Cermin Diri #108: Virus Kuras Fulus

0
431
Foto diambil dari GWA

KLIKMU.CO

Oleh: Mushlihin*

Di bulan Februari 2020 masyarakat dunia dihebohkan virus corona. Dua minggu berkembang di tubuh dan menimbulkan rasa sakit. Jenis penyakit menular ini merenggut ratusan korban jiwa. Kebanyakan terjadi di Cina. Sehingga masing-masing kepala negara berjibaku memulangkan warganya. Termasuk tetanggaku yang sedang kuliah jalur mandiri di Jiangsu Shiping College Tiongkok. Lantas Ia diperiksa dinkes. Didampingi muspika dan awak media di rumahnya yang sangat sederhana. Alhamdulillah hasilnya negatif alias bebas dari wabah.

Sehingga tidak perlu overaction bin berlebihan dalam menanggapinya. Misalnya menyebut virus corona sengaja dicipta di era pendusta. Karena pas ada kemiripan dalam buku cara cepat bisa membaca Alquran. Adapula yang menduga disebabkan pola makan dan minum. Bal geduwal kodok kadal diuntal. Tidak peduli menjijikkan atau haram. Namun ada yang membantah, mengapa orang gila yang makan apa saja kok kebal? Jadi penyebab lainnya adalah faktor pikiran dan rencana jahat. Yakni membumi hanguskan warga muslim. Mengutip surat Al Fatir ayat 43, rencana yang jahat itu hanya akan menimpa orang merencanakan sendiri. Wallahu a’lamu bissawab.

Tak kalah penting yang patut dibantu pemerintah ialah membasmi tikus sawah dan ulat tentara. Hama yang mendatangkan kerugian. Biji padi maupun jagung yang ditanam dikeluarkan dari tanah, meski diberi obat. Bila ada yang tumbuh, langsung dibabat dalam sekejap. Padahal biaya pekerja, bibit dan obat sangat mahal. Sementara saat panen harganya murah. Untung para petani tabah. Salah seorang dari mereka yang juga pemuka agama menyemangati warganya. Agar tetap bersyukur masih diberi kesehatan. Andaikan diuji sakit, belum tentu cukup hasil panen digunakakan melunasi tagihan rawat inap.

Seperti yang dialami pasien remaja di RSUD. Mahasiswa keperawatan itu merintih kesakitan terkena hepatitis atau radang hati. Tak hanya menghabiskan uang. Tetapi tenaga, waktu, dan meninggalkan aktivitas serta menguras air mata anggota keluarga. Makan tak enak dan tidur tak nyenyak walau di kamar vvip.

Di zaman nabi Musa kejadian luar biasa justeru lebih parah. Angin topan, wabah belalang, kutu, katak dan air minum berubah darah. Sebagaimana Firman Allah :
فَأَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِمُ ٱلطُّوفَانَ وَٱلۡجَرَادَ وَٱلۡقُمَّلَ وَٱلضَّفَادِعَ وَٱلدَّمَ ءَايَٰتٖ مُّفَصَّلَٰتٖ فَٱسۡتَكۡبَرُواْ وَكَانُواْ قَوۡمٗا مُّجۡرِمِينَ
Maka Kami kirimkan kepada mereka topan, belalang, kutu, katak dan darah (air minum berubah menjadi darah) sebagai bukti-bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.

Surat Al-A’raf ayat 133 di atas secara gamblang membuktikan secara rinci bahwa wabah itu terjadi akibat kesombongan. Menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Menghargai diri secara berlebihan. Alias congkak dan pongah serta sok suci.

Selanjutnya wabah umumnya menimpa kaum yang bergelimang dosa. Perbuatan yang melanggar hukum Tuhan. Mengganjal di hati dan amat takut diketahui.

Nah, supaya wabah mereda berdoalah. Firaun yang mengaku dirinya sebagai Tuhan saja panik dibuatnya. Lalu merengek pada Musa biar Allah tidak murka dan memberangus azab. Permohonannya pun dikabulkan. Setelah itu malah ingkar. Ya akhirnya ditenggelamkan ke laut merah.

Dengan demikian virus, wabah, penyakit dan segala penderitaan yang berakibat hilangnya harta dan nyawa bukan berarti Tuhan menzalimi hamba. Akan tetapi lantaran menanggung perbuatan jahat yang dilakukan dirinya sendiri.

*Guru MAM 8 Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here