Catatan Oase Kehidupan #88: UNBK Potret Ketidak Adilan

0
133
Foto ketuk palu keadilan diambil dari Inpas.online

KLIKMU.CO- Catatan ini sejatinya dimaksudkan untuk bahan diskusi yang dilaksanakan oleh Dewan Pendidikan Jatim sebagai agenda rutin. Pada diskusi rutin kali ini Dewan Pendidikan Jatim memgundang beberapa kepala sekolah dan guru sebagai pelaksana kegiatan tahunan tersebut.

UNBK sejatinya merupakan reinkarnasi dari ujian ujian nasional sebelumnya, yang membedakan adalah ujian ujian nasional sebelumnya masih menggunakan instrumen kertas, sedang pada UNBK basis pelaksanaannya menggunakan komputer dan soal langsung diunduh. Prosesnya sebetulnya tidak betul betul digitalized, masih dengan proses diunduh, disimpan dan didistribusikan ke jaringan LAN yang ada pada masing masing sekolah. Disinilah sebetulnya urgensinya server. Semakin baik dan besar bandwicth yang dimiliki oleh sekolah maka kelancaran pelaksanaan UNBK bisa dijamin.

Kemampuan penyedian komputer dan server oleh sekolah sejatinya itu adalah prestasi tersendiri, karena agar dianggap sebagai sekolah yang mensukseskan ” ambisi ” kepala dinas dengan target 100 % UNBK, sekolah harus berdarah darah dan membebani walimurid untuk mensubsidinya.

Betapa pentas ketidak adilan dipertontonkan pada pelaksanaan UNBK, sekolah yang tak mampu dipaksa menyediakan sarana, belum lagi para siswanya yang tak pernah bersentuhan dengan komputer dan internet. Bagaimana mungkin mereka bisa mengerjakan soal, mengoperasikan komputer saja belum tentu bisa.

Apa Yang Dicari Dari Pelaksanaan UNBK ?

Konon katanya pelaksanaan UNBK akan mengurangi kecurangan. Ah masak….justru UNBK akan sangat berpotensi terjadinya kecurangan, karena sejatinya hanya perubahan instrumen ujian nasional, yang dulunya dengan kertas, sekarang melalui media komputer. Didalam pelaksanaannyapun sejatinya sangat rawan terjadi kecurangan. Soal diunduh dari internet, lalu disimpan dan didistribusikan ke jaringan LAN.

Sehingga sejatinya kerahasiaan soal soal UNBK patut dipertanyakan. Nah disini sejatinya ada persoalan moral saja tentang tingkat kecurangan pelaksanaan baik itu yang UNBK maupun yang menggunakan kertas. Peenyataan yang mengatakan bahwa UNBK berkorelasi dengan kejujuran, nyatanya terbantahkan dengan kasus dugaan kebocoran soal di salah satu SMPN di Surabaya.

Pelaksanaan UNBK tak lebih hanyalah sebuah upaya prestige yang ingin diraih oleh personal pemilik kebijakan, agar bisa disebut sebagai daerah yang ” hebat ” tanpa mau melihat kenyataan yang ada.

Ujian Nasional sejatinya bukan persoalan alat, ujian nasional sejatinya persoalan moralitas, instrumen apapun yang dipakai kalau moralitasnya memang curang, maka kecurangan akan tetap dilakukan. Sehingga menjadi penting bahwa persoalan moralitas dan pendidikan karakter segera harus dikuatkan.

Butuh Keteladanan

Setiap orang dalam menjalankan perilakunya biasanya selalu mencari analog. Nah dalam kaitan pelaksanaan ujian nasional hal yang paling memungkinkan siapa yang akan menjadi tauladan.

Apa yang terjadi di Surabaya merupakan contoh kecil buruknya keteladanan. Dugaan kecurangan tentu tidak bisa dilepaskan adanya faktor lain yang menyebabkan terjadinya kecurangan. Pavlov menyebutnya sebagai stimulus dan response.

Hal yang terjadi di Surabaya, bukan tidak mungkin terjadi ditempat yang lainnya, hanya karena faktor ” tidak beruntung ” apa yang terjadi di sebuah SMPN Surabaya bisa terbongkar.

Nah kembali pada stimulus dan response, bukan tidak adanya dorongan agar anak anak mendapatkan nilai yang memuaskan, maka kemudian diterjemahkan salah oleh sekolah, dengan cara membantu memberi jawaban soal kepada anak anak.

Keteladanan yang dibutuhkan agar dalam ujian nasional tidak lagi terjadi kecurangan adalah berlakulah adil kepada semua sekolah dan anak, beri kebebasan sekolah memilih model ujian nasional seperti apa disesuaikan dengan keadaannya. Sehingga tidak lagi terbebani oleh ambisi ambisi yang sejatinya tidak mereka butuhkan.

Keteladanan yang lain yang dibutuhkan adalah berhentilah menjadikan nilai akhir ujian nasional sebagai ukuran baik dan tidaknya sekolah, apalagi menjadikan nilai ujian nasional sebagai prasyarat kelulusan, karena hal itu akan mendorong semakin suburnya praktek praktek kecurangan dan ketidak adilan.

“ Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali. ” ( QS. An Nahl: 92 )

 

Surabaya, 9 Mei 2018

M. Isa Ansori

Anggota Dewan Pendidikan Jatim dan Staf Pengajar di Ilmu Komunikasi Untag Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here