Cermin Diri #10: Sopir Berdzikir

0
160
Foto jemari berdzikir diambil dari kata kita Islam

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Sebagai imam shalat harus sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW. Seperti disebutkan dalam hadis : “Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat”.

Namun ada seorang jamaah yang pekerjaannya menyetir angkutan desa sejak dulu yang rajin ke masjid sepulang umrah, sekaligus ahli dzikir merasa tidak mantap dengan apa yang dilakukan imam. Sebab ia tidak membaca basmalah secara keras (jahr).

Sang imam yang mendengar keluhan dari salah satu warganya berusaha mendiskusikan bersama para mubaligh lainnya. Bahkan ia mencari buku referensi atau rujukan yang cocok.

Rupanya buku shalat sesuai tuntunan nabi SAW oleh Syakir Jamaluddin, MA (2016) bisa menjawab persoalan tersebut. Dikatakan bahwa para ulama berbeda pendapat dalam membaca basmalah saat membaca surat al fatihah ketika shalat bersuara agak keras (magrib, isya, subuh).

Pertama, imam Maliki lebih memilih tidak membaca basmalah sama sekali dalam surat al fatihah. Sebab surat al fatihah saat diturunkan di Makkah tidak termasuk basmalah. Tapi adapula yang berpendapat al fatihah turun di Madinah dan basmalah sudah termasuk di dalamnya. Dengan kata lain al fatihah turun 2 kali di Makkah dan Madinah.

Kedua, menurut imam Syafii basmalah wajib dibaca dengan keras. Mengingat hadis dari Nu’aim Mujmir, katanya: “Aku pernah shalat di belakang Abu Hurairah ra. Maka ia membaca bismillahirrahmanirrahim, lalu membaca al fatihah…” (HR. Nasai). Cuma hadis ini lemah.

Ketiga, sahabat utama dan mayoritas ulama memilih untuk melirihkan (pelan, terdengar tapi samar) bacaan basmalah.
Anas bin Malik dan Abdullah bin Mughaffal Muzani ra. Katanya: “Aku pernah shalat bersama Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar dan Usman, aku tak mendengar satupun di antara mereka yang membaca bismillahirrahmanirrahim”.(HR. Muslim).

Selanjutnya Ibnu Qayyim mencoba mengkompromikan kedua hadis di atas dengan mengatakan bahwa keduanya pernah dilakukan Rasulullah saw, hanya saja beliau lebih banyak melirihkan bacaan basmalah daripada mengeraskannya.

Begitu pula dengan sikap tarjih Muhammadiyah, bahwa untuk tetap membaca basmalah. Bacaan secara sirr (terdengar tapi samar) lebih utama daripada menjaharkan (mengeraskannya), meskipun membaca jaharjuga boleh. Hal itu bisa dilihat hasil Munas ke 27 tahun 2000 di Malang.

Jadi membaca basmalah ada yang lirih, keras, dan bahkan ada yang tidak membacanya. Silahkan pilih yang sesuai dan harus saling menghargai serta menghormati. Alias jangan gunakan ujaran kebencian dan kekerasan sesama ahli shalat.

Oleh karena itu sang imam kadang tetap baca basmalah untuk menghargai jamaahnya yang beragam pemahamannya. Sehingga jumlah orang yang rajin shalat terus bertambah.

*PRM Takerharjo Solokuro dan guru SMP Karanggeneng Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here