Cerita Dua Sahabat Nabi: Nikah Itu Diniatkan Berjuang di Jalan Allah

0
190
Manajer Klik JodohMu Fery Yudi memberikan motivasi kepada peserta Gathering PENA 2019.

KLIKMU.CO – “Ketika akad nikah sudah diikrarkan, menikmati nikmatnya dunia, menunaikan hak dan kewajiban sebagai seorang suami istri, dunia hanya milik berdua yang lain ngontrak. Tetapi, ketika panggilan jihad dikobarkan, maka langsung tancap gas.”

Demikianlah yang disampaikan Manajer Klik JodohMu Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya Fery Yudi Antonis Saputro MPdI saat memberikan motivasi kepada peserta Gathering PENA 2019 di Aqro Mulya Prigen, Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu-Ahad (30/11-1/12/2019).

Fery Yudi mengatakan, ada dua cerita dari sahabat nabi yang bisa menjadi inspirasi dalam kegiatan Gathering PENA malam itu. “Suatu ketika nabi bertanya kepada Julaibib. Kamu itu kan sudah berusia, kok belum punya pasangan?”

“Nabi, saya ini siapa? Nasab tidak jelas, harta tidak jelas, wajah remeng-remeng,” katanya menirukan Julaibib, disambut ketawa peserta.

“Tapi, kamu siap nikah?” Tanya Nabi. “Siap,” jawab Julaibib.

Nabi mendatangi shabat Anshor, “Assalaamualaikum,” kata nabi. “Waalaikumussalam,” jawab dia. “Ada apa, Nabi,” tanyanya. “Saya mau melamar putrimu,” kata nabi. “Siap,” jawab sahabat Anshor. “Tapi bukan untuk saya,” kata nabi. “Lalu untuk siapa?” tanya dia. “Untuk Julaibib,” kata nabi.

“Sebentar, saya tanyakan dulu sama nyonya,” ujarnya, lalu masuk ke dalam.

“Bu, nabi melamar anak kita,” kata sahabat Anshor. “Masya Allah, terima, Mas,” kata istrinya sangat senang. “Sebentar, kata suaminya, “Bukan untuk nabi, tapi untuk Julaibib.”

“Apaa,” katanya kaget. “Ojok, Mas, ojok.” “Terus bagaimana bilangnya kepada nabi,” kata suaminya.

Pada saat sahabat Anshor berjalan ke depan, sang putri, anaknya, mendengar, “Pak, sampean tadi bilang apa? Saya mau,” kata anaknya. “Temen ta, Nak, ojok, Nak,” kata ayahnya. “Pak, kalau sampean tidak mau menikahkan aku sama Julaibib, saya tidak akan kawin,” kata anaknya. Akhirnya, sang ayah tadi diam.

“Ini Julaibib lho, Nak. Kamu kan tahu Julaibib itu siapa?” Pak, ketika nabi yang memilih, maka di situ penuh dengan kemuliaan,” kata anaknya. “Ya wis, bismillah,” kata ayahnya. Kemudian bilang ke nabi, putri saya mau.

Kemudian, nabi menyampaikan ke Julaibib. “Bib, besok kamu nikah,” kata nabi. Julaibib kaget, “Aku ngeluh nabi tidak punya mahar,” ucapnya. Maka, dia dikasih uang oleh nabi. “Ini uang buat beli mahar,” kata nabi.

Pada suatu hari nabi menyeru kepada para sahabat untuk berjuang di jalan Allah. Julaibib mendengar seruan itu untuk mengangkat senjata memerangi kafir. Julaibib bimbang, uang ini dibuat beli mahar atau buat beli alat perang, tapi kecintaan terhadap manusia, makhluk ciptaan Allah, itu dipandang rendah oleh Julaibib. Dia lebih cinta kepada Allah.

Kemudian, dia pergi ke pasar beli alat perang ketimbang beli mahar, sebuah pilihan yang luar biasa. Akhirnya apa, karena kecintaannya kepada Allah, dan keimanan, dia belikan alat perang dan ikut perang.

Selesai pertempuran, nabi bertanya kepada para sahabat. “Siapa yang sahid hari ini?” tanya nabi. Si fulan, si fulan, si fulan. “Siapa lagi yang sahid hari ini?” Si fulan, si fulan, si fulan. “Siapa yang sahid hari ini?”

Karena si Julaibib ini memang tidak begitu terkenal. “Cari Julaibib,” perintah rasul. Baru sahabat yang lain mencari Julaibib.

Di antara tumpukan pejuang-pejuang Allah yang gugur terdapat Julaibib, lalu disampaikan kepada nabi dan nabi mendatangi jenazah Julaibib dan berkata “Julaibib adalah aku dan aku adalah Julaibib,” kata Nabi.

Ketua Majelis Pelayanan Sosial PDM Surabaya itu lantas menyampaikan permintaan untuk menikah karena nasabnya, karena hartanya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Ada satu selain 4 ini, yakni yang sekufu.

“Ketika akad nikah sudah diikrarkan, menikmati nikmatnya dunia, menunaikan hak dan kewajiban sebagai seorang suami istri, dunia hanya milik berdua yang lain ngontrak. Masyaallah, tetapi ketika panggilan jihad dikobarkan Hansalah sifat kuping, langsung tancap gas,” katanya.

Ketika sahabat semua yang diamanahi oleh rasul, jangan turun, jangan berebut ghanimah, ketika pasukan pemanah tergiur oleh harta rampasan. Hansalah berkata, “jangan turun,” melihat pasukan muslim lengah, tergiur oleh harta, dikepung, Hansalah turun dan ditombak, bangun ditombak lagi.

“Ketika berbicara tentang konsep nikah, maka itu diniati berjuang di jalan Allah, memperbaiki dakwah. Semoga dua cerita ini menjadi inspirasi kita semua,” ujarnya.

“Pemuda dan Nasyiah antara outside dan inside itu sama-sama beautiful. Saya lihat warga-warga ahli jannah, yang siap untuk melahirkan kader-kader muda Muhammadiyah, ojok KB. Siap? tanyanya. “Siappp,” jawab peserta penuh semangat. (Habibie/Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here