Catatan Oase Kehidupan #96: Refleksi 20 Tahun Reformasi: Ada Apa dengan Reformasi dan Kesabaran Revolusioner

0
539

KLIKMU.CO

Oleh: M.Isa Anshori*

Hari Minggu, 20 Mei 2018 tepat 20 tahun reformasi bergulir. Ada satu pertanyaan besar mau dibawah kemana bangsa ini paska reformasi ?
Dalam seharian ini saya menghadiri 3 kelompok diskusi di tiga tempat, semuanya merefleksikan betapa reformasi dirasakan sudah mengalami reduksi nilai. Nilai nilai yang diharapkan dapat dicapai ternyata saat ini terasa mengalami titik balik kemunduran.

Beberapa persoalan nilai dan etik yang muncul diantarkan oleh beberapa nara sumber, diantaranya reformasi sebagai antitesis orde baru saat itu sejatinya dimaksudkan untuk melawan praktek culas seperti KKN, maraknya kekerasan, hutang yang semakin berjibaku, persekusi, pendidikan yang semakin jauh dari pembebasan serta konflik antar kelompok baik itu kelompok masyarakat maupun kelompok ummat beragama. Terlebih lagi adanya praktek praktek politik yang culas dan transaksional, sehingga terasa sekali kualitas kepemimpinan yang dihasilkan.

Dodot dari kelompok diskusi tengah kota mencoba memotret persoalan persoalan itu dari 4 persoalan yang melatar belakangi yaitu persoalan kebudayaan, pendidikan, ekonomi dan politik. Ke empat persoalan itu dirasakan sebagai penyebab yang mempengaruhi bergesernya moral dan etik masyarakat. Pak Yunus ditempat yang lain melihat adanya praktek praktek kekuasaan yang cenderung menjauhkan diri dari nilai nilai yang diemban sebagai pemimpin, praktek curang, tidak adil, koruptif serta tidak malu mementaskan kebohongannya. Mas Saiful di Dewan Kesenian Surabaya melihatnya bahwa semua itu berasal dari sudah tidak adanya lagi nilai nilai UUD 1945 setelah diamandemen. Pelaksanaan pemerintahan kita menjadi tidak terkait satu sama lain, suka suka, kehilangan arah. Sehingga untuk memperbaikinya harus dikembalikan dulu berlakunya UUD 1945.

Dalam tulisan ini saya mencoba menjumput beberapa kegelisahan dan kegersangan nilai nilai yang dirasakan berdasarkan rangkaian rangkaian ungkapan nara sumber yang hadir di tiga empat tersebut.

Pendidikan Yang Memenjarakan.

Praktek praktek bermasyarakat yang terjadi sekarang ini tidak bisa dilepaskan dari praktek praktek pendidikan yang terjadi. Sekolah kita begitu mendominasi pengasuhan, tidak memberi ruang alternatif bagi berlangsungnya proses pembelajaran yang memerdekakan. Sekolah menjadi penjara bagi kebebasan berpikir anak anak. Sehingga anak anak cenderung berpikir kacamata kuda. Harus ada upaya mengurangi ruang sekolah sebagai satu satunya sebagai tempat belajar. Pendidikan rumah merupakan alternatif lain yang bisa ditawarkan. Anaka anak harus diberi kebebasan memilih belajar apa yang disukai, agar mereka mempunyai kepercayaan dan kemerdekaan diri.

Rumah sebagai tempat pengasuhan pertama merupakan tempat penting bagi berkembangnya dinamika psikologi anak. Tentu saja diperlukan kemampuan yang mumpuni dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia anak anak. Seorang ibu harus cerdas, karena dengan kecerdasannya itulah seorang ibu bisa menjadi madrasah bagu putra putrinya. bagaimana mungkin dia bisa mencerdaskan kalau dirinya tak cerdas.

Kang yusron, sebagai provokator literasi Menebar Energi Positif mengilustrasikan dengan sebuah pertanyaan kita ini sejatinya mau menjadi apa ? Menjadi gula ? Garam ? Atau kopi ?. Kalau kita mau menjadi gula atau garam maka kita tinggal mengikuti perkembangan yang ada, tapi kita tak akan pernah menjadi apa apa. Keberadaan kita akan menjadi pelengkap dan penyedap disetiap zaman. Kalau kita ingin menjadi kopi maka harus dipersiapkan ” koki ” untuk meramunya. Hadirnya kita harus mempunyai arti dan mampu memberi sumbangan perubahan yang lebih baik. Hadirnya kita tidak hanya sekedar penyedap dan pelengkap, tetapi kita juga mencipta.

Sumber daya alam yang kita miliki sesungguhnya luar biasa, tapi apakah sumber daya alam itu kemudian mampu mensejahterakan kita ? Coba bandingkan dengan Thailand, mereka tidak mempunyai kekayaan alam sebanyak yang kita miliki, tapi mereka bisa menghasilkan kekayaan alam melebihi apa yang kita dapatkan. Mereka mampu melakukan pengelolaan managemen yang baik.

Menjadi Manusia Yang Etik dan Berbudaya

Praktek praktek bernegara dan bermasyarakat yang curang dan culas hampir merasuki kehidupan kita. Mempersekusi kelompok lain, merasa benar sendiri yang lain salah, arogansi, diluar kelompok saya harus saya lawan, koruptif, tidak tertib serta kesombongan sosial menjadi praktek sehari hari.

Peristiwa kekerasan di Mako Brimob dan teror bom di beberapa tempat di Surabaya dan Riau, tidak bisa dilepaskan dari persoalan hilangnya nilai nilai. Baik itu nilai moral, nilai etik dan nilai kebudayaan. Orang sudah kehilangan empatinya serta kecerdasan intrapersonalnya. Sehingga tak mampu merasakan kecemasan dan perasaan orang lain, akhirnya dengan mudah memperlakukan orang lain dengan cara sewenang wenang dan tidak adil. Sebagai bangsa kita telah kehilangan ruh.

Praktek di Mako Brimob dan beberapa tempat di Surabaya dan Riau bisa jadi juga terjadi ditempat lain, tentu dengan wujud yang berbeda tapi substansinya bisa sama. Kekerasan, praktek ketidak adilan, arogansi dan melecehkan hak orang lain adalah menu sehari hari yang bisa kita sasakan. Manusia telah kehilangan rasa etiknya, moralnya dan kebudayaannya.

Mengasah kecerdasan etik, moral dan budaya adalah membangkitkan rasa kesantunan kita , tertib, tidak merampas hak orang lain. Praktek santun dan tertib merupakan standar moral yang harus dipegang dan dijaga, sehingga kita bisa menjadi mahluk yang berbudaya.

Manusia berbudaya adalah manusia yang seperti kopi. Dia menjadi koki yang menghadirkan sebuah situasi yang baru dan keluar dari zona amannya. Manusia seperti cenderung mempunyai prinsip dan bersikap profesional. Sikapnya merdeka tapi penuh dengan tanggung jawab.

Kesabaran Revolusioner

Setiap perjuangan diharapkan selalu mendapatkan cita cita yang diinginkan. Semua butuh proses tidak bisa seperti membalik telapak tangan. Kadang dalam perjuangan harus juga mendefinisikan kemenangan, sehingga bisa dihindarkan kekecewaan yang mendalam dan sikap pragmatis.

Mendefinisikan kembali kemenangan dalam perjuangan serta memahamkan diri tentang arti perjuangan menjadi hal penting. Mengapa ? Agar kita tidak mudah kecewa, bersikap pragmatis, merasa paling benar dan selalu menyalahkan.

Apakah reformasi itu gagal ? Kalau kita melihat capaian dari sisi kepentingan pragmatis kita, maka reformasi telah gagal. Reformasi adalah sebuah antitesis yang dbangun atas sebuah tesis hancurnya nilai nilai keadilan dan kejujuran yang diperbuat oleh rezim saat itu. Runtuhnya rezim merupakan keberhasilan jangka pendek. Mengisi nilai reformasi paska kehancuran rezim merupakan perjuangan panjang, menentukan capaian capaian kecil menuju cita cita ideal diperlukan sebuah kesabaran ekstra dan revolusioner.

Kesabaran adalah sebuah sikap menahan diri tetap bertahan dalam garis cita cita perjuangan dengan tetap berkomitmen pada rumusan capaian yang disepakati. Kesabaran dalam perjuangan banyak dicontohkan oleh para pejuang kemerdekaan . 350 tahun mereka berjuang, mereka tak pernah berpikir akankah mereka menikmati hasilnya, mereka hanya bercita cita bahwa Indonesia harus merdeka, tak peduli siapa nanti yang akan melakukan. Yang terpenting bagi mereka adalah kelak anak cucunya bisa hidup dialam yang merdeka.

Kawan…..kita semua sejatinya berada dalam alam perjuangan mewujudkan cita cita ideal, dibutuhkan waktu dan proses untuk meraihnya. Apa yang ada sekarang ini bukan akhir dari perjuangan. Kita mesti harus bisa menahan diri terhadap sesuatu yang dalam anggapan kita tidak sama. Belum tentu yang tak sama mesti salah. Karena setiap orang punya batas kesabaran dan cara merumuskan dan mewujudkan nilai ideal itu. Maka melatih diri memahami proses serta berupaya mampu mendefinisikan capaian merupakan sikap revolusioner diri menginternalisasikan kesabaran. Jangan mudah putus asa dan menyalahkan, apalagi menyalahkan. Pejuang itu sabar dan selalu memegang komitmen. Pecundang adalah mereka yang terlalu mudah menyalahkan, mengeluh dalam perjuangan dan selalu merasa diri benar sulit menerima pendapat dan cenderung memaksakan kehendak.

Sebagai penutup rangkaian diskusi saya menjadikan Quote apa yang dikatakan oleh Dr. Tjuk Soekiadi, tokoh senior dan perjuangan reformasi bahwa dalam perjuangan selalu dibutuhkan mental yang tangguh. Nah apa yang kita lakukan saat ini merefleksikan kembali apa yang sudah diperbuat dalam mengisi nilai nilai adalah bentuk ketangguhan mental dan komitmen yang selalu kita pegang. Inilah pejuang sejati. Soelistyanto Soeyoso, budayawan menyebutkan bahwa pendidikan yang baik, pendidikan yang memanusiakan dan memerdekakan adalah sebuah keniscayaan. Kebudayaan adalah jalan mempertemukannya.

 

Surabaya, 21 Mei 2018

*Anggota Dewan Pedidikan Jatim dan Staf pengajar di jurusan ilmu komunikasi Untag 1945 Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here