Cegah Dini Ekstremisme, Maarif Institute Beri Pelatihan Pemuda dan Perempuan

0
98
Suasana webinar Pelatihan Penguatan Kapasitas untuk Pemuda dan Perempuan yang diselenggarakan Maarif Istitute. (Moh. Shofan/Klikmu.co)

KLIKMU.COMaarif Institute bekerja sama dengan P3M menyelenggarakan Pelatihan Penguatan Kapasitas untuk Pemuda dan Perempuan. Kegiatan yang dilakukan melalui webinar ini berlangsung selama dua hari pada 20-21 September 2021.

Ada sejumlah narasumber yang hadir. Di antaranya, Pradana Boy (UMM Malang), Abd. Moqsith Ghazali (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Neng Dara Affiah (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), dan Imam Malik Ridwan (School of Social Sciences Western Sydney University NSW).

Direktur Eksekutif Maarif Institute Abd. Rohim Ghazali mengatakan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan skill peserta dalam penguatan toleransi dan pencegahan ekstremisme kekerasan.

“Pelatihan ini didesain untuk memperkuat kapasitas kepemudaan dan sayap perempuan dalam upaya penguatan toleransi agar menjadi penangkal tumbuhnya radikalisme atas nama agama, politik, ras, atau apa saja yang didasari perbedaan. Dukungan penguatan kapasitas ini akan membantu untuk memperkuat NU dan Muhammadiyah dalam mengarusutamakan Islam wasathiyah di Indonesia,” jelas Rohim.

Dalam paparannya, Pradana Boy mengungkapkan pentingnya gagasan Islam yang memihak kemanusiaan, namun dalam skala yang lebih global. Setidaknya diseminasi pelbagai etiko-religius seperti moderatisme Islam, demokrasi, pemerintahan yang baik, hak asasi manusia, keadilan sosial dan ekonomi, serta keterlibatan akan kemajuan pengetahuan, sains dan teknologi, merupakan jalan yang mampu mengatasi segala krisis kemanusiaan global.

“Seperti perang, terorisme, radikalisme, ekstremisme keagamaan dan hegemoni-dominasi ekonomi, serta merebaknya kemiskinan dan ketertinggalan taraf pendidikan,” terang asisten rektor UMM itu.

Abd. Moqsith Ghazali menambahkan, seorang pemikir muslim tidaklah cukup beragumentasi dengan dalil-dalil teologis. Akan tetapi harus didukung oleh dalil-dalil historis.  Nah, nilai ideal teologis itu dimanifestasikan dalam ruang dan waktu.

Akar-akar konflik antaragama, menurutnya, tidaklah disebabkan oleh asumsi teologis penganutnya. Tapi lebih banyak disebabkan oleh permasalahan sosial ekonomi politik yang tidak selesai di antara mereka.

“Negara Indonesia memiliki penduduk yang pluralistis dari berbagai suku, bangsa, bahasa, agama, dan lain-lain tentu sangat dibutuhkan untuk memupuk sikap saling menghargai dan menghormati satu sama lain untuk menumbuhkan kehidupan yang lebih baik sesuai dengan Qs Al-Hujurat ayat 13 bahwa Allah menciptakan manusia dari jenis laki- laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku dan tujuannya untuk saling mengenal,” jelas Moqsith.

Sementara narasumber lainnya, Neng Dara Affiah dan Imam Malik, menyampaikan pesan yang hampir sama: pentingnya pemahaman dan penerapan toleransi dalam kehidupan generasi milenial. Sebab, generasi ini merupakan agen dari sebuah perubahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Rencananya, pelatihan ini diikuti 50 peserta dari lima wilayah program: Makasar, Bandung, Malang, Bogor, dan Surakarta. Peserta terdiri atas sayap pemuda dan perempuan di lingkungan organisasi NU (Fatayat, GP Anshor, dan PMII) dan Muhammadiyah (Nasyiatul Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, dan IMM). Di samping peserta dari NU dan Muhammadiyah, pelatihan ini juga akan diikuti oleh wakil dari ormas-ormas Islam lainnya. (Moh. Shofan/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here