Cermin Diri #12: Pasutri Sejati

0
215
Foto pasutri diambil gema pecinta shalawat

KLIKMU.CO

Oleh : Mushlihin*

Sami dan Siti adalah pasangan suami istri yang patut diteladani. Meskipun keduanya tidak sekolah tinggi. Rumahnya di pinggir kali. Ibu yang sangat dicintai telah mati. Pekerjaannya hanyalah buruh tani dan memelihara sapi.

Sami sejak kecil berpisah dengan ayahnya. Ia hidup menderita. Bersama ibunya tercinta hingga dewasa.

Setelah itu ia menikah dengan gadis jelita. Baru seusia jagung, rumah tangganya ditimpa prahara. Sami bercerai dan pulang ke rumah ibunya.

Sami kemudian nikah dengan Siti. Ia harus meninggalkan ibunya seorang diri. Lantaran ikut pindah ke rumah keluarga istri.

Sami dan Siti dikaruniai anak lelaki. Buah hati satu-satunya dikasihi, dirawat dan dibiayai sekolahnya walau rela menjadi kuli. Sayang anak tunggalnya tidak sudi melanjutkan ke Perguruan Tinggi.

Ujian berikutnya Sami mengalami sakit cukup parah. Seluruh harta benda dan sawah ibunya hampir habis tak tersisa agar sehat seperti sedia kala.

Selanjutnya, sakitnya berangsur sembuh. Semangat menghidupi keluarga, dibantu istri setia begitu menggebu.Justru gantian ibu yang disayangi, terserang paru-paru.

Ibunya tak bisa diselamatkan. Berpulang ke rahmatullah dengan tenang
Semoga mendapatkan ampunan.

Sami dan Siti terpaksa menempati rumah ibunya yang sangat sederhana. Mereka bekerja keras, banting tulang dari pagi sampai petang. Mengolah sedikit sawah ladang warisan. Tapi, tetap tidak lupa sembahyang.

Mereka juga membeli sapi. Dirawat sendiri dan kadang dibantu anak istri. Mencari rumput, makani lan ngombeni dengan sabar sekali.

Sesudah itu, mereka berdua masih sempat dan menerima untuk mengolah sawah ladang orang lain. Sementara anaknya pergi ke Malaysia sebagai tenaga kerja asing.

Kerja keras mereka berhasil. Perbaikan rumah kecil mungil mulai dicicil. Membeli bahan bangunan dan material serta batu krikil.

Rumah idaman sudah mereka punyai. Ayahnya yang dulu meninggalkannya sudah kembali. Bagaikan baiti jannati.

Sapinya berkembang biak dan hasil panennya melimpah. Seperti cabe, jagung, kacang dan gabah. Baik yang miliknya sendiri maupun menyewa. Semua orang ingin paroan sawah padanya.

Selain itu, kedermawanan dan kesederhanaan serta kesetiakawanan perlu ditiru berbagai kalangan.

Contohnya,suatu waktu pohon jambu airnya berbuah, semua tetangga diberinya. Lalu saat panen padi, pemilik sawah dipilihkan yang terbaik sebagai hasil paroannya. Ditambah ketika diajak membantu sanak famili dan kawan, ia rela meninggalkan pekerjaannya pribadi. Jadi lebih mengutamakan orang lain dari diri sendiri.

Lagipula anak semata wayangnya, pulang selamat dari Malaysia. Membawa uang berlipat ganda. Sebagian dibelikan sepeda dan sebagian lagi untuk biaya nikah dengan wanita sholihah.

Al hamdulillah hari ini, anak mereka akan melangsungkan akad nikah dan pesta sederhana. Didampingi keluarga dan kerabat serta sahabat.

Mohon doa restunya. Sebagaimana doa Nabi Muhammad SAW pada pernikahan putrinya Fatimah az Zahra dengan Ali bin Abi Tholib yakni “semoga Allah menghimpun yang terserak dari keduanya, memberkati mereka berdua dan kiranya Allah meningkatkan kualitas keturunan mereka, menjadikannya pembuka pintu-pintu rahmat, sumber ilmu dan hikmat serta pemberi rasa aman bagi ummat”.

Akhirnya tak lupa pula kami berdoa kepada pengantin

بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْكَمُاَ فِيْ خَيْرٍ.
“Semoga Allah memberkahimu di waktu senang dan di waktu susah serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.”

* Penulis tinggal di Takerharjo Solokuro dan guru SMP Karanggeneng Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here