Catatan Oase Kehidupan #99: Tentang Pendidikan Tertinggal

0
130
Foto para pejuang pendidikan diambil dari dokumentasi pribadi panitia pelaksana seminar pendidikan unesa

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Sabtu, 26 Mei 2018, Puji Syukur Kepada Allah Yang Maha Berkenan, Saya ditakdirkan bisa bersama orang orang hebat yang mendedikasikan dan mendarma baktikan hidupnya untuk pendidikan. Saya hadir dalam acara bertema ” Pendidikan Daerah Tertinggal di Jawa Timur “. Mereka itu adalah Prof. Dr. Luthfiah Nurlaela, M.Pd, Kepala PPG Unesa, Dr. Fathor Rakhman, M.Pd, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Situbondo, HM Jupri Riyadi, SH, S. Pd, Kepala Cabang Dinas Kabupaten Sampang, Kresna Herlambang, SH, M. Pd, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Kota Madiun, Moh Eksan, Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur dan saya sendiri dari Dewan Pendidikan Jawa Timur.

HM Jupri dan Dr. Fathor Rakhman yang merupakan perwakilan kabupaten dan kota yang mendapati zona merah, daerah miskin dan daerah tertinggal di Jawa Timur, merasa bersyukur dan tertantang, sehingga beliau bertekad bahwa pendidikan didaerahnya, tahun 2020 harus sudah ” move on ” dari zona merah tersebut. ” Saya sangat berterima kasih dan bersyukur bahwa daerah kami berada di zona merah, ini berarti kami mendapatkan motivasi kami harus bekerja lebih maksimal lagi, kami berharap putra putri terbaik Sampang yang masih belajar di sini, segeralah balik, Saya menunggu anda semua “, Ujar Jupri Riyadi. Sementara itu Fathor Rakhman mengatakan ” Kami sudah bertekad bahwa predikat pendidikan daerah tertinggal harus kami hapus pada tahun 2020. Untuk memulainya, Saya bersama seluruh tim Diknas Kabupaten Situbondo bertekad tahun 2020 harus sudah terhapus”. Apa yang disampaikan oleh beliau berdua mendapatkan applaus yang luar biasa dari para peserta yang terdiri dari mahasiswa peserta PPG Unesa, Mahasiswa Pra Jabatan serta Mahasiswa Alumni SM-3T yanh telah mendarmabaktikan hidupnya di ujung negeri serta para undangan dan dosen di Unesa. Tampak juga dalam undangan itu, Dr ( HC) Ir. abdul Kadir Baraja., Ketua Yayasan Dana Sosial Al Falah yang mempunyai program Jatim Mengajar.

Kresna Herlambang yang mewakili Kadiknas Pendidikan Jatim, lebih banyak menjelaskan progaram apa saja yang sudah dilakukan oleh Dinas Pendidikan Jawa Timur berkaitan dengan peningkatan kualitas pendidikan di Jawa Timur. Beliau banyak memaparkan data keberhasilan, misalkan meningkatnya APK dan APM, serta kegiatan kegiatan peningkatan kualitas guru. Lain lagi dengan Prof Luthfia Nurlela, beliau tidak hanya mengajar di ruang tapi beliau juga terjun langsung bersama sarjana dan mahasiswa ke ujung ujung negeri Indonesia , mendarma baktikan ilmunya, mendampingi para guru didearah tertinggal, mencarikan solusi serta memotivasi anak anak agar mereka bisa meraih yang terbaik dalam pendidikannya. Beliau berjibaku dengan keterbatasan yang ada dan harus bisa menjadikan mereka menjadi terbaik bagi anak anak diderah terringgal. Dalam bukunya “Berbagi Di Ujung Negeri 2 Dari Sorong Sampai Aceh, beliau menuliskan pengalaman pengalamannya selama mendampingi program sarjana mendidik di pulau terdepan, terluar dan terpencil ini sebagai program berbagi kemuliyaan. Pesan beliaunya yang begitu dalam maknanya sebagai sebuah pengabdian yaitu ” Tunjukkan kepada mereka bahwa mimpi itu akan menjadi nyata ” setidaknya menjadi obor semangat memgabdi dan berbagi untuk negeri. Saya menaruh hormat kepada mereka semua yang telah mendedikasikan dirinya untuk pendidikan anak anak negeri.

Mokh Eksan, Ketua Komisi E DPRD Jatim banyak memberikan motivasi dan semangat kepada para guru dan mahasiswa peserta. Beliau banyak memberikan contoh contoh baik sebagai inspirasi peningkatan kualitas pendidikan, misalnya beliau menyarankan libatkan mereka dalam pendidikan, seperti para guru bangsa, tokoh masyarakat dan para alumni dalam kegiatan pembelajaran, agar mereka bisa menjadi inspirasi bagi anak didik.

Saya sendiri sejatinya berniat untuk belajar bersama mereka, karena saya merasakan apa yang saya lakukan tak sebanding dengan apa yang sudah mereka lakukan, saya katakan kalau seandainya Allah mentakdirkan masuk surga, maka mereka inilah yang kelak akan menjadi tetangga para Nabi. Paparan saya tentang menyiasati keterbatasan, lebih banyak dipengaruhi pengalaman saya mendampingi sahabat sahabat guru di NTT di Maumere dan Attambua. Saya katakan kepada mereka, ketika saya mendampingi para guru yang rata rata ibu rumah tangga dengan pendidikan yang sangat terbatas, tentu berharap seperti yang terjadi di Surabaya akan sangat sulit, sehingga bagi saya penting mengajak kepada mereka untuk melakukan yang terbaik. Terbaik itu seperti apa? Saya mencoba menggali jawaban dari peserta, saya mendapatkan jawaban bahwa terbaik itu adalah memberikan sesuatu yang kita miliki dengan maksimal. Jawaban itulah yang kemudian menjadi dasar pijakan saya bagaimana menyiasati keterbatasan untuk mencapai capaian yang maksimal. Saya berikan lagi pertanyaan kepada peserta, siapa yang paling tahu kebutuhan anak anak dalam belajar ? Mereka menjawab anak anaklah yang paling tahu tentang kebutuhannya. Nah pernahkah kita dalam melakukan proses belajar menanyakan kepada anak anak apa yang menjadi kebutuhan nya? Peserta dan sebagian para guru terdiam. Nah bagi saya problem pembelajaran kita saat ini tidak banyak yang melayani anak anak, karena proses proses yang dilakukan hanya melayani kebutuhan para guru dan negara, anak anak diabaika, akhirnya menjadi korban. Memberikan yang terbaik kepada anak adalah melibatkan apa yang menjadi kebutuhannya dalam proses belajar. Sehingga kita akan bisa memberikan yang terbaik bagi anak anak. Ibarat orang lapar, maka kita tahu yang kita berikan adalah makanan bukan minuman.

Dalam teori transaksional analisis Berne menyebutnya sebagai situasi yang ” I am ok, You are ok “. Situasi dimana semua pihak merasa nyaman tanpa ada yang dirugikan. Situasi itu bisa terjadi kalau semua pihak bisa menemoatkan diri dan bisa saling memahami, sehingga akan ada saling penghormatan. Nah untuk memulainya, kita bisa memulai dengan apa yang mudah, murah dan bisa. Jadi memulai dari apa yang ada saja san bisa kita lakukan. Menunggu pihak lain untuk berbuat, tentu akan lama dan bisa mengecewakan, karena harus kita sadari bahwa pihak lainpun juga punya keterbatasan dan aturan yang harus ditaati.

Apa yang saya lakukan bersama sahabat sahabat guru terbaik saya di Maumere dan Attambua adalah memaksimalkan apa yang ada dan bisa serta mudah dilakukan untuk kepentingan pendidikan. Yang terpenting anak anak merasa senang dan menadapatkan sesuatu yang bermanfaat dari apa yang ada itu.

Tentang Ketertinggalan

Ketertinggalan adalah sebuah kondisi yang berjarak dengan sesuatu yang ideal. Ideal adalah sebuah kondisi yang sesuai dengan hasil yang diharapkan. Sehingga situasi ideal tidak bisa dilihat dari apa yang terjadi saat ini dan apa yang terlihat. Karena bisa jadi penglihatan kita terbatas, sehingga ada hal lain yang tidak kita ketahui. Ketertinggalan bisa jadi disebabkan oleh keterbatasan yang kita miliki atau bahkan juga bisa bersumber dari kemalasan kita berpikir lebih jauh untuk kepentingan ideal.

Ketertinggalan dalam makna yang lebih luas, bisa berwujud keterringgalan kita melihat sesuatu, sehingga kita tidak bisa mengikuti penglihatan yang dilakukan oleh orang lain. Hal yang lebih berbahaya adalah ketertinggalan dalam proses berpikir, karena ketertinggalan dalam proses ini kalau disertai dengan sikap yang bijak, maka yang terjadi adalah merasa paling benar dan paling baik.

Dalam kehidupan sosial, situasi ketertinggalan berpikir yang tidak diikuti dengan sikap yang bijak maka akan cenderung menjadi ” noise “, bertahan dalam sikap dan pendapatnya sendiri yang akhirnya cenderung menjadi fitnah dan ketidak harmonisan.

Sikap bijak dan dewasa dalam menyikapi sesuatu akan mendorong kita untuk selalu belajar dan mencari tahu sesuatu yang terjadi kepada mereka yang tahu, bertanya kepada yang tidak tahu, justru akan semakin menjadikan kita tertinggal.

Saya sampaikan kepada kawan kawan guru dalam seminar tersebut, kalau kita menjadi guru hanya menekankan pada kemampuan. Kognisi saja, maka kelak kita akan ditinggalkan oleh murid murid kita. Harus diakui teknologi telah menggantikan peran guru dalam mendapatkan pengetahuan. Yang tidak bisa digantikan oleh teknologi dalam peran guru adalah menjadikan murid murid berintegritas. Nah menjadi guru yang berintegritas itulah yang kelak menjadikan profesi guru itu tak tergantikan.

Sebagai catatan tambahan bahwa berintegritas itu melatih diri kita untuk selalu bersikap respek, , menghormati pandangan orang lain, sehingga akan membuka ruang hati dan pikir, memberi kesempatan orang lain untuk berbuat, bukan hanya menganggap diri yang paling baik dan paling berjasa. Hal lain yang menjadi sikap integritas itu adalah beetanggung jawab. Bertanggung jawab adalah sebuah sikap kehati hatian menyampaikan sesuatu, karena setiap yang kita sampaikan akan berdampak, sehingga menyampaikan sesuatu yang tidak ketahui lalu kita anggap sebagai sebuah kewajaran sejatinya menunjukkan bahwa kita tidak berranggung jawab.

Semoga bermanfaat !

Surabaya, 28 Mei 2018

*Anggota Dewan Pendidikan Jatim dan Staf Pengajar di Ilmu Komunikasi Untag 1945 Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here