Cermin Diri #103: Sastrawan Harapanku

0
310
Foto diambil dari cover buku cermin diri terbitan KLIKMU.CO

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Komunitas menulis KBM (Kita Belajar Menulis) memberiku jadwal setoran tema mingguan yakni “harapan sastra” pada tanggal 8 Januari 2020. Pas ulang tahunku yang keempat puluh enam. Sehingga segala daya upaya membaca bahan pustaka wajib aku lakukan.

Diantaranya womantalk.com membuktikan secara ilmiah bayi kelahiran Januari berpeluang menjadi selebriti. Berdasarkan hasil penelitian journal of social science tahun 2013 terhadap 300 artis. Sementara daftar indeks 500 perusahaan saham terbesar di dunia (1992-2009) para CEO atau bos paling banyak terlahir Januari. Sedang peneliti kantor statistik nasional Inggris menganalisis 19 profesi. Ditemukan yang lahir Januari prosentasi terbesar sebagai dokter. Adapun ahli kesehatan Universitas Colombia melakukan riset 1.75 juta jiwa dan 1.668 data pasien yang lahir Januari beresiko rendah sakit pernafasan dan reproduksi. Sebaliknya studi di Austria dan Jerman dari 13.000 orang kidal tapi genius terlahir Januari.

Setelah membaca riset di atas, aku kok tidak termasuk salah satunya. Aku tidak kidal, bukan dokter, apalagi seorang bos atau selebriti. Bagiku menjadi apapun aku syukuri. Yang terpenting sehat wal afiat.

Selanjutnya aku membaca tulisan tentang sastra. Meliputi kata-kata, gaya bahasa yang dipakai dalam kitab suci, ilmu pengetahuan, primbon, ramalan, hitungan, dan huruf dari berbagai bangsa. Temanya ada yang universal, berahi, hiburan, bersifat ringan, maupun serius. Ditulis dalam bahasa Indonesia klasik atau kontemporer.

Adapula sastra lisan seperti pantun, nyanyian rakyat, dan cerita rakyat. Selain itu sastra yang berkembang setelah adanya pertemuan dan pengaruh kebudayaan Barat. Pelarian cerita rekaan, khususnya timbul sesudah Perang Dunia Pertama dan Kedua, yang mengisahkan usaha membebaskan diri dari kamp tawanan atau penjara. Bahkan pengasingan sastra yang memakai gaya bahasa yang menonjol atau menyimpang dari yang biasa atau menggunakan teknik cerita yang baru. Juga karya sastra yang dianggap populer, baru dikenal tahun 1970-an, dan lebih cenderung menggunakan bahasa sehari-hari di kalangan remaja.

Disamping itu protes sastra yang berisi protes (sosial, politik, ekonomi). Lebih dari itu kategori sastra yg mencakupi lagu rakyat, balada, dongeng, ketoprak, peribahasa, teka-teki, legenda dan tebakan.

Akhirnya hati kecilku berbisik ingin jadi sastrawan. Alias ahli sastra. Sekelas pujangga; pengarang prosa dan puisi. Jika terlalu muluk-muluk, ya setidaknya tergolong orang pandai-pandai bin cerdik cendekia. Orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat Alquran, lalu menyungkur sujud, bertasbih dan memuji Tuhan serta tidak menyombongkan diri.

*Penulis buku dan guru di MAM 8 Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here