Catatan Oase Kehidupan #89: Bimbingan Konseling Dan Penyidikan

0
107
Foto detective conan diambil dari hypetokyo.com

KLIKMU.CO- Rabu ( 9/5) ), saya diberi kesempatan untuk bertemu dengan beberapa sahabat guru BK di Kabupaten Bangkalan. Acara yang digagas oleh Dinas Perlindungan Anak dan Perempuan ini sudah tahun ke lima menjadikan saya sebagai teman pendamping.

Kebetulan dalam pendampingan, hadir juga Ibu Mumun yang juga aktifis di PPT Kabupaten Bangkalan. Saya hanya kebagian sesi yang ketiga. Sesi pertama dan kedua, sudah banyak mengupas tentang perlindungan anak, pencegahan dan penanganan, serta peraturan dan mengapa kekerasan terhadap anak masih saja terjadi.

Saya sejatinya juga sudah menyiapkan hal yang hampir sama dengan yang disiapkan oleh pembicara pertama dan kedua. Dalam benak saya, kalau saya sampaikan hal yang sama, maka tentu akan membosankan dan tidak menarik. Karena saya yakin para guru pasti pahamlah tentang peraturan dan penyebab kelerasan terhadap anak.

Untuk menyiasati agar tidak membosankan dan mengulang materi yang ada, saya memulai dengan sebuah pertanyaan apa bedanya guru bimbingan konseling dengan penyidik ? Salah seorang guru, Pak Qomar menjawabnya kalau guru bimbingan konseling biasanya memberikan konseling kepada murid berkaitan dengan masalah masalah yang dihadapi. Sedangkan penyidik biasanya mencari dan memastikan tentang kesalahan yang sudah dibuat dan kemudian dipastikan hukumannya.

Lalu apakah guru BK tidak menghukum murid, ketika mereka dilapori ” penyimpangan ” murid nya. Pak Qomar pun menjawab ya kadang kadang guru BK juga harus menghukum, agar anak bisa menjadi baik. Kalau guru BK juga menghukum, lalu apa bedanya dia dengan penyidik ? Apalagi kalau kemudian hal hal yang dianggap sebagai kesalahan lalu dikaitkan dengan poin poin yang sudah ditetapkan oleh sekolah. Siapapun murid yang sudah memenuhi kriteria poin, maka layak mendapat sangsi dan hukuman. Kalau guru BK kemudian menghukum dan memberi sangsi, dimanakah letak nilai konselingnya ? Padahal dalam konseling hasil akhir diinginkan adalah jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi oleh anak.

Konseling Adalah Bukti Adanya Kepercayaan

Dalam banyak hal, kalau ada orang datang ke orang lain untuk minta pendapat, itu artinya bahwa orang yang didatangi itu dipercaya bahwa akan bisa membantu memecahkan persoalannya. Konseling itu bisa diartikan sebuah dialog antara guru dan murid sebagai klien. Murid dengan sukarela datang untuk berkonsultasi, karena murid percaya bahwa gurunya akan membantu mencarikan jalan keluar terhadap masalah yang dihadapi.

Sejatinya beruntunglah guru BK, karena ditempatkan pada posisi yang bisa dipercaya. Namun apakah kepercayaan itu bisa dijaga ? Ternyata juga tidak semuanya bisa menjaganya. Akibatnya guru BK seolah polisi sekolah, sehingga harus dihindari oleh murid. Kesan mereka adalah siapapun yang datang dan ditangani BK, maka dianggap bermasalah dan layak untuk diberi sangsi.

Mengikatkan Hati Dan Perasaan

Kesan bahwa bimbingan konseling sebagai ruang penyidikan sudah seharusnya dihilangkan, ibarat situasi sakit, maka guru BK adalah dokter dan murid adalah pasien. Dibutuhkan keberanian merubah tampilan bahwa bimbingan konseling merupakan ruang disanalah murid bisa mencari solusi atas kendala bealajar yang dia hadapi dan mereka bisa mempunyai harapan harapan baru dalam membangun belajarnya.

Saya mencoba membangun ingatan kawan kawan guru BK dengan berbagai peristiwa yang dialami guru sehingga berakibat adanya ” gap ” antara guru dan murid. Saya ajak mereka menganalisa mengapa kasus sampang sehingga mengakibatkan meninggalnya guru budi ditangan muridnya. Kasus di Sidoarjo, yang berujung pidan pada gurunya karena dilaporkan oleh walimurid, padahal gurunya hanya mencubit dan mengingatkan agar siswa jangan menghindar dari kegiatan sholat dhuha. Apakah yang dilakukan oleh mereka terhadap muridnya adalah sesuatu yang tidak baik ?

Seringkali dalam beraktifitas kita jumpai sesuatu yang baik belum tentu bisa diterima dengan baik. Ada problem cara dalam menyampaikan. Baik cara berkomunikasi maupun pilihan kata yang disampaikan kepada murid.

Didalam komunikasi kita mengenal komunikasi intrapersonal, yaitu kemampuan berkomunikasi didalam diri dengan jalan merasakan hal hal yang tak patut kalau kita diperlakukan orang lain. Ada sesuatu yang harus kita rasakan, kalau kita tak ingin dicubit orang lain, maka jangan mencubit orang lain. Kecerdasan rasa dan bahasa menjadi keniscayaan agar kita berhati hati ketika memperlakukan orang lain. Kecerdasan rasa dan bahasa itulah yang akan mengantarkan kita pada kecerdasan mengelola diri.

Kecerdasan memperlakukan diri dalam berbahasa dan berkomunikasi, agar tidak mengganggu orang lain dan bila berlaku antar diri dalam sebuah kompulan masyarakat, itulah yang disebut dengan kemampuan komunikasi interpersonal.

Kemampuan mengelola diri baik yang berhubungan dengan diri sendiri maupun yang berhubungan dengan orang lain merupakan kecerdasan kita berbudaya dan beretika.

Kecerdasan berbudaya dan beretika itulah yang akan bisa mengantarkan setiap orang bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain. Kemampuan merasakan perasaan orang lain akan mendekatkan hati pada masing masing orang.

Nah kembali kepada tugas dan fungsi guru BK sebagai sahabat anak anak, maka mereka diharuskan mampu mengelola hati dan perasaan anak anak agar mereka juga bisa merasakan getaran kasih sayang guru BK. Kalau rasa itu sudah saling berkait maka yang terjadi adalah keharmonisan hubungan belajar dan komunikasi antar guru dengan murid dan guru dengan guru serta antar siapapun yang ada disekolah.

” Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imron: 159).

 

Surabaya, 10 Mei 2018

M. Isa Ansori

Anggota Dewan Pendidikan Jatim, Sekertaris Lembaga Perlindungan Anak dan Pengajar psikologi komunikasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here