Catatan Oase Kehidupan #135: Hari Hari Bagi Anak

0
94
Foto anak kecil bermain dengan kelinci diambil dari dokumen pribadi abinya tafakur

KLIKMU.CO

Oleh: M Isa Anshori*

Hari ini saya mendapatkan postingan dari Sahabat WA ada seorang anak yang mohon bisa diadobsi karena orang tuanya tidak bisa merawat disebabkan kondisi keluarga. Saya sih sejatinya berniat membantu merawatnya, tapi tentu saja tidak harus kemudian si anak diadobsi, bagi saya masih meyakini bahwa pengasuhan terbaik anak adalah keluarga.

Hal yang sama juga saya membaca data kekerasan anak yang masuk di Lembaga Perlindungan Anak ( LPA ) Jatim, tercatat bahwa kekerasan seksual dan kekerasan fisik serta penelataran menjadi persoalan serius yang dihadapi oleh anak. Bahkan LPA Jatim mencatatnya angka tertinggi kekerasan anak terjadi di rumah, sekolah dan di Jalanan. Potret ini menunjukkan bahwa sejatinya agak susah mendapatkan tempat yang nyaman bagi tumbuh kembangnya anak.

Lalu apa yang harus dilakukan?

Kita semua masih yakin bahwa keluarga, sekolah dan masyarakat merupakan pilar penting bagi tumbuh kembangnya anak. Sehingga hal yang perlu dilakukan adalah merangkai hubungan pengasuhan bagi kepentingan terbaik anak. Hubungan pengasuhan itu harus dirangkai bagaimana mengkaitkan apa saja yang dilakukan dirumah dilanjutkan disekolah dan apa saja yang belum tuntas dilakukan disekolah dapat dilanjutkan dirumah. Sehingga antara rumah dan sekolah terjadi keberlanjutan pengasuhan. Lalu bagaimana dengan antara rumah dan sekolah? Nah disinilah negara wajib hadir.

Kehadiran negara dengan aparatnya merupakan bentuk pemberian rasa aman kepada masyarakat terutama anak anak, pemberian rasa aman itu tentu saja harus disertai kemampuan mengedukasi masyarakat. Edukasi yang dimaksud adalah kepekaan terhadap orang lain sehingga ada empati dan tanggung jawab menciptakan ketertiban. Masyarakat akan selalu merasa terlibat dan memiliki menciptakan suasana yang aman bagi kepentingan dirinya dan orang lain.

Merebut tata ruang untuk kenyamanan anak

Merebut tata ruang kota untuk kenyamanan anak merupakan hal penting bagi terciptanya kota yang layak anak. Merebut tata ruang haruslah dimaknai sebagai kemampuan menata ruang kota bagi keberlangsungan tumbuh kembang anak yang baik dan bertanggung jawab.

Menciptakan ruang ruang kota bagi tempat bermain dan aktualisasi, tentu merupakan barang yang langkah, utamanya dikota kota besar. Namun kepedulian dan rasa tanggung jawab terhadap anak akan mempermudah terwujudnya tanggung jawab tersebut.

Dimulai darimana?

Saya kira selain rumah adalah sekolah. Sebagai orang yang ” tersesat ” dalam mengurusi pendidikan, saya kira hal yang paling mudah dilakukan untuk mengawal tumbuh kembang anak adalah sekolah. Bagi saya hadir sekolah yang seolah menjadi rumah anak merupakan sebuah keniscayaan. Sekolah rumah anak adalah sekolah yang menghadirkan suasana rumah di sekolah.

Suasana yang dihadirkan adalah bagaimana didalam sekolah semua merasakan sebagai sebuah keluarga. Karena merasa sebagai keluarga, maka guru berposisi sebagai orang tua dan yang lain berposisi sebagai saudara. Pendekatan pembelajaran yang dilakukanpun akan cenderung menjadi proses bimbingan orang tua kepada anak anaknya. Rasa memiliki sebagai orang tua kepada anak akan melahirkan sebuah proses pendidikan yang mengedepankan rasa dan rasio.

Nah alangkah indahnya bila sekolah kita bisa rumah pendidikan yang melayani kebutuhan tumbuh kembang anak. Bukan tidak mungkin bonus demografi kita menuju indonesia emas di tahun 2045 nanti merupakan berkah bagi kemakmuran Indonesia bila pendidikkannya dilakukan secara baik dan mengedepankan perasaan cinta.

Semoga saja !

Surabaya, 23 Juli 2018

*Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak Jatim, Anggota Dewan Pendidikan Jatim dan Pengajar di Fisip Ilmu Komunikasi Untag 1945 Surabaya dan STT Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here