Catatan Sang Kyai: Pemuda Dilema Antara Kehilangan kepercayaan Diri dan Konsistensi Ciri Khas Kepeloporan

0
171
Foto Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur diambil dari google

KLIKMU.CO-

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Sebuah catatan di hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2020, dimulai dari sebuah kalimat yang cukup menghentak jiwa dan raga “Beri saya 10 pemuda, maka aku akan guncangkan dunia” (Bung Karno).

Wahai generasi muda dimanapun engkau berapa, dampak pandemic covid 19 sungguh terasa dan dirasakan hampir seluruh penduduk bumi ini, tak terkecuali bangsa Indonesia. Dampak pandemic tersebut bukan hanya pada aspek ekonomi dan politik, tetapi juga dampak psykologis.

Jika berbicara masalah kaum muda atau yang lebih popular “Pemuda” maka patut kiranya kita mencermati atau merasa prihatin, bahwa dampak psykologis pandemic adalah terjadinya depresi, kecemasan, keputus asaan, bahkan hilangnya rasa percaya diri.

Padahal sejatinya pemuda memiliki karakter kepeloporan, agen perubahan, dan memiliki idealisme yang tinggi. Itu semua akan terejawantah dalam kehidupan nyata manakala kondisi “pemuda” dalam keadaan sehat jasmani dan ruhani, terpenuhi kebutuhan primernya, serta adanya kesempatan mengaktualisasikan diri.

Usia muda adalah masa yang paling optimal untuk menciptakan sebuah perubahan, karena mereka mempunyai energi yang paling besar, waktu yang longgar, serta visi idealisme tentang perubahan yang tinggi.

Maka wajar, jika para pemuda yang menjadi agen penggerak di hampir setiap perubahan besar di dunia ini, jika kita mengingat perkataan bapak proklamator “Bung Karno” tentang hakikat kaum muda “beri saya 10 pemuda, maka aku akan guncangkan dunia”.

Pernyataan diatas telah meneguhkan kembali akan peran besar pemuda di setiap masanya, dari era revolusi kemerdekaan menuju reformasi hingga era millennial yang saat ini telah memasuki kehidupan new normal, maka peran penting pemuda dalam mengusung perubahan sebagai garda terdepan dalam mengkampanyekan gerakan untuk penanggulangan wabah covid 19 senantiasa ditunggu oleh segenap jiwa manusia.

Saat ini wajah dunia memang sudah mulai berubah, di kehidupan new normal saat ini, pemuda yang kerap disebut sebagai generasi milenial saat ini mereka sangat mudah menggerakkan opini tentang kesehatan, mereka dapat dengan mudah menyebarluaskan info tentang protokol kesehatan melaui kanal-kanal media sosial yang ada.

Menurut penelitian, gen z atau pemuda milenial saat ini memang memiliki karakter digital native atau orang yang hidup dengan teknologi digital. Di tengah situasi new normal, selayaknya elemen pemuda yang ada di masyarakat turut berperan aktif sebagi motor penggerak dalam menggaungkan protokol kesehatan guna pencegahan covid 19. Dengan kata lain peran para pemuda sebagai agent of change di tengah perubahan dunia sangat dibutuhkan.

Oleh karena itu, sebagai generasi penerus bangsa, pemuda generasi millennial di Indonesia tidak boleh kalah dalam persaingan dengan anak-anak muda dari negara lain. Pendidikan yang tinggi saja ternyata tidak cukup, anak muda Indonesia zaman now harus dibekali dengan berbagai pengalaman dan soft skills yang baik. Nah, menjadi pribadi yang kreatif, aktif, dan inovatif tentu harus dimiliki dalam jiwa anak muda. Itu adalah syarat utama bagi generasi millennial untuk dapat bersaing dan menghadapi berbagai tantangan di dunia yang semakin dinamis ini.

Solusi Atas dilema Hilangnya Kepercayaan diri dan Konsistensi Ciri khas Kepeloporan Pemuda.

Pertama, Bersikap Terbuka Terhadap Berbagai Pengalaman Baru. Di dunia yang semakin dinamis dan modern seperti saat ini, pemuda perlu membiasakan diri untuk terbuka dengan berbagai pengalaman baru. Misal, mengikuti berbagai macam aktivitas yang bermanfaat bagi kita, seperti bergabung dengan organisasi sosial keagamaan, menjadi relawan mitigasi kemiskinan dan kebencanaan. Aktivitas-aktivitas tersebut akan melatih pemuda untuk dapat berpikir lebih kreatif dan bergerak lebih aktif.

Kedua, berfikir positif. Allah tidak akan menutup satu pintu kecuali karena Dia membuka pintu yang lebih baik untuk anda. Demikian juga setiap masalah dapat diselesaikan menggunakan penyelesaian spiritual. Belajarlah dari masa lalu, hiduplah untuk hari ini, dan susunlah rencana untuk masa depan. Pemuda harus menjadi penyelesai masalah bukan menjadi bagian dari masalah.

Ketiga, Membangun Ide dan Visi ke Depan. Pemuda harus mampu mengembangkan ide-ide kreatif yang ada di benaknya. Hal ini bisa memulai dengan ide-ide yang sederhana terlebih dahulu. Siapa tahu dari ide yang sederhana tersebut, dapat membentuk sebuah startup baru yang dapat memecahkan masalah-masalah yang ada sekitar kita. Bahwa yang namanya “idealisme’, suatu pemikiran tentang dunia utopia, merupakan hal penting yang membuat manusia tetap mempunyai semangat dan harapan untuk tetap hidup dan berjuang demi dunia yang lebih baik. Dunia utopia memang seperti mimpi. Tapi percayalah bahwa mimpi yang terukur dan dikombinasikan dengan pemikiran serta semangat positif dapat mengubah dunia. Pada saat kita berhenti bermimpi, kita berhenti berusaha, maka kita akan mati.

Keempat, Membangun “self Confident” yakni kepercayaan diri. Pemuda tidak boleh merasa canggung, malas, ragu dan cemas menghadapi problem kehidupan. Membangun kepercayaan diri bisa dilakukan dengan pendekatan secara vertical kepada Allah swt berupa ibadah dan membiasakan amalan-amalan sunnah.

Kemampuan berinteraksi sosial secara horizontal juga menjadi bagian penting seorang pemuda. Ibaratnya, di malam hari setiap pemuda menjadi “rahib”, ahli ibadah (shalat dan tartil qur’an), siang hari menjadi prajurit Tangguh siap berperang.

Kelima, Mengembangkan nilai-nilai kepeloporan. Di sinilah peran pemuda, sebagai sosok yang muda, yang dinamis, yang penuh energi, yang optimis, diharapkan untuk dapat menjadi agen perubahan yang bergerak dan berusaha untuk mengubah sesuatu yang utopia menjadi sebuah kenyataan. Hal ini membutuhkan semangat kepeloporan. Pemuda, diharapkan bisa membawa ide-ide segar, pemikiran-pemikiran kreatif dengan metode thinking out of the box yang inovatif, sehingga dunia tidak melulu hanya dihadapkan pada hal-hal jaman old yang itu itu saja dan tidak pernah berkembang.

Dengan kata lain pemuda diharapkan menjadi pemimpin masa depan yang lebih baik dari pemimpin masa kini. Sejarah mencatat dengan tinta emas, peristiwa sumpah pemuda yang melahirkan kata “Indonesia” adalah hasil dari kepeloporan anak muda (pemuda).

Keenam, Berintegritas yakni memiliki basis moral atau akhlaqul karimah. Berintegritas bikan hanya soal perilaku keseharian tetapi dalam pengertian yang lebih luas. Berintegritas dalam bidang ekonomi, kemasyarakatan, bahkan dalam dunia politik. Selama masih ada yang namanya “negara”, politik juga akan selalu ada. Kata “politik” hampir identik dengan “perebutan kekuasaan demi jabatan dan uang”. Akibatnya, banyak anak muda berpotensi menghindari dan tidak peduli dengan politik. Pada saat kancah politik dan lembaga negara dikuasai oleh orang-orang yang tidak berkualitas ini, semakin orang-orang yang berkualitas menjauhi area tersebut. Hal ini terjadi terus menerus dan menjadi lingkaran setan.

Generasi muda harus bisa bertindak sebagai change agent dan memutus lingkaran setan tersebut. Seperti yang dikatakan Mahatma Gandi, “Be the change you wish to see in the world “.

Jangan mengandalkan orang lain untuk melakukan perbaikan, tapi kita harus mau turun tangan untuk melakukan perbaikan yang kita inginkan.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here