pegiat Pendidikan Yang Memanusiakan, Anggota Dewan Pendidikan Jatim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here