Cerita tentang Pemilik Anjing di Australia

0
115
Haidir Fitra Siagian adalah dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, saat ini sedang bermukim di Australia.

Oleh: Haidir Fitra Siagian

KLIKMU.CO

Bagi orang warga Australia, memelihara anjing adalah salah satu kelaziman. Tidak sampai lazim saja, bahkan lebih dari itu. Bahkan sudah pada sampai kepada tingkat kebutuhan dan keharusan yang boleh jadi memiliki nilai yang amat berharga.

Memelihara anjing, bisa jadi sudah seperti memiliki anak. Jika kita memiliki anak, akan dirawat, dijaga, diberikan makanan, diobati jika sakit, dibawakan makanan, dibawa jalan-jalan dan seterusnya. Demikian pula halnya bagi orang Australia yang memelihara anjing. Jika kita berkendara di jalan raya, sering terlihat kepala anjing nongol dari jendela mobil. Artinya, tuannya sedang membawanya pergi jalan-jalan keliling kota. Anjing yang berada di rumah terus-menerus, akan ngamuk.

Beberapa kali di papan pengumuman, ada warga lokal yang menawarkan pekerjaan dengan upah $20 per jam atau sekitar dua ratus ribu Rupiah. Jika dua atau dua setengah jam, maka menghasilkan sekitar lima ratus ribu Rupiah. Pekerjaannya cukup mudah. Membawa satu atau dua ekor anjing jalan-jalan di kawasan kampung atau pinggir laut. Kemungkinan sang tuan tidak sempat membawa anjingnya jalan-jalan, sehingga dia mencari orang lain dengan upah yang cukup lumayan. Jika ada anjing yang tidak dibawa jalan-jalan dalam beberapa hari, maka anjing itu akan stres atau mengamuk.

Memelihara anjing di sini, memang adalah kebebasan, kegembiraan dan kebahagiaan. Bukan hal yang aneh jika ada orang yang tidur semalaman dengan anjingnya. Terutama bagi mereka yang memilih untuk tidak berkeluarga atau mereka yang merasa lebih bahagia tidak punya keturunan.

Satu antara kelebihan orang Australia dalam memelihara anjing adalah dalam menerapkan etika. Coba bayangkan, memelihara anjing saja harus dengan etika. Contohnya, tidak boleh membawa anjing ke mall, kampus, taman-taman khusus, maupun naik bus. Ada kalanya dibolehkan, jika si anjing itu dipakai untuk tujuan tertentu, misalnya menemani tuannya yang kurang penglihatannya.

Ada satu etika memelihara anjing yang saya lihat sendiri kemarin. Dalam perkalanan dari Wollongong ke Lake Tobourie NSW, sekitar tiga jam naik mobil. Ini adalah perjalanan dengan jalan raya yang mulus ke arah Melbourne, masih kurang 800 km lagi. Kami bersama tujuh keluarga KKSS Sydney, akan mengadakan camping selama empat hari.

Dalam perjalanan tersebut, kami sempat singgah sejenak di rest area, kilometer 186 dari arah Nawra. Sambil meluruskan punggung dan menghentakkan kaki dibarengi dengan makan pisang goreng yang dibawa ibunya anak-anak dari rumah. Saat itu, saya melihat sebuah mobil berhenti untuk istirahat juga. Dua orang ibu-ibu setengah tua, turun dari mobil. Seekor anjing ikut pula turun atau diturunkan. Saya pikir kedua ibu muda tersebut mau ke toilet atau mau istirahat sejenak. Bukan. Saya salah duga.

Seorang ibu itu, menuntun anjingnya jalan sambil memerintah sesuatu. Hingga berjalan sekitar sepuluh meter. Rupanya si anjing mau pipis dan buang air besar. Jika di rumah, tentu anjing bisa saja masuk toilet khusus untuk hal itu. Tapi kalau di mobil? Tentunya sang tuan sudah paham gerak-gerik anjingnya. Sudah tahu apa akan diinginkan si anjing.

Itulah sebabnya mereka mencari rest area. Memberikan kesempatan kepada si anjing untuk menumpahkan hasratnya. Anjing tidak mau buang air sembarangan apalagi dalam mobil. Tuan, tidak mau menghentikan mobilnya di sembarang tempat. Harus ditempatkan yang telah ditetapkan.

Satu hal yang membuat saya terkesima adalah etika yang diterapkan sang tuan. Begitu si anjing selesai buang air besar di rerumputan, siap sang tuan menambil kantong plastik dan sarung tangan. Itu kotoran anjing dipungut dan dia masukkan ke dalam kotak sampah yang sudah tersedia.

Itulah satu etika yang baik dalam memelihara anjing. Tidak membiarkan kotoran hewan kesayangannya menjadi sumber masalah bagi orang lain. Bagaimana kalau kotoran itu tetap di situ? Bisa jadi menyebabkan polusi udara. Bisa diinjak orang yang lewat. Pun mengganggu pemandangan yang indah.

Suatu sikap yang sangat baik. Satu etika yang boleh dikata, jarang diterapkan pemilik anjing di kampung kita.

Wassalam

Haidir Fitra Siagian

Lake Tobourie, NSW, 3/4/2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here